Internasional

Dari Watergate hingga Angela Merkel, 4 Skandal Penyadapan Pemimpin Negara yang Mengguncang Dunia

Ilustrasi skandal penyadapan yang melibatkan Richard Nixon, Angela Merkel, dan Dilma Rousseff.
Sejumlah skandal penyadapan yang melibatkan pemimpin dunia memicu krisis politik dan diplomatik, termasuk Watergate dan pengungkapan operasi intelijen NSA.

Penulis: Tim Redaksi

Penyadapan terhadap pemimpin negara bukan sekadar persoalan keamanan dan privasi. Dalam sejumlah peristiwa, operasi intelijen tersebut berkembang menjadi krisis diplomatik, merusak hubungan antarnegara, bahkan berujung pada kejatuhan pemerintahan.

Sejarah mencatat sejumlah skandal penyadapan yang melibatkan presiden dan kepala pemerintahan dari berbagai negara. Salah satunya adalah skandal Watergate di Amerika Serikat yang berakhir dengan pengunduran diri Presiden Richard Nixon pada 1974.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, pengungkapan dokumen rahasia intelijen Amerika Serikat pada 2013 dan 2015 memperlihatkan bagaimana komunikasi pemimpin negara sahabat, termasuk Kanselir Jerman Angela Merkel dan sejumlah presiden Prancis, menjadi sasaran pemantauan.

Berikut empat skandal penyadapan yang menjadi catatan penting dalam sejarah politik dunia.

1. Skandal Watergate, penyadapan yang berujung pada pengunduran diri Richard Nixon

Skandal Watergate menjadi salah satu peristiwa politik paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat.

Kasus ini bermula pada 17 Juni 1972, ketika lima orang ditangkap setelah membobol kantor Komite Nasional Partai Demokrat di kompleks Watergate, Washington DC.

Mereka diketahui membawa peralatan elektronik untuk penyadapan dan pengawasan komunikasi.

Operasi tersebut berkaitan dengan upaya memperoleh informasi politik dari kubu Partai Demokrat menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat 1972.

Penyelidikan kemudian mengarah kepada sejumlah orang yang memiliki hubungan dengan tim kampanye pemilihan kembali Presiden Richard Nixon.

Persoalan semakin besar setelah muncul dugaan bahwa sejumlah pejabat Gedung Putih berupaya menghalangi penyelidikan dan menutupi hubungan pemerintahan dengan aksi pembobolan tersebut.

Salah satu bukti penting berasal dari rekaman percakapan di Gedung Putih. Rekaman itu memperlihatkan keterlibatan Nixon dalam upaya menutupi hubungan pemerintahannya dengan skandal Watergate.

Pada 24 Juli 1974, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa Nixon harus menyerahkan rekaman percakapan yang diminta penyidik.

Setelah rekaman penting dipublikasikan, tekanan politik terhadap Nixon semakin besar. Komite Kehakiman DPR Amerika Serikat kemudian menyetujui tiga pasal pemakzulan.

Sebelum proses pemakzulan berlanjut ke pemungutan suara di DPR, Nixon memilih mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974.

Ia menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Sumber: National Archives dan U.S. Senate.

2. Angela Merkel, Kanselir Jerman yang diduga disadap intelijen Amerika Serikat

Hubungan Amerika Serikat dan Jerman sempat mengalami ketegangan serius setelah muncul pengungkapan bahwa telepon seluler Kanselir Angela Merkel diduga menjadi sasaran pemantauan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).

Kasus ini mencuat pada Oktober 2013, menyusul publikasi dokumen rahasia yang dibocorkan mantan kontraktor intelijen NSA, Edward Snowden.

Pemerintah Jerman pada 24 Oktober 2013 menyatakan telah menerima informasi bahwa telepon seluler Merkel kemungkinan dipantau oleh badan intelijen Amerika Serikat.

Merkel kemudian berbicara langsung dengan Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, melalui sambungan telepon.

Dalam pernyataan pemerintah Jerman, Merkel menyampaikan keberatan terhadap praktik pemantauan komunikasi kepala pemerintahan, terutama di antara negara-negara yang selama puluhan tahun menjalin hubungan persahabatan dan kemitraan.

Pemerintah Jerman menilai tindakan tersebut, apabila terbukti, merupakan pelanggaran serius terhadap kepercayaan antarsekutu.

Kasus ini menjadi sorotan internasional karena Jerman dan Amerika Serikat merupakan mitra penting dalam bidang keamanan, ekonomi, serta politik global.

Pengungkapan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai batas operasi intelijen di antara negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik erat.

Sumber: Kementerian Luar Negeri Jerman, 24 Oktober 2013.

3. Dilma Rousseff, Presiden Brasil yang membatalkan kunjungan ke Amerika Serikat

Skandal penyadapan yang melibatkan Presiden Brasil Dilma Rousseff pada 2013 memperlihatkan bagaimana operasi intelijen dapat berkembang menjadi persoalan kedaulatan negara.

Dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden mengungkap dugaan bahwa NSA memantau komunikasi Rousseff, sejumlah penasihatnya, serta jaringan komunikasi pemerintah Brasil.

Pengungkapan tersebut juga mencakup dugaan pemantauan terhadap perusahaan minyak milik negara Brasil, Petrobras.

Pemerintah Brasil meminta penjelasan dari Washington mengenai aktivitas intelijen tersebut.

Ketegangan semakin meningkat ketika Rousseff memutuskan menunda kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2013.

Keputusan itu menjadi pukulan diplomatik bagi hubungan kedua negara.

Dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 24 September 2013, Rousseff menyampaikan kritik terbuka terhadap praktik pengawasan elektronik Amerika Serikat.

Ia menilai penyadapan komunikasi warga negara dan institusi Brasil tidak dapat dibenarkan atas nama keamanan nasional apabila mengabaikan hak privasi dan kedaulatan negara lain.

Kasus tersebut menjadi salah satu konsekuensi diplomatik paling nyata dari pengungkapan dokumen Snowden.

Persoalan ini kemudian dibahas kembali dalam hubungan bilateral kedua negara, termasuk ketika Rousseff dan Obama bertemu pada 2015.

Sumber: The Guardian dan dokumen pernyataan Presiden Amerika Serikat.

4. Tiga Presiden Prancis menjadi sasaran penyadapan NSA

Pada Juni 2015, dunia kembali dikejutkan oleh laporan mengenai dugaan penyadapan terhadap tiga presiden Prancis oleh NSA.

Dokumen rahasia yang diperoleh WikiLeaks dan dipublikasikan bersama media investigasi Mediapart mengungkap dugaan pemantauan komunikasi terhadap Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande.

Dokumen tersebut mencakup periode 2006 hingga 2012.

Artinya, pemantauan yang diungkap tidak hanya menyasar satu pemerintahan, tetapi berlangsung pada masa tiga presiden Prancis yang berbeda.