Bisnis dan Ekonomi

Manado Catat Deflasi -0,01 Persen, Harga Pada Periode COVID-19 Beresiko Stagnan

Manado Catat Deflasi -0,01 Persen, Harga Pada Periode COVID-19 Beresiko Stagnan
Bank Indonesia

Manado, BeritaManado.com — Dua kota pencatatan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulawesi Utara (Sulut) mengalami deflasi pada bulan Mei 2020.

Pada Mei 2020, Kota Manado deflasi tercatat sebesar -0,01% (mtm) sementara Kota Kotamobagu sebesar -0,27% (mtm).

ADVERTISEMENT

Dengan deflasi bulanan Mei 2020 tersebut, inflasi tahunan Manado tercatat sebesar 1,45% (yoy) atau berada dibawah rentang sasaran target inflasi nasional 3±1% (yoy), sementara Kotamobagu berada dalam rentang sasaran inflasi nasional dengan inflasi tahunan sebesar 2,62% (yoy).

Dengan demikian, tingkat inflasi Kota Manado lebih rendah dibandingkan nasional baik secara bulanan, dan tahunan yang masing-masing sebesar 0,07% (mtm), 0,90% (ytd) dan 2,19% (yoy).

Sedangkan pergerakan IHK Kotamobagu hanya lebih rendah secara bulanan dari nasional pada bulan Mei 2020.

Jika dilihat dari kelompok penyusunnya, pergerakan harga di Kota Manado praktis hanya digerakan Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Transportasi.

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau pada Mei 2020 deflasi sebesar -1,66% (mtm) dengan kontribusi deflasi -0,49%(mtm).

Bila dilihat dari komoditasnya, penurunan harga pada kelompok ini terutama disebabkan penyesuaian harga komoditas cabai rawit, beras, tomat dan bawang putih.

Penurunan harga komoditas strategis pada periode permintaan tinggi hari raya besar keagamaan nasional Idul Fitri menjadi fenomena baru di Kota Manado secara khusus maupun Sulawesi Utara pada umumnya.

“Berdasarkan pantauan kami, penurunan harga komoditas strategis terjadi karena adanya peningkatan pasokan komoditas tersebut di pasar di tengah terbatasnya aktivitas ekonomi,” ujar Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulut Arbonas Hutabarat dalam rilis resminya.

Panen raya di wilayah Bolaang Mongondow, dan Provinsi Gorontalo juga menyebabkan stok cabai rawit di pasar meningkat.

Kondisi yang sama juga terjadi pada komoditas tomat yang stoknya tercatat relatif lebih tinggi di Bulan Mei.

Kondisi melimpahnya pasokan di tengah terbatasnya aktivitas ekonomi menyebabkan pergerakan harga stagnan dan cenderung deflatif.

Sementara itu, kelompok transportasi menjadi kelompok yang memberikan tekanan inflasi sehingga deflasi di Kota Manado masih terbatas.

Kelompok Transportasi memberikan tekanan inflasi dengan kontribusi sebesar 0,48% (mtm).

Tekanan inflasi pada kelompok tersebut terutama bersumber dari faktor tarif angkutan udara yang memberikan kontribusi tekanan inflasi sebesar 0,45% (mtm) pada IHK Kota Manado Mei 2020.

Pembatasan penumpang pesawat sebagai langkah implementasi dalam physical distancing dalam pesawat menjadi faktor yang membuat maskapai menaikan harga pada bulan Mei 2020.

Selain tarif AU, kenaikan tarif kendaraan online roda empat dan angkutan darat ikut memberikan tekanan inflasi meskipun belum terlalu besar.

Sama seperti kota Manado, pada bulan Mei 2020 Kota Kotamobagu mengalami deflasi yang cukup dalam dan merupakan deflasi bulanan pertama di Kotamobagu sepanjang tahun 2020.

Deflasi Kota Kotamobagu pada bulan Mei 2020 tercatat sebesar -0,27% (mtm) sehingga menurunkan inflasi tahun kalendernya menjadi sebesar 1,62% (ytd).

Sama seperti Manado, pergerakan harga di Kotamobagu juga digerakan oleh Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Transportasi.

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau memberikan kontribusi deflasi sebesar -0,63% (mtm).

Dilihat dari komoditasnya, penurunan harga kelompok tersebut disebabkan oleh penyesuaian harga komoditas cabai rawit, cakalang diawetkan, dan ikan cakalang/sisik dengan total kontribusi deflasi sebesar -0,75 % (mtm).

Namun demikian, kenaikan harga bawang merah dan beras memberikan tekanan inflasi di Kotamobagu sehingga menahan penurunan harga yang lebih dalam.

“Kenaikan harga beras di Kotamobagu perlu mendapat perhatian bersama mengingat Kotamobagu merupakan lumbung beras Sulawesi Utara,” kata Arbonas.

Sementara itu, Kelompok transportasi memberikan kontribusi tekanan inflasi sebesar 0,39% (mtm).

Bila dilihat dari komoditasnya, tekanan inflasi dari Kelompok Transportasi berasal dari kenaikan tarif jasa kendaraan travel seiring pola musiman peningkatan mobilisasi darat masyarakat menjelang perayaan hari raya Idul Fitri.

Bank Indonesia dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara masih memandang positif pencapaian tingkat inflasi kedua kota di Sulawesi Utara yang pada bulan Mei 2020.

Memasuki bulan Juní 2020, tekanan inflasi diperkirakan akan berasal dari efek pembalikan harga komoditas dari Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau.

Deflasi yang terjadi pada periode permintaan tinggi berisiko membuat petani cenderung untuk mengurangi produksi dalam jangka pendek.

Berkurangnya produksi diperkirakan dapat memberikan tekanan inflasi ke depannya, meskipun hal ini belum terjadi dalam jangka pendek.

Sementara itu, masalah distribusi komoditas strategis dari luar daerah tetap perlu diperhatikan.

Kondisi pasokan komoditas bawang merah dimana Sulawesi Utara umumnya mengalami defisit, tercatat memberikan tekanan inflasi pada bulan Mei 2020.

Bila distribusi komoditas ini tidak diperhatikan maka, kenaikan harga bisa terus berlanjut di bulan Juni.

Dari sisi transportasi, tekanan inflasi diperkirakan relatif terjaga mengingat maskapai sudah memasang tarif batas atas untuk mengkompensasi pembatasan jumlah penumpang.

Memandang fenomena tersebut, di tengah risiko terjadinya stagnasi harga pada periode pandemi COVID-19, kewaspadaan dan perhatian terhadap perkembangan inflasi akan tetap ditunjukkan TPID baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.

TPID Provinsi dan Kota bekerjasama dengan Bank Indonesia telah mengembangkan mekanisme belanja di pasar tradisional dengan memanfaatkan teknologi smartphone.

Dengan pengembangan mekanisme ini, masyarakat diharapkan mampu mengubah pola belanja di pasar tradisional dari offline menjadi online.

Dengan pengenalan dan penerapan pola tersebut diharapkan kuantitas permintaan komoditas strategis di pasar tetap terjaga sehingga petani akan tetap memiliki insentif untuk terus meningkatkan produksi.

Selain itu, TPID juga bekerja sama dengan kelompok-kelompok tani untuk melakukan ekstensifikasi klaster ketahanan pangan untuk menjaga ketersediaan stok di pasar menjelang terjadinya kenaikan permintaan.