
Penulis: Tim Redaksi
BeritaManado.com – Tekanan ekonomi global sepanjang 2026 semakin terasa di berbagai negara.
Kenaikan harga energi, persoalan ketenagakerjaan, meningkatnya biaya hidup, hingga melemahnya aktivitas konsumsi menjadi tantangan yang dihadapi sejumlah perekonomian dunia.
Gambaran tersebut terlihat di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Singapura, Jepang, Kanada, hingga Korea Selatan.
Meski memiliki karakteristik ekonomi berbeda, perkembangan di negara-negara tersebut memperlihatkan satu persoalan yang semakin mendapat perhatian: bagaimana masyarakat mempertahankan daya beli ketika biaya hidup terus membebani pengeluaran rumah tangga.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027.
Pada saat yang sama, inflasi global diproyeksikan mencapai 4,7 persen pada 2026, kemudian turun menjadi 4,1 persen pada 2027.
IMF menilai perekonomian dunia masih menunjukkan ketahanan. Namun, kemampuan setiap negara menghadapi tekanan semakin tidak merata.
Negara yang memperoleh keuntungan dari investasi teknologi dan kecerdasan buatan relatif memiliki prospek lebih baik. Sebaliknya, negara yang bergantung pada impor energi serta memiliki ruang fiskal terbatas menghadapi tantangan lebih besar.
Risiko lain yang membayangi perekonomian global adalah eskalasi konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, kerentanan fiskal, serta ketidakpastian investasi.
Amerika Serikat dan Inggris Dibayangi Kenaikan Harga Energi
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang memperlihatkan bagaimana kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan terhadap inflasi.
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) mencatat inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026.
Secara bulanan, indeks harga konsumen meningkat 0,6 persen. Kenaikan harga bensin mencapai 9,1 persen dalam sebulan, sedangkan indeks energi secara keseluruhan meningkat 5,2 persen.
Kenaikan tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama biaya transportasi dan kebutuhan yang berkaitan dengan energi.
Tekanan serupa juga terlihat di Inggris.
Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) mencatat inflasi tahunan berdasarkan Consumer Prices Index (CPI) mencapai 3,5 persen pada September 2026, meningkat dari 3,1 persen pada Agustus.
Transportasi, khususnya bahan bakar kendaraan, menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan inflasi bulanan.
Kenaikan biaya energi menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat maupun dunia usaha karena dapat merambat ke biaya distribusi barang dan jasa.
Jerman Menghadapi Tantangan Pasar Tenaga Kerja
Di Eropa, Jerman menghadapi persoalan ketenagakerjaan di tengah pemulihan ekonomi yang berjalan lambat.
Badan Ketenagakerjaan Federal Jerman mencatat jumlah penganggur mencapai 2,955 juta orang pada Oktober 2026.
Tingkat pengangguran berada pada 6,3 persen.
Jumlah tersebut turun 40.000 orang dibandingkan September. Namun, masih lebih tinggi 44.000 orang dibandingkan Oktober tahun sebelumnya.
Badan Ketenagakerjaan Federal Jerman menilai pemulihan pasar kerja masih lemah. Kondisi ekonomi belum memberikan dorongan yang cukup kuat untuk memperbaiki penyerapan tenaga kerja.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa negara dengan basis industri dan ekonomi kuat sekalipun tidak sepenuhnya terbebas dari tekanan perlambatan ekonomi.
Prancis Dibayangi Utang Pemerintah dan Kontraksi Ekonomi
Prancis juga menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan.
Institut Statistik dan Studi Ekonomi Nasional Prancis (INSEE) melaporkan perekonomian negara tersebut mengalami kontraksi 0,1 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Angka itu memperlihatkan aktivitas ekonomi belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Persoalan lainnya terlihat pada kondisi keuangan pemerintah.
INSEE mencatat utang pemerintah Prancis mencapai 119 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir kuartal II 2026.
Nilai utang tersebut mencapai sekitar 3.595,5 miliar euro.
Rasio utang yang tinggi menjadi tantangan fiskal karena pemerintah harus menjaga keberlanjutan keuangan negara sekaligus memenuhi kebutuhan belanja publik.
Kombinasi perlambatan ekonomi dan meningkatnya beban utang membuat ruang kebijakan pemerintah semakin perlu diperhitungkan secara hati-hati.
Singapura: PHK Meningkat, tetapi Pasar Kerja Masih Bertumbuh
Di Asia Tenggara, Singapura memperlihatkan gambaran pasar tenaga kerja yang relatif kuat, meskipun tekanan restrukturisasi perusahaan masih terasa.
Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) mencatat jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja atau retrenchment mencapai 4.800 orang pada kuartal III 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 4.620 orang pada kuartal sebelumnya.
Namun, kondisi pasar kerja Singapura tidak sepenuhnya melemah.
Total lapangan kerja justru bertambah 27.700 pada kuartal III, lebih tinggi dibandingkan penambahan 11.400 pada kuartal sebelumnya.
Tingkat pengangguran keseluruhan tetap berada pada 2 persen pada September 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan PHK berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan lapangan kerja. Tekanan terutama terlihat pada sektor-sektor tertentu yang berorientasi ekspor dan tengah melakukan restrukturisasi.
Jepang: Konsumen Semakin Berhati-hati Berbelanja
Tekanan biaya hidup juga mengubah perilaku konsumen di Jepang.
Laporan Reuters pada 29 Oktober 2026 mengungkapkan jumlah pelanggan minimarket di Jepang mengalami penurunan selama 15 bulan berturut-turut.
