MANADO – Pemerhati Sepakbola Manado, Adolf Wowor SSos, mengatakan, masyarakat Manado bahkan Sulut harus berani ”menggugat” keberadaan Manado United 9 (MU9). Pasalnya, dengan hasil MU9 yang jelek setiap kali bermain, masyarakat wajib mengkritisi keberadaan kesebelasan ini.
”Bukan apa-apa, sekarang yang menjadi persoalan apa kontribusi MU9 terhadap masyarakat, mau jadi kebanggaan daerah kalau melulu, mau jadi kebanggaan masyarakat Minahasa dan Sulut secara umum, yang bermain hampir tidak ada putra daerah (asli Manado) yang bermain, padahal kalau bermain kita semua keluar duit buat beli karcis, ”ujar Adolf kepada beritamanado, Minggu (20/3).
Dengan melihat kondisi ini kata Adolf, dia meminta kepada Ronny Pangemanan (Ropan), untuk mencari, dan memasukkan pemain berbakat yang asli Sulut, untuk bermain di MU9. ”Supaya kita juga sebagai orang Minahasa bangga, bahwa yang bermain bola itu memang anak-anak kita. Jangan sudah pemain luar, pake pemain asing lagi, tapi usianya sudah tua, dan tidak berkualitas. Pertanyaannya apa untungnya bagi rakyat Manado, kalau MU9 begini? tentu tidak ada, ”ujarnya.
Hal senada diutarakan Tonny Missa. Menurutnya, MU9 harus memperhatikan pembibitan, dan pengkaderan pemain-pemain asli Manado. ”Jangan masyarakat Manado hanya jadi objek penderita, dan termanfaatkan di sini, ”kata mantan pemain Unoson Manado ini.
Karena itu, dia berharap dalam pertandingan melawan Semarang United, sore ini di Stadion Klabat, putra daerah harus ada, dan menjadi pilar utama. ”Kalau orang torang (Sulut) yang main pasti lebe semangat, soalnya ini so soal harga diri daerah ley, ”ujarnya.(abm)

Kalau Ropan yang paling tau soal mafia perekrutan berarti yang pertama kali harus diganti ya itu ROPAN nya yang diganti baru yang lainnya … gitu aja kok repot !!!.
Mahasiswa unsrat yg suka demo lebih bagus direkrut di MU, biar kalah tp putra daerah. Drpd bule negro tetap kalah jg
Modus operandi Mafia Rekruitmen Pemain di MU adalah mirip Mafia perekruitan CPNS; calon pemain harus menyetor puluhan juta rupiah. Coba dikonfirmasi ke Ropan, dia paling tahu semuanya. Jadi jangan heran banyak Putra Manado yang berbakat tidak terakomodir di MU. Mafia bola di MU telah banyak memakan korban Putra Manado. Bahkan banyak putra Manado yang mengorbankan waktu dan tenaga untuk ikut seleksi di MU tapi kandas karena ulah oknum Mafia yang hanya menjadikannya sebagai lahan mengeruk kekayaan. Sampai kapan pun jika praktek culas seperti ini tetap terjadi, Sepak Bola Indonesia tidak akan pernah maju.