Bisnis dan Ekonomi

Gejolak Timur Tengah Picu Tekanan Pasar Keuangan, BI Intervensi Rupiah

Gejolak Timur Tengah Picu Tekanan Pasar Keuangan, BI Intervensi Rupiah
Tekanan terhadap mata uang rupiah karena gejolak timur tengah yang tak kunjung usai

Penulis: Sri Surya | ManadoKomite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik Timur Tengah yang memicu gejolak pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.


Dalam hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026, kondisi global dinilai semakin menantang akibat kenaikan harga energi dan terganggunya rantai pasok perdagangan internasional.


“Prospek perekonomian dunia makin melemah akibat konflik di Timur Tengah,” tulis KSSK dalam siaran pers resminya, Kamis (7/5/2026).


KSSK mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,4 persen pada 2025. Sementara inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,4 persen.


Ketidakpastian global tersebut memicu aksi flight to safety investor yang berdampak pada penguatan dolar Amerika Serikat serta terbatasnya aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.


Selama triwulan I 2026, investasi portofolio asing tercatat mengalami net outflows sebesar USD1,7 miliar.


Nilai tukar rupiah pada akhir Maret 2026 berada di level Rp16.995 per dolar AS atau melemah 1,88 persen dibanding akhir 2025.


Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF) offshore.


“Kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global tersebut,” tulis KSSK.


BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.


Hasilnya, pada awal triwulan II 2026, aliran modal asing mulai kembali masuk dengan net inflows sebesar USD3,3 miliar hingga 30 April 2026.


Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar atau setara pembiayaan enam bulan impor.


Di pasar obligasi, tekanan sempat terjadi akibat sentimen risk-off investor global. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 43 basis poin selama Maret 2026 dan kepemilikan asing turun Rp21,81 triliun.


Namun memasuki April, kondisi mulai membaik dan kepemilikan asing kembali meningkat Rp14,25 triliun.


KSSK menegaskan seluruh otoritas akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional dan memitigasi risiko akibat ketidakpastian global.


BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara