MANADO – Beberapa rumah makan di Kota Manado, terancam ditutup imbas kelangkaan minyak tanah yang terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Kelangkaan minyak tanah menyebabkan proses masak memasak makanan yang akan disajikan kepada para pengunjung, karena produk yang diolah lebih sedikit dari biasanya, maka berdampak omzet turun hingga separuh,” kata Noni, salah satu pemilik rumah makan, Rabu (16/11).
Noni mengatakan, akibat minyak tanah sulit didapat, maka pihaknya terpaksa menaikkan harga tarif makan sebesar 20 hingga 30 persen dari harga semula.
“Kenaikan tarif makan yang cukup tinggi ini, dikhawatirkan akan berdampak negatif melorotnya pendapatan, dan bila ini terjadi secara terus menerus maka penutupan tempat usaha menjadi pilihan menyakitkan yang harus dipilih,” kata Noni.
Sherly, salah seorang penjual lainnya mengatakan, semua pelaku usaha apakah besar ataupun kecil pasti akan terpukul bila terus terjadi kerugian, nah pedagang rumah makan pun terbebani dengan biaya yang semakin membengkak, dampak mahalnya minyak tanah.
“Kompor elpiji yang diberikan pemerintah, tidak mungkin digunakan dalam usaha, karena ukurannya yang terlalu kecil, sementara membeli kompor elpiji masih terlalu mahal,” kata Sherly.
Selain itu, kata Sherly, banyak pedagang makanan di Manado masih banyak belum paham gunakan elpiji, karena itu lebih memilih kompor minyak tanah guna memasak berbagai jenis bahan makanan.
Hanny, salah seorang pemilik pangkalan di Manado, mengatakan, menyusul penurunan jumlah minyak tanah dipasok Pertamina, maka pihaknya mengikuti perintah pemerintah untuk membatasi pembeli hanya lima kilogram per rumah tangga.
“Pembatasan minyak tanah lima kilogram ini dimaksudkan agar lebih banyak warga yang dapat memperoleh bahan bakar yang harus diakui masih menjadi pilihan utama sebagian besar warga Manado dan daerah lainnya di Sulut,” kata Hanny.(dan)
