Berita Utama

Kisah Dibalik Polemik SPMB Sulawesi Utara, Balai TIKMP Dikda Angkat Bicara

Bravo Turangan menyebutkan bahwa setiap keluhan yang masuk langsung ditindaklanjuti.

Bahkan, bagi siswa yang datang langsung melapor ke kantor dinas karena akunnya diretas langsung dibantu.

“Mereka yang melapor ke kantor langsung kita bantu. Setelah akunnya kita reset, kita langsung pandu siswa mengubah kata sandinya yang hanya diketahui dirinya sendiri,” pungkas Bravo.

Sayangnya, ada batasan yang tak bisa mereka lewati.

Bravo mengatakan pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk siswa yang akunnya diretas di penghujung masa pendaftaran.

Misalnya, ada siswa yang pendaftarannya dibatalkan secara misterius padahal sudah terdaftar di sekolah pilihan seperti SMAN 1 atau SMAN 9 di Manado.

Sebab, tahun ini diterapkan sistem kuota dan ketika kuota terpenuhi, Dapodik akan langsung terkunci oleh pusat.

“Kami hanya bisa mengarahkan siswa untuk mendaftar ke sekolah lain yang belum terpenuhi kuotanya,” jelasnya.

Sistem kuota ini, lanjut Bravo, merupakan kebijakan dari pusat.

Tujuannya adalah untuk pemerataan siswa agar tidak hanya terpusat di satu atau dua sekolah favorit saja, melainkan tersebar di seluruh sekolah yang ada di daerah.

“Semua sekolah pada dasarnya setara karena menggunakan kurikulum yang sama dari pemerintah, sehingga kebijakan SPMB mendorong pemerataan akses tanpa harus terpusat pada sekolah-sekolah tertentu,” ujar Bravo.

Pencegahan untuk Masa Depan

Agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari, Bravo menekankan pentingnya mengganti kata sandi dalam sistem penerimaan siswa baru secara online.

Ia juga mengimbau orang tua untuk aktif mendampingi anak mereka.

Meskipun kebanyakan siswa sekarang sudah melek teknologi, kewaspadaan terhadap risiko seperti peretasan akun masih terbilang minim.

“Kami berharap agar ke depan hal seperti ini tidak perlu terjadi sehingga siswa dapat belajar di sekolah yang menjadi pilihan mereka,” harapnya.

(jenlywenur)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara