
MINAHASA SELATAN — Di banyak partai, konsolidasi sering menjadi ajang bagi elite untuk berbicara panjang lebar di atas panggung.
Di Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat, Jumat (12/6/2026), Golkar Sulawesi Utara memilih cara yang berbeda.
Rapat Konsolidasi DPD Golkar Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) itu dihadiri ratusan kader dari tingkat desa hingga kecamatan.
Hadir mendampingi mereka, dua tokoh beringin Sulut sekaligus: Ketua Dewan Kehormatan Golkar Sulut sekaligus Anggota DPR RI, Christiany Eugenia Paruntu (CEP), bersama Ketua DPD I Golkar Sulut yang juga Wakil Ketua DPRD Sulut, dr. Michaela Elsiana Paruntu, MARS (MEP). Wakil Ketua DPRD Minsel dari Golkar, Ezekiel Paruntu Stuart (EPS), turut mendampingi.
Yang membuat forum ini berbeda: CEP lebih banyak diam dan mendengar.
Mendengar, Bukan Menginstruksi
Alih-alih mendominasi forum dengan arahan dari atas, CEP membuka ruang seluas-luasnya bagi pengurus kecamatan dan kader desa untuk bicara — tentang aspirasi mereka, persoalan lapangan, dan kebutuhan nyata warga.
“Kader di tingkat akar rumput merupakan ujung tombak partai yang paling memahami kondisi riil masyarakat. Karena itu, setiap masukan yang disampaikan penting bagi kami untuk menjadi bahan perjuangan dan perhatian di tingkat yang lebih luas,” ujar CEP di hadapan para kader.
Pendekatan ini bukan sekadar gaya komunikasi.
Di tengah transisi kepemimpinan DPD I Golkar Sulut yang kini dipegang MEP, gestur CEP menjadi sinyal penting: bahwa estafet kepemimpinan berjalan mulus — tanpa gesekan, tanpa drama.
Energi partai tidak terbuang untuk konflik internal, melainkan diserap untuk memahami persoalan rakyat.

Akademisi: Ini Cara Paling Efektif
Pola bottom-up yang ditampilkan Golkar di Minsel mendapat apresiasi dari kalangan akademik.
Mahyudin Damis, dosen Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), menilai pendekatan semacam ini adalah kunci loyalitas konstituen jangka panjang.
“Komunikasi politik yang mendengar hingga tingkat desa terbukti lebih efektif. Akar rumput yang diberi ruang bicara akan merasa menjadi bagian dari perjuangan partai,” ujar Mahyudin.
Ia mendorong agar momentum ini segera dilembagakan.
Pascapelantikan pengurus DPD I Golkar Sulut dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) tingkat provinsi, menurut Mahyudin, setiap DPD Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara harus segera menggelar Raker masing-masing — menggunakan hasil Rakerda provinsi sebagai panduan program kerja yang adaptif dan kontekstual.
Minsel sebagai Titik Awal
Pemilihan Minsel bukan kebetulan. Kabupaten ini adalah salah satu kantong suara tradisional Golkar di Bumi Nyiur Melamba — dan memulai konsolidasi dari basis yang kuat adalah pesan tersendiri bagi daerah lain di Sulut.
MEP menegaskan bahwa forum di Minsel adalah langkah pertama dari serangkaian kerja terukur.
Dengan sinergi antara jaringan legislatif nasional CEP di DPR RI, kepemimpinan regional MEP, dan kehadiran struktur fraksi seperti EPS di DPRD, Golkar Sulut meyakini dirinya tengah membangun fondasi yang tepat untuk rebound politik yang signifikan.
