Berita Utama

Kisah Dibalik Polemik SPMB Sulawesi Utara, Balai TIKMP Dikda Angkat Bicara

Kisah Dibalik Polemik SPMB Sulawesi Utara, Balai TIKMP Dikda Angkat Bicara
Kepala Balai TIKMP Dikda Sulut, Bravo Turangan.

Manado, BeritaManado.com — Penerimaan murid baru SMA dan SMK Negeri di Sulawesi Utara tahun ini memang lain dari biasanya.

Dengan sistem SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) yang serba online, niat awalnya adalah membuat proses seleksi lebih terpadu dan terstruktur, menggantikan sistem PPDB yang lama.

Namun, yang terjadi di lapangan, sistem baru ini masih menuai sorotan.

ADVERTISEMENT

Bagaimana tidak, belakangan ini banyak laporan masuk yang bikin geleng-geleng kepala karena ada dugaan akun siswa pengguna SPMB yang diretas!

Bahkan ada calon siswa dan orang tua yang akhirnya harus pasrah melihat pendaftaran mereka tiba-tiba dibatalkan, padahal mereka tak merasa melakukannya.

Lebih parah lagi, ada siswa yang nilai dan pilihan sekolahnya mendadak berubah.

Sontak, narasi negatif pun langsung menyebar, bahkan muncul dugaan adanya “kongkalingkong” dalam penerimaan murid baru ini.

Menanggapi polemik ini, Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulawesi Utara melalui Kepala Balai Teknologi Informasi Komunikasi dan Media Pembelajaran (TIKMP), Bravo Turangan ST, tidak menampik adanya laporan terkait aktivitas tak dikenal di akun siswa.

“Memang sudah cukup banyak laporan ke kita dan ini langsung ditindaklanjuti,” ungkap Bravo, kepada BeritaManado, Kamis (26/6/2025).

Ia mengakui, beberapa orang bahkan langsung datang ke kantornya untuk mengadukan masalah ini.

Setelah ditelusuri, ternyata akar masalahnya cukup mengejutkan.

“Dari penelusuran kami, semuanya bermuara pada akun siswa yang kata sandinya (password) masih standar dan belum diganti, alias tanggal ulang tahun siswa itu sendiri. Akunnya dimasuki (login) oleh orang lain kemudian melakukan pembatalan. Orang lain ini bisa masuk diduga karena mengetahui tanggal lahir siswa,” jelas Bravo.

Hal ini sangat disayangkan, padahal di aplikasi SPMB sudah jelas ada imbauan untuk mengganti password demi keamanan akun, bahkan tercantum di bagian atas.

“Namun, kami menemukan bahwa beberapa akun yang terdampak tidak melakukan penggantian password sesuai imbauan, sehingga memudahkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengakses akun secara ilegal,” katanya.

Bravo menegaskan bahwa secara sistem, SPMB sudah berjalan sesuai tujuan.

Pihaknya berkomitmen penuh untuk memastikan semua siswa mendapatkan kesempatan yang adil dan non-diskriminatif, objektif, transparan, dan berkeadilan untuk pendidikan berkualitas.

“Ini sesuai instruksi dari Bapak Gubernur Yulius Selvanus bahwa dalam penerimaan siswa baru kita menyesuaikan kebijakan pusat,” tandasnya.

Balai TIKMP Proaktif Bantu Siswa yang Jadi Korban

Meski begitu, Balai TIKMP Dikda tak tinggal diam.

Bravo Turangan menyebutkan bahwa setiap keluhan yang masuk langsung ditindaklanjuti.

Bahkan, bagi siswa yang datang langsung melapor ke kantor dinas karena akunnya diretas langsung dibantu.

“Mereka yang melapor ke kantor langsung kita bantu. Setelah akunnya kita reset, kita langsung pandu siswa mengubah kata sandinya yang hanya diketahui dirinya sendiri,” pungkas Bravo.

Sayangnya, ada batasan yang tak bisa mereka lewati.

Bravo mengatakan pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk siswa yang akunnya diretas di penghujung masa pendaftaran.

Misalnya, ada siswa yang pendaftarannya dibatalkan secara misterius padahal sudah terdaftar di sekolah pilihan seperti SMAN 1 atau SMAN 9 di Manado.

Sebab, tahun ini diterapkan sistem kuota dan ketika kuota terpenuhi, Dapodik akan langsung terkunci oleh pusat.

“Kami hanya bisa mengarahkan siswa untuk mendaftar ke sekolah lain yang belum terpenuhi kuotanya,” jelasnya.

Sistem kuota ini, lanjut Bravo, merupakan kebijakan dari pusat.

Tujuannya adalah untuk pemerataan siswa agar tidak hanya terpusat di satu atau dua sekolah favorit saja, melainkan tersebar di seluruh sekolah yang ada di daerah.

“Semua sekolah pada dasarnya setara karena menggunakan kurikulum yang sama dari pemerintah, sehingga kebijakan SPMB mendorong pemerataan akses tanpa harus terpusat pada sekolah-sekolah tertentu,” ujar Bravo.

Pencegahan untuk Masa Depan

Agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari, Bravo menekankan pentingnya mengganti kata sandi dalam sistem penerimaan siswa baru secara online.

Ia juga mengimbau orang tua untuk aktif mendampingi anak mereka.

Meskipun kebanyakan siswa sekarang sudah melek teknologi, kewaspadaan terhadap risiko seperti peretasan akun masih terbilang minim.

“Kami berharap agar ke depan hal seperti ini tidak perlu terjadi sehingga siswa dapat belajar di sekolah yang menjadi pilihan mereka,” harapnya.

(jenlywenur)