Bisnis dan Ekonomi

Kapan Rupiah Berhenti Melemah? Analis Sebut Bisa Tembus Rp17.400

Grafik pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencapai level terburuk sepanjang sejarah, Kamis 30 April 2026.
Nilai tukar rupiah anjlok ke rekor terburuk sepanjang masa di level Rp17.382 per dolar AS pada Kamis pagi ini, saat mayoritas mata uang Asia justru menguat. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan pelemahan masih berlanjut hingga Rp17.400.

Penulis: Sri Surya

Rupiah anjlok ke level terburuk sepanjang sejarah pada Kamis (30/4/2026) pagi ini, menembus angka Rp17.382 per dolar Amerika Serikat. Sementara hampir seluruh mata uang Asia justru menguat.

Pelemahan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar.

Data Bloomberg mencatat rupiah melemah 0,31 persen dibanding perdagangan Rabu (29/4/2026) yang berada di level Rp17.326.

Kurs Jisdor Bank Indonesia pun menunjukkan angka serupa, yakni Rp17.324 per dolar AS.

Ini bukan sekadar angka. Ini rekor performa terburuk rupiah sepanjang masa.

Mayoritas Mata Uang Asia Menguat, Rupiah Justru Terpuruk

Kondisi ini semakin kontras karena hampir semua mata uang kawasan Asia bergerak ke zona hijau pagi ini.

Peso Filipina menguat 0,19 persen, baht Thailand naik 0,17 persen, sementara won Korea menguat 0,12 persen dan yen Jepang naik 0,09 persen.

Dolar Singapura menguat 0,07 persen, dolar Hong Kong 0,03 persen, dan yuan China 0,01 persen.

Indeks dolar AS sendiri justru sedikit melemah ke 98,92 dari posisi sehari sebelumnya di 98,96, artinya tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata berasal dari penguatan dolar global.

Lalu, apa yang menekan rupiah?

Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal Hawkish The Fed Jadi Beban Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menunjuk dua faktor utama di balik pelemahan ini. Pertama, kekhawatiran investor soal prospek perdamaian di Timur Tengah yang belum juga mereda.

“Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS oleh kekuatiran investor seputar prospek perdamaian di Timur Tengah,” ujarnya saat dihubungi Suara.com jaringan BeritaManado.com.

Ia menambahkan, penguatan indeks dolar AS juga dipengaruhi hasil rapat FOMC yang lebih hawkish dari perkiraan, ditambah kenaikan harga minyak dunia menyusul pernyataan Presiden Trump yang menegaskan akan terus memblokade Selat Hormuz.

Lukman memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut hari ini, bahkan berpotensi menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.

Angka yang, jika tercapai, akan kembali mencetak sejarah baru yang tak ingin dikenang.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara