Agama dan Pendidikan

Kadisdik Sulut Femmy Suluh Buka Suara soal Hasil TKA: Ini Titik Awal Perbaikan Pendidikan

Kadisdik Sulut Femmy Suluh menjelaskan hasil TKA Sulawesi Utara sebagai cermin mutu pendidikan dan dasar perbaikan pembelajaran.
Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Femmy J. Suluh, M.Si, saat Rapat Koordinasi Kepala SMA/SMK/SLB.

Manado, BeritaManado.com – Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Femmy J. Suluh, M.Si, menegaskan bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menempatkan Sulut di peringkat bawah nasional harus dipandang sebagai data objektif dan fondasi sehat untuk perbaikan mutu pendidikan ke depan.

Menurut Femmy, TKA tahun 2024 merupakan pelaksanaan perdana setelah lima tahun terakhir tidak ada Ujian Nasional (UN), sehingga untuk pertama kalinya pemerintah daerah kembali memiliki data akademik yang riil dan terukur.

“Walaupun TKA Sulut berada di peringkat bawah, kami mensyukurinya karena ini adalah data yang jujur dan objektif. Kami lebih memilih melihat angka apa adanya, sehingga punya cermin yang jernih untuk mengetahui di mana kelemahan kita sebenarnya,” ujar Femmy.

Ia menegaskan, peringkat bukan tujuan utama, melainkan membaca detail capaian per siswa, kesenjangan antarsekolah, dan potret pembelajaran secara menyeluruh.

Matematika Rendah, Soal HOTS Jadi Tantangan

Femmy menjelaskan, rendahnya nilai Matematika bukan disebabkan rendahnya potensi siswa, melainkan adaptasi terhadap model soal berbasis penalaran tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

“Siswa kita sebenarnya pintar. Namun mereka belum terbiasa dengan soal-soal berbasis penalaran. Selama ini masih terpaku pada hafalan rumus, sementara TKA lebih menekankan logika dan analisis,” jelasnya.

Hal serupa juga terjadi pada Bahasa Inggris, yang masih dianggap “momok” oleh sebagian siswa karena metode pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif.

Pemetaan Sekolah dan Pendampingan Intensif

Menindaklanjuti hasil tersebut, Dinas Pendidikan Sulut telah melakukan pemetaan nilai TKA per sekolah sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Para kepala sekolah telah dihimbau agar Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) dibagikan kepada siswa dan sekolah diminta membedah hasil TKA secara internal untuk mengidentifikasi kelemahan, baik dari sisi praktik pembelajaran, kompetensi guru, maupun sarana prasarana.

Selain itu, sekolah diminta mulai melatih siswa dengan soal-soal HOTS, serta memperkuat kolaborasi melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“MGMP kami dorong menjadi ruang berbagi metode mengajar yang tepat. Pengawas sekolah juga kami minta turun mendampingi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya Matematika dan Bahasa Inggris,” kata Femmy.

Femmy menegaskan, evaluasi tetap dilakukan, namun bukan untuk mencari kesalahan atau menghukum.

“Evaluasi ini murni untuk pemetaan. Sekolah dengan nilai rendah akan mendapat pendampingan lebih intens dan pelatihan tambahan bagi guru. Sementara sekolah dengan nilai baik akan menjadi model atau mentor. Semangatnya saling merangkul,” tegasnya.

Target Keluar dari Papan Bawah

Terkait target ke depan, Femmy mengakui bahwa peningkatan nilai TKA tidak bisa instan, karena dipengaruhi banyak faktor dan harus dilakukan secara holistik lintas jenjang.

“Peningkatan numerasi dan literasi harus dimulai dari PAUD, SD, dan SMP. SMA dan SMK menerima hasil bentukan dari jenjang sebelumnya. Karena itu perlu kolaborasi dengan kabupaten/kota, BPMP, dan BGTK,” ujarnya.

Meski demikian, Dinas Pendidikan Sulut menargetkan tahun depan Sulawesi Utara keluar dari zona papan bawah dan masuk ke peringkat yang lebih kompetitif secara nasional.

(rds)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara