
MANADO,BeritaManado.com – Pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Matahari Pagi Indonesia (MPI) Sulawesi Utara resmi dikukuhkan, Jumat (30/10/2026), di Hotel Courtyard ex Novotel Kairagi, Manado.
Sejak hari itu, Theresia Inggrid Manangka memimpin organisasi ini sebagai Ketua. Ia didampingi Bambang Hermawan sebagai Sekretaris dan Mulyadi Paputungan sebagai Bendahara.
Pesan tegas langsung datang dari pusat. Ketua Majelis Penasihat Pimpinan Pusat MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengingatkan bahwa nama “Matahari Pagi” bukan sekadar kiasan, melainkan watak kerja: tepat waktu dan bisa diandalkan.
“Kualitas terbaik dari sinar matahari itu ada saat matahari pagi. Ia pasti hadir, tidak ingkar janji, dan selalu memancarkan kebahagiaan dan kesegaran bagi sekitarnya,” ujarnya.
Dahnil meminta kader daerah tidak menjadikan MPI perhimpunan yang elitis. Pengurus wilayah, katanya, wajib mengedepankan kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial lewat pendampingan langsung kepada warga yang membutuhkan dorongan ekonomi maupun perlindungan sosial.
“MPI harus menjadi energi vitamin yang mengalirkan manfaat ke masyarakat, bukan sekadar simbol di atas kertas,” tegasnya.
Diminta Langsung Tancap Gas
Ketua Umum Pusat MPI, Sutia Budi, meminta pengurus tak berlama-lama setelah dilantik. Menurutnya, capaian besar berawal dari kerja kecil yang dilakukan sungguh-sungguh.
Ia mendorong PW MPI Sulut segera menyusun agenda edukasi, advokasi, dan pelatihan keterampilan bagi anak muda.
“Kami ingin kerja advokasi dan edukasi sosial di Sulut dilakukan terencana, agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran MPI sebagai pembawa harapan baru,” katanya.
Berpijak pada Si Tou Timou Tumou Tou
Menjawab amanat itu, Theresia menegaskan roda organisasi akan berjalan beriringan dengan kearifan lokal. Ia melihat ikatan batin antara visi MPI dan falsafah hidup warga Minahasa serta Sulut. Falsafah Dr. G.S.S.J. Ratulangi, Si Tou Timou Tumou Tou, disebutnya sebagai kompas utama.
“Manusia baru utuh bila ia memanusiakan orang lain. Semangat memanusiakan dan menyinari inilah yang akan kami bawa dalam program riil,” ujarnya.
Ada tiga pilar program prioritas MPI Sulut:
- Membuka pos pendampingan sosial dan kebencanaan.
- Memperluas akses literasi dan ruang belajar informal bagi anak-anak di pelosok.
- Menjaga ketahanan budaya gotong royong lewat tradisi Mapalus.
Theresia juga membuka pintu kerja sama dengan seluruh komunitas dan pemuka adat demi menjaga harmoni di tengah kemajemukan Sulut.
“Kami tak ingin berpanjang kata. Fokus kami langsung pada kerja konkret bagi warga yang membutuhkan,” tuturnya.
Tentang MPI
MPI adalah ormas di bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan, berlandaskan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan, dan Keadilan Sosial. Filosofi Matahari Pagi menjadi simbol disiplin, kesetiaan pada janji, serta optimisme dan kemajuan bagi masyarakat.
Deidy Wuisan
