Oleh: Budi Susilo (jong) Jurnalis Biro Gorontalo
Sambungan – Asalkan bisa mengeruk keuntungan materi tinggi, itu bisa diatur. Urusan bisa selesai, lewat mata uang rupiah. Tentu saja, ini bak menampakan wajah kebodohan insan pers Gorontalo di mata masyarakat nasional dan internasional.
Maka dari itu, satu gerakan yang harus diambil adalah mengubahnya. Tinggalkan konsep itu, sebab sistem tersebut tidak jauh berbeda dengan gaya ekonomi kapitalis jaman kolonial dahulu, yang menghisap nilai materialistik secara membabi buta dengan melupakan kearifan.
Tentu saja, cara demikan itu juga akan menjerumuskan pada nafsu sesaat. Jangka usianya dipastikan tidak akan lama dan sulit membawa keberkahan. Karena itu sekali lagi, beranilah berubah, of Change !.
Meminjam istilah dari Tan Malaka dalam bukunya Menuju Republik Indonesia, mengatakan, “jika kapitalisme kolonial di Indonesia besok atau lusa jatuh, kita harus mampu menciptakan tata tertib baru yang lebih kuat dan sempurna di Indonesia.”
Satu testimoni di akhir tahun terlontar dari Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Gorontalo, Budi Waseso menilai, sebagai pembaca yang tiap hari mengkonsumsi pemberitaan dari insan pers, bahwa media massa Gorontalo masih dilema, digelayuti oleh persoalan mengenai kualitas isi media masa yang kesannya masih belum mendidik mencerahkan.
“Saya kalau lihat berita-berita di media massa di sini tidak ada manfaat yang saya dapat. Berita-berita yang disajikan tidak ada muatan pendidikan bagi masyarakat,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan di ruang rapat gedung Polda Gorontalo di Jalan Limboto Raya, Senin (31/12/12).
Katanya, media massa itu harus punya nilai-nilai yang mendidik bagi masyarakat, bukan sebagai penjerumus ke jurang kesesatan yang merugikan dan pembodohan.
“Berita-beritanya banyak yang memperuncing persoalan, sepertinya sudah jadi alat kepentingan kelompok tertentu,” ujar Budi.
Apalagi, tambahnya, soal berita dunia politik. Selama ini kesan yang berada di masyarakat Gorontalo itu suka dengan hal-hal politik. Bila membahas tajuk politik praktis, orang Gorontalo sangat bergairah.
“Media massa yang membuat warga di sini jadi suka politik. Sajian-sajiannya terus mengenai politik,” katanya.
Ada benarnya, apa yang dirisaukan oleh Kapolda Gorontalo, apakah dalam membangun kemajuan daerah Gorontalo itu mesti melulu dicekoki oleh berita-berita bermuatan politik.
Terlebih politik yang dijalankan Gorontalo terkini, sepanjang tahun 2012, lebih di dominasi pertarungan politik kelompok, demi mengejar ‘fatamorgana’ kekuasaan.
Media massa itu harus berpihak pada kepentingan publik, berupaya mencerdaskan masyarakat, dan membawa perubahan bagi kemajuan bersama.
Media massa seharusnya bukan jadi alat kepentingan segelintir orang, yang ujung-ujungnya rakyat ‘akar rumput’ menjadi korban ‘perbudakan’ politik.
Apakah bisa menjamin? sajian porsi politik tak berkualitas di media massa itu bisa berikan pencerahan, demi menuju jayanya Gorontalo. Sebaliknya, apakah yakin, suguhan politik Gorontalo yang lebih cenderung prosedural dan pragmatis di media masa itu, tak akan mampu membawa kesejahteraan dan keadilan bagi warga masyarakatnya ?
Mari mengingat kembali, pemikiran dari Muhammad Hatta, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, bahwa untuk mencapai tujuan hakiki berbangsa dan bernegara itu ada pada bidang politik perekonomian.
Ingat, bukan politik pragmatis non idealis, tapi politik perekonomian. Inilah konsep Hatta, yang katanya politik perekonomian itu satu bagian penting untuk terciptanya pembangunan bangsa yang adil dan makmur.
Bagi Hatta, dalam Kita Membangun di pidato Musyarawah Nasional Pembangunan 25 November 1957 Jakarta, menegaskan bahwa, wujud politik ekonomi yang bisa mendatangkan kemakmuran kepada rakyat dan memberi rakyat perhiasan hidup.
Untuk mencapai hal itu, Hatta memberikan solusi dengan ketegasan kelangkah kesana yang menjelaskan tentang tindakan apa yang harus dijalankan dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk memperbesar kemakmuran rakyat.
Melihat ide suci Hatta, ada baiknya masuk di tahun 2013, media massa Gorontalo harus mengambil pelajaran dengan langkah besar resolusi mengubah paradigma penyajian pemberitaan yang mencondongkan politik pembangunan.
Bukan sebatas politik pencitraan yang berbayar dan berisikan pragmatisme sempit dan ‘gontok-gontokan’ rebutan kekuasaan. Maka dari itu, mari Membaca, Menulis dan kritis, happy new year 2013, jayalah negeri ini !. (oke)
