
Penulis: Alter Wowor
Dalam tradisi Kristen, perayaan jumat agung (sebagai suatu istilah yang merepresentasikan perayaan akan peristiwa kematian Yesus yang tergantung di Kayu Salib) merupakan salah satu penanda peristiwa penting yang harus dirayakan berdasarkan kalender gerejawi.
Tanpa perlu disuarakan atau dikhotbahkan lewat mimbar-mimbar ibadah, sebagian besar umat Kristen sudah paham bahwa hari raya Jumat Agung (Good Friday) itu merupakan perayaan akan penebusan dosa manusia dan keselamatan bagi seisi dunia.
Pemberitaan terkait topik itu setiap tahunnya sudah disampaikan bagi warga gereja, bahkan bisa jadi sudah berkali-kali disampaikan atau disinggung meskipun tidak dalam momentum perayaan Jumat Agung sekalipun.
Sebab, tema itu adalah salah satu pokok ajaran dan keyakinan dalam tradisi keagamaan Kristen.
Oleh sebab itulah, saya yakin bahwa pemberitaan atau pemaknaan atas pengorbanan Yesus sang Kristus dan Juruselamat dunia yang tersalib itu tidak hanya terjadi dalam momentum perayaan Jumat Agung.
Keyakinan dan ajaran itu bisa dipastikan telah menghidupi dan dihidupi oleh warga gereja dalam spiritualitas kesehariannya.
Dalam kerangka berpikir seperti itu, saya hendak mencoba untuk membicarakan aspek lain yang bisa kita maknai dalam dan lewat perayaan Jumat Agung kali ini, yaitu aspek hasrat cinta Allah yang menubuh dan merengkuh kerapuhan manusia.
Peristiwa kematian Yesus yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan seluruh ciptaan-Nya, merupakan suatu bentuk dari aksi cinta Allah yang otentik.
Perayaan Jumat Agung bisa dimaknai sebagai perayaan akan desire Allah, suatu perayaan akan Allah yang berhasrat terhadap ciptaan-Nya.
Sebab, tidak ada bentuk cinta yang lebih besar daripada seseorang yang memiliki hasrat terhadap yang lain sampai rela mengorbankan diri beserta nyawa-Nya.
Hasrat yang ingin menyelamatkan itulah yang menjadi keagungan dari hari jumat yang disebut agung itu.
Memoria passionis, tidak hanya ingatan akan penderitaan, tetapi juga ingatan akan hasrat dan cinta, itulah salah satu dimensi yang bisa dimaknai dan dirayakan lewat peristiwa Dia yang tersalib.
Peristiwa pengorbanan dan kematian Yesus sang Kristus merupakan perayaan dan penegasan akan agape, philia, dan eros Allah terhadap ciptaan-Nya.
Allah mencinta ciptaan-Nya tanpa syarat, tanpa alasan, dan tanpa adanya kondisi tertentu.
“God loves you because of who God is, not because of anything you did or didn’t do.”
Deus est caritas, Allah adalah kasih dan cinta, itulah salah satu konsepsi keyakinan Kristen.
Allah adalah sumber, pelaku, serta inspirasi dari cinta dan perbuatan mencinta.
