Pada September 2026, jumlah pelanggan turun 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari membuat sebagian konsumen semakin sensitif terhadap harga.
Mereka mulai beralih ke supermarket diskon dan mencari pilihan belanja yang lebih murah.
Perubahan perilaku ini menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting perekonomian Jepang.
Ketika masyarakat semakin berhati-hati mengeluarkan uang, tekanan tidak hanya dirasakan sektor ritel, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Kanada: Kunjungan Bank Makanan Mencapai Rekor
Gambaran tekanan ekonomi rumah tangga yang lebih nyata terlihat di Kanada.
Laporan HungerCount 2026 dari Food Banks Canada mencatat sebanyak 2.355.075 kunjungan ke bank makanan selama Maret 2026.
Jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang pencatatan lembaga tersebut.
Angka kunjungan meningkat 8,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan 116,8 persen dibandingkan Maret 2019.
Dari keseluruhan kunjungan, sebanyak 775.658 atau sekitar 32,5 persen merupakan kunjungan yang melibatkan anak-anak.
Food Banks Canada mengaitkan peningkatan penggunaan layanan bank makanan dengan tekanan keuangan rumah tangga yang berlangsung selama beberapa tahun.
Kenaikan biaya perumahan, harga pangan, ketidakpastian ekonomi, dan keterbatasan dukungan pendapatan menjadi faktor yang memperlemah kemampuan sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.
Angka tersebut merupakan jumlah kunjungan, bukan jumlah individu unik. Namun, peningkatannya memberikan gambaran serius mengenai tekanan biaya hidup yang dialami masyarakat Kanada.
Korea Selatan: Tantangan Pekerjaan Anak Muda
Korea Selatan menghadapi tantangan berbeda, terutama dalam penyerapan tenaga kerja kelompok usia muda.
Statistics Korea mencatat tingkat pengangguran kelompok usia muda mencapai 5,4 persen pada September 2026.
Angka tersebut meningkat 0,6 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, tingkat pengangguran keseluruhan justru berada pada 2 persen.
Data ketenagakerjaan September juga memperlihatkan jumlah pekerja usia 15 hingga 29 tahun turun untuk bulan ke-47 secara berturut-turut dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, perekonomian Korea Selatan tidak sepenuhnya kehilangan momentum penciptaan lapangan kerja.
Jumlah penduduk bekerja secara keseluruhan bertambah 113.000 orang secara tahunan pada September. Sektor manufaktur bahkan kembali mencatat penambahan pekerjaan setelah mengalami tekanan cukup panjang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pasar kerja lebih terasa pada kelompok generasi muda, meskipun sejumlah sektor ekonomi mulai memperlihatkan perbaikan.
Malaysia Memperlihatkan Gambaran Inflasi Berbeda
Tidak seluruh negara mengalami kenaikan inflasi dengan intensitas yang sama.
Malaysia justru mencatat inflasi tahunan sebesar 1,8 persen pada September 2026, turun dari 1,9 persen pada Agustus.
Departemen Statistik Malaysia (DOSM) mencatat inflasi kelompok makanan dan minuman juga sebesar 1,8 persen secara tahunan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga di Malaysia relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah negara yang mengalami kenaikan inflasi lebih tinggi.
Perbedaan ini penting karena tekanan ekonomi global tidak selalu diterjemahkan menjadi kondisi yang sama di setiap negara.
Struktur ekonomi, kebijakan pemerintah, ketergantungan terhadap impor energi, serta kemampuan menjaga pasokan kebutuhan pokok ikut menentukan tingkat tekanan yang dirasakan masyarakat.
Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga Menjadi Perhatian
Perkembangan ekonomi berbagai negara sepanjang 2026 memperlihatkan bahwa tantangan global tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan produk domestik bruto atau inflasi.
Persoalan ketenagakerjaan, biaya perumahan, harga energi, akses terhadap pangan, dan kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli juga menjadi bagian penting dalam mengukur kesehatan perekonomian.
Laporan IMF mengingatkan bahwa risiko ekonomi global masih cenderung mengarah pada pelemahan apabila konflik geopolitik meningkat, ketegangan perdagangan berlanjut, atau kerentanan fiskal semakin besar.
Dalam menghadapi krisis biaya hidup, IMF juga menekankan pentingnya dukungan pendapatan yang bersifat sementara dan tepat sasaran bagi kelompok masyarakat paling rentan.
Hal ini penting agar pemerintah dapat membantu masyarakat tanpa menimbulkan beban fiskal yang terlalu besar.
Dengan demikian, tantangan ekonomi dunia pada 2026 bukan semata-mata bagaimana negara mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga bagaimana memastikan hasil pertumbuhan tersebut mampu menjaga kesejahteraan masyarakat.
Di tengah ketidakpastian global, kemampuan menjaga stabilitas harga, memperluas kesempatan kerja, serta melindungi daya beli menjadi faktor penting bagi ketahanan ekonomi setiap negara.
