Agama dan Pendidikan

JUMAT AGUNG: Momentum Untuk Merayakan Cinta Allah yang Menubuh

Dengan demikian, peristiwa salib bisa dimaknai sebagai suatu peristiwa mediasi dan rekonsiliasi antara pencipta dengan ciptaan-Nya lewat cinta yang menubuh atau teralami secara nyata dalam sejarah manusia.

Pesan teologis yang bisa kita pelajari dari peristiwa kematian Yesus di kayu salib adalah melanjutkan cinta kasih Allah itu dalam keseharian hidup kita masing-masing.

Cinta dan kasih Allah kiranya menginspirasi setiap kita untuk mengekspresikan dan membagikan cinta kepada setiap orang yang kita temui.

Mencintai selalu beresiko, tetapi tetaplah mencintai dengan tulus. Cinta agape, philia, dan eros bisa dilakonkan oleh manusia juga.

Varian model cinta itu menjadi undangan bagi kita semua untuk mempraktikannya dalam kehidupan kita setiap hari, karena Allah Sang Pencinta itu telah terlebih dahulu memberikan teladan yang konkrit bagi kita.

Allah yang mencintai dengan sempurna ketidaksempurnaan manusia dan semua ciptaan-Nya merupakan dasar yang menjadi inspirasi manusia untuk mempraktikan cinta kepada semua manusia sebagai sesama imago Dei yang ringkih (vulnerable) dan rentan (fragile).

Cinta kepada Allah idealnya akan melahirkan cinta kepada sesama manusia dan ciptaan lainnya.

Mengasihi dan mencintai Allah, akan terwujud dan berwujud ketika kita mengasihi dan mencintai sesama.

Tetelestai!
Selamat merayakan peristiwa cinta Allah yang menubuh lewat dan dalam pengorbanan Yesus yang mati tergantung di kayu salib Golgota.

Tentang penulis: Alter Imanuel Wowor


*Dosen/Akademisi di Fakultas Teologi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN Manado).
*Mahasiswa Program Studi Doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta.

(***/HardianSangkoy)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara