
Alt Text
Penulis: Tim Redaksi
Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Drs. Mahyudin Damis, menilai dalam beberapa bulan terakhir aktivitas kemasyarakatan di Sulawesi Utara lebih banyak didominasi oleh PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, dan NasDem.
Baca: 5 Partai Paling Aktif di Sulut, Akademisi Unsrat Angkat Bicara
Menurutnya, keempat partai tersebut relatif lebih sering terlihat melakukan konsolidasi organisasi sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Namun, ini merupakan pengamatan terhadap aktivitas yang tampak di ruang publik, bukan penilaian mutlak terhadap seluruh kegiatan setiap partai,” ujarnya.
Mahyudin mengatakan, intensitas partai politik turun langsung ke masyarakat menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur sehatnya kehidupan demokrasi.
Menurut dia, partai politik tidak semestinya hanya aktif menjelang pemilu, melainkan harus hadir secara konsisten mendampingi masyarakat melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata.
“Hal ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan partai mulai menjalankan fungsi sosial dan fungsi politiknya secara lebih nyata,” katanya.
Ia menambahkan, kehadiran partai di tengah masyarakat idealnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dilakukan secara berkelanjutan.
Dengan konsistensi tersebut, kata Mahyudin, partai akan memperoleh berbagai modal politik, mulai dari meningkatnya kepercayaan publik, menguatnya citra kelembagaan, meluasnya basis dukungan, hidupnya mesin organisasi hingga tingkat akar rumput, sampai terserapnya aspirasi masyarakat sebagai bahan perjuangan di lembaga legislatif maupun pemerintahan.
“Keuntungan terbesar bagi partai bukan semata-mata meningkatnya elektabilitas saat pemilu, melainkan tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itulah modal politik yang paling berharga dan tidak bisa dibangun hanya dengan baliho,” tuturnya.
Mahyudin juga mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin kritis dalam menilai kiprah partai politik.
Karena itu, menurutnya, setiap aktivitas partai harus benar-benar menghadirkan manfaat nyata, bukan sekadar pencitraan sesaat.
“Rakyat dapat membedakan mana partai yang konsisten bekerja sepanjang waktu dan mana yang hanya hadir ketika suara rakyat dibutuhkan. Di era digital seperti sekarang, rekam jejak partai akan selalu diingat publik,” pungkasnya.
