Agama dan Pendidikan

Mantan Bos Pacific TV Jusak Kereh Resmi Sandang Dua Gelar Doktor Cumlaude

“Senjata pamungkas gereja yaitu Firman Tuhan dan etika gereja harus dipergunakan secara maksimal. Karena fakta dan realita yang ada, di eropa dan negara barat lainnya saat ini telah banyak generasi muda yang mulai meninggalkan gereja, gereja tutup, karena mereka merasa gereja tidak lagi relevan dengan perkembangan teknologi khususnya AI saat ini,” ujar Jusak.

Dalam hasil penelitiannya, gereja pada umumnya memiliki sikap netral terhadap teknologi, namun belum membangun sikap dan arah yang tegas dalam menjabarkannya.

“Gereja secara praktis hanya menggunakan media sosial dalam hubungan dengan pendeta, pelayanan gereja dan jemaat, padahal teknologi khususnya AI jauh lebih besar manfaatnya dari sekedar hal itu,” jelas Jusak.

Dia menjelaskan pula, hasil penelitiannya dalam perkembangan AI dalam pandangan hukum (UU ITE) dan etika, dimana UU ITE belum mampu menjangkau dan menyelesaikan permasalahan kehidupan masyarakat dalam penggunaan teknologi.

Disisi lain dalam etika budaya, seharusnya kebebasan berpendapat melakukan kritik dimedia sosial, patut mengedepankan nilai-nilai moral dan etika.

Dalam paparannya ,Jusak meminjam perkataan Elon Musk (CEO Tesla dan pendiri ChatGpt openai, dan Space X) bahwa “Ada satu prediksi mengerikan bahwa Artificial Super Intelligen (ANI) berpotensi lebih berbahaya daripada ledakan nuklir”.

“Stereotipikal Dogmatis, adalah garis besar penemuan kebaruan/novelty dalam riset doktor teologinya,” lanjut Jusak.

Melalui riset ini, promovendus mendapatkan apresiasi dari para penguji, hadirin dan bahkan yang menonton lewat live streaming.

Penguji Dr Gernaida Pakpahan memuji bahwa topik disertasi yang diujikan sangat baik karena peneliti mampu melakukan kolaborasi tiga bidang cabang keilmuan sekaligus.

Pujian datang juga dari mereka yang menonton live streaming, antara lain dari Wartawan Senior Ferry Rende yang mengatakan sebagai orang yang pernah rekan sekerja di penyiaran televisi (TVM dan Pacific TV) merasa bangga dengan capaian Jusak Kereh.

“Beliau layak menjadi inspirasi bahwa menempuh pendidikan hingga strata tiga, bahkan sampai dua kali doktor tidak mengenal usia, karena itu Jusak Kereh patut menjadi tenaga akademis dosen dan peneliti dikampus,” ungkap Ferry.

Pada sidang ujian terbuka ini, turut hadir pula Ketua STT Theologi Dr. Frans Pantan, juga istri Jusak Kereh, kedua putra-putri Jusak Kereh, Gabby Kereh dan Joel Kereh, serta keluarga dekat dan kerabat dari Promovendus, dan mahasiswa STT Bethel Indonesia.

“Diharapkan prestasi yang membanggakan di bidang pendidikan yang telah diraih oleh seorang pengusaha, pelayan dan advokat asal Sulut ini, boleh menjadi teladan bagi generasi muda dalam meraih prestasi,” tandas Ferry.

(***/Alfrits Semen)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara