
Manado, BeritaManado.com — Proses pencoblosan, perhitungan, pencatatan hingga pengiriman suara sesungguhya memiliki sistem pengamanan bagus.
Misalnya hasil suara dicatat dalam sebuah plano besar yang semua orang bisa menyaksikan, mengambil foto hingga menyebarkannya.
Agar hasil suara tidak disalahgunakan, itu disalin dalam formulir C hasil.
Formulir ini secara resmi dibagikan ke pengawas TPS dan saksi setiap parpol.
Selain dua unsur resmi ini, pihak pemantau, pers atau pun masyarakat bisa mengambil gambar melalui plano.
Sebelum hasil penghitungan suara itu direkapitulasi, hasil suara bisa diinput aplikasi Sirekap.
Sirekap sejatinya hanyalah alat bantu atau media kontrol.
Hasil Sirekap bukan dasar untuk menentukan hasil perolehan suara.
Penjelasan ini disampaikan Dosen Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi Manado, Ferry Daud Liando.
Ferry menegaskan, hasil perolehan suara setiap paslon pilpres, parpol atau DPD ditentukan oleh proses rekapitulasi berjenjang.
Prosesnya, kata dia, sudah dimulai dari tingkat kecamatan hingga nasional.
Sirekap, ujar Ferry, adalah sistim informasi elektronik yang digunakan KPU sebagai media keterbukaan informasi publik.
Namun, dalam UU Pemilu, sistem informasi yang diakui hanyah Sidalih atau informasi daftar pemilih.
Namun demikian, terang Ferry, agar memudahkan tata kelola penyelenggaraan pemilu ataupun membuka ruang keterlibatan publik, maka terdapat sejumlah aplikasi sistem informasi yang disediakan KPU seperti sistem informasi logistik atau Silog, sistem informasi pencalonan atau Silon, sistem informasi partai politik atau Sipol atau sistem informasi lain seperti Sirekap.
“Tetap, tidak semua aplikasi sistem infornasi dapat efektif dioperasionalkan. Sirekap itu tujuannya bagus. Meski informasinya bukan sebagai dasar menentukan hasil perolehan suara, namun dapat membuka akses publik mengetahui hasil sementara atau sebagai kontrol jika terjadi ketidakcocokan antara hasil di TPS dengan data yang masuk ke KPU,” jelas Ferry.
Sayang, jelas Ferry, ada kelemahan dari Sirekap.
Pertama, katanya, tidak semua tangkapan layar dapat terbaca dengan baik oleh sistim.
Kamera gawai yang kualitas gambarnya buram, akan sulit terbaca.
