Oleh : Harry Kawilarang
Akhir-akhir ini muncul konflik sivilisasi westernisasi oleh non-budaya Barat. Sikap agresif non Barat terhadap negeri-negeri Barat karena dicurigai telah melakukan perluasan evolusi hegemoni budaya hingga menimbulkan motivasi mengembangkan kekuatan ekonomi dan militer dengan menyertakan supremasi budaya. Samuel Huntington menggambarkan konflik ini sebagai “The West Against the Rest.”
Ancaman yang dihadapi Barat adalah kebangkitan budaya Kongfuchu dan Islam sejak mengalami kemajuan ekonomi dan peningkatan militer dan konflik bakal mengancam eksistensi harmonisasi hidup berdampingan antar budaya di masa datang. Huntington memperkirakan konflik peradaban sivilisasi bakal menjadi sumber ketegangan dunia menggantikan posisi perang dingin di panggung politik internasional pada bukunya, “The Clash of Civilazation.” Huntington mengemukakan konflik ini berkembang sejak panggung internasional mengalami peralihan kondisi di akhir 1980an dengan tumbangnya rezim-rezim Komunis di Eropa-Timur –yang berlanjut di Uni-Soviet. Sejak itu pun faktor ideologi sebagai perangkat integrasi kesatuan mengalami degradasi dan mengancam eksistensi kebangsaan pada negeri-negeri masyarakat ber-budaya majemuk.
Pupusnya peranan pelaku perang dingin yang mewarnai konflik ideologi yang dilakoni blok bekas Uni Soviet, AS dan Dunia Ketiga, akan dapat mempengaruhi eksistensi ideologi sebagai alat kesatuan. Apalagi bila panutan ideologi pemerintahan gagal melakukan revitalisasi pembaruan sebagai alat pemersatu. Karena akan langsung mempengaruhi harmonisasi hidup masyarakat pluralistik berbeda rumpun akar budaya tetapi berikrar sebagai kesatuan bangsa.
Ancaman konflik sivilisasi bakal melibatkan diplomasi dan militer menurut Huntington terdiri dari 8 jenis blok budaya sivilisasi. Masing-masing meliputi: Barat, Jepang, Kongfuchu, Hindu, Islam, Slavik-Orthodoks, Amerika-Latin dan Afrika. Bukan kelas, ideologi ataupun kebangsaan yang bakal menjadi pemeran tetapi panutan budaya dan rumpun menjadi sumber konflik dunia, pendapat Huntington. Pandangan ini dikaitkan dengan konflik pemisahan Kroasia Barat antara Slovenia terhadap Muslimin Bosnia dan antara Slavic-Orthodox dengan Serbia. Berlanjut dengan konflik antara sekte dilingkungan Islam antara Suni dengan Shyi’ah di Irak. Konflik antara Kurdi dengan Arab atau antara Arab dengan Persia. Konflik serupa juga melanda Irlandia Utara, Rwanda, Burundi, India, Pakistan dll. Menurut Huntington beda pandang tidak seharusnya menjadi penyebab konflik. Namun sengketa terjadi bila beda sikap dan budaya tersudut oleh budaya lain hingga membangkitkan nilai spiritual melebar menjadi multi-polar dan tidak lagi bi-polar.
Dari 180 pemerintahan didunia 15 negeri menerapkan sistem pemerintahan tradisi kultural homogen sesuai kondisi panutan mayoritas masyarakat negeri itu. Sekitar 40% dari jumlah pemerintahan yang menjalankan sistem multi-nasional terdiri lebih dari 5 rumpun berbeda budaya. Dan sekitar 1/3 dari jumlah itu walaupun sebagian besar didominasi oleh salah satu sivilisasi budaya tetapi tidak menerapkan sistem homogen. Yang menjadi patokan utama adalah peranan ideologi sebagai pemersatu.
Namun panutan kesatuan ideologi akan retak bila suatu pemerintahan menerapkan kebijakan hanya didasari pada analogi sivilisasi budaya secara sepihak yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat majemuk lainnya terutama dalam pembangunan sosial-ekonomi. Hal ini memercik gejolak intra-sivilisasi dan dapat melebar menjadi konflik inter-sivilisasi seperti yang melanda bekas federasi Yugoslavia. Bahkan juga menular di Indonesia yang kian terancam oleh bahaya disintegrasi.
Anthropolog Kevin Avruch pada tulisan “Ethnic and Racial Studies” berpendapat: “Tradisi…sekarang ini berbaur dengan modernisasi karena terbawa oleh pengaruh perubahan zaman menurut tuntutan faktor kondisi. Walau menggali kembali tradisi lama tetapi dipadu dengan selera zaman. Namun kebangkitan kembali tradisi lama akan terungkit bila eksistensi seseorang atau masyarakat tersudut oleh kondisi dan situasi keadaan.” Kehidupan identifikasi manusia pada dasarnya tidak semata bergantung pada ideologi atau ekonomi. Yang diutamakan adalah pada keyakinan dan silsilah keturunan keluarga dan ikatan darah budaya rumpun sebagai panutan utama hidup. Budaya yang dinilai asing akan mudah menimbulkan sengketa ketimbang konflik ideologi karena yang dipentingkan manusia adalah mempertahankan eksistensi ikatan budaya tradisi premordial. Masyarakat Cina tradisional sekalipun mengubah hidup menjadi kapitalis tapi tetap mempertahankan nilai budaya Kongfuchu. Nilai dan moral dari silsilah garis keturunan erat kaitannya dengan identitas ethnis.
Walau proses modernisasi Islam berkembang di abad 20 tetapi tetap menggunakan dasar falsafah Nabi Muhammad SAW sebagai nilai moral hidup. Kemajuan yang ditopang dari produksi minyak bumi dan teknologi elektronika seperti yang digambarkan pada teori ekonomi Islam oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah gagasan baru dalam peradaban Islam. Modernisasi Islam turut menyertakan emansipasi wanita tidak dibelenggu pada tradisi budaya. Selain bebas nonton TV, shopping ditempat umum, aktif dalam kampanye politik, ataupun bekerja di kantor juga sejajar dalam jabatan dan hak dengan pria. Tetapi terapan tradisi dapat bangkit sebagai alternatif bila eksistensi hidup tersudut dan menempatkan keyakinan spiritual sebagai semangat perjuangan. Dan keterlibatan politik pada konflik sivilisasi menjadi blok kekuatan mempertahankan eksistensi hidup.
Padahal pada umumnya implikasi logika dari konflik bukan semata oleh perbedaan pandangan, tetapi umumnya terbawa oleh unsur rasa rendah diri (inferior) menghadapi sikap keterbukaan yang menjadi bagian dari proses relasi komunikasi di alam modernisasi.
Peran _Sikap_Intelektualitas_Ekologis
Sebenarnya faktor fanatisme yang berpegang pada supremasi budaya dan mengikuti kehidupan tradisi lama dengan mengabaikan eksistensi budaya lain akan memenjarakan diri sendiri. Karena membiarkan diri tertutup dari keterbukaan dan tetap dilekati rasa rendah diri. Karena pada akhirnya menyadari tiada satupun pandangan supra-kultural akan abadi dan kekal. Konflik keyakinan di India terjadi akibat sistem sosio-politik tidak menentu. Tanpa memahami kondisi sosial dan mengabaikan unsur kebutuhan mendasar, manusia akan larut oleh distruksi konflik tak berujung.
Bahwa pada dasarnya faktor ekologis lingkungan setempat berperan utama menentukan nilai dan sikap. Tidak satupun penetrasi budaya murni dapat berkembang di Indonesia. Gugusan nusantara ini sejak lama mengalami penetrasi budaya luar karena posisi diapit dua benua dan dua samudera. Walau kesemua budaya diserap tetapi tetap mengalami proses filterisasi penyesuaian ekologi lingkungan beriklim tropis yang mengutamakan panutan sikap toleransi oleh masyarakat setempat dari berbagai lapisan sosial.
Eksistensi identitas didasari pada intelektualitas ekologis membentuk Pan-Nasionalistik kesatuan tidak bakal terancam punah sekalipun dunia mengalami perubahan oleh putaran roda zaman yang mengubah kondisi dan waktu dan tidak pernah berhenti dan tidak dapat dibendung siapapun. Yang penting membentuk formulasi kesatuan nasionalistik terpadu hasil masing-masing norma budaya dan mengembangkan revitalisasi pembaruan budaya kolektif sebagai kelanjutan kesatuan ideologi pluralistik untuk mengendalikan stabilitas dan membendung pandangan ilusi Huntington. (*)
