
MANADO – Buah pikiran yang disampaikan oleh Prof. DR. Ir. Lucky Sondakh, MSc pada saat pertemuan dengan tiga personil Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Ferry Tinggogoy, Arianty Baramuli dan Marhany Pua, terkait dengan pembangunan ekonomi daerah di Indonesia terlebih khusus Sulawesi Utara yang semakin terperosok menarik perhatian.
“Pada saat ini ekonomi daerah di Indonesia khususnya Sulut mengalami peningkatan dari angka angka “absolute”, tapi dibandingkan dengan rata-rata nasional, sudah menurun,” kata Sondakh.
Padahal, diharapkannya, dengan adanya Desentralisasi dan Otonomi Daerah seharusnya pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih cepat dari rata rata nasional. Menurut ukuran PDRB/Kapita, tahun 1970-an, PDRB/Kapita Sulut masih diatas rata-rata nasional.
“Nah, sekarang rata-rata nasional tahun 2009 Rp22 juta/kapita, Sulut hanya Rp12 juta, jadi tertinggal 51 % dari rata-rata nasional, lanjut Sondakh.
“Dengan keadaan ini maka sudah sepantasnya ada sebuah grand design strategi konsep yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah,” lanjut mantan Rektor Unsrat itu.
Pemikiran Prof. Lucky inipun disambut positif oleh ketiga personil DPD RI Perwakilan Sulut, sembari memberikan signal positif kepada Prof. Lucky untuk menjadi narasumber dalam seminar bulanan DPD di Jakarta. (gn)

Yes Tuama….I just dont understand…I teach at Program S2 Pasca Sarjana UPH, Pernah Membimbing Mahasiswa S3 di IPB dan UNHAS, Mulai Pebruraii Tahun Depan akan kontrak dengan Program Pasca Sarjana di IPB (Program Studi Pengembangan Ekonomin Regionalo). Tapi sebelumnya saya sudah tawarkan expertise saya langsung ke Dekan FE dan Rektor, karena ndak enak kalau tidak tawarkan lebih dahulu ke Alma Mater Tercinta kan?…..memang ada “image keliru” tentang saya di Unsrat karena “sulit dan berat” untuk lulus, sebetulnya bukan demikian….Kalau di Ekonomi memang musti kuat dalam ‘matematika, statistik, systems analysis, filsafat ilmu, disamping menguasai teori “mainstream economics, Mikro dan Makro)….jadi Mahasiswa yang mo cari gampang dan mo te suka tembak langsung karena mereka banyak doi stou atau karena mereka pejabat dan cuma mo kejar “suray mIjazah” pasti nyanda suka [pa kita toch….No Problem…..Tapi saya sudah ada komunikasi dengan Dekan dan Rektor (Ketua Program S3 Fak Ekon kata)….”Yah…Jangan Bosan Bosan Berbuat Baik toch…..syalom Ferdinand dkk.
That’s all right Prof.
Semua orang mempunyai profesi maupun personal capacity berbeda.
Yang terkadang dalam penggunaaan intelligence timbul cara pemikiran,
pendapat maupun analisa yang berlainan.
Kemajuan Sulut harus kita dukung bersama.
Semoga anda lebih mempelopori Academic Elite dalam menciptakan
public intellectual untuk lebih mencerdaskan bangsa.
Good luck.
Prof Lucky, why you just don’t be the lecture in the faculty of economics sam ratulangi university?? even though, you only became the outsourcing on that faculty, that’s gonna be great. unfortunately the fact is, I heard from management of faculty of economics, they dont like you to be one of the outsourcing lecturer on faculty of economics sam ratulangi university???
Tks pak sam….saya musti akui ada kekeliruan dalam komentar balik saya ke Pak sam….fokusnya ke “tuama”…..dan atas kekliruan itu harap dimaklumi dan saya koreksi Pak sam. Tidak ada gading yang tidak ada retaknya….apalagi gading saya ini toch….
tapi ok…let us keep enriching the public debate for the betterment of our people ya…..hope to further discuss with You, Tuama and Ferdinand in the nnear future ya…syalom.GBU all.
Tks pak sam….saya musti akui ada kekeliruan dalam komentar balik saya ke Pak sam….fokusnya ke “tuama”…..dan atas kekliruan itu harap dimaklumi dan saya koreksi Pak sam. Tidak ada gading yang tidak ada retaknya….apalagi gading saya ini toch….
tapi ok…let us keep enriching the public debate for the betterment of our people ya…..hope to further discuss with You, Tuama and Ferdinand in the nnear future ya…syalom.
Prof Lucky,
Apakah ada dari koment saya yg melecehkan anda?
Saya se-Objectif mungkin memaparkan komentar saya berdasarkan fakta di lapangan.
Silahkan di telaah lagi komen saya, Apakah memang benar melecehkan yg anda sebut “integritas cendekiawan”?.
mungkin komen ini yg membuat anda berpikir di lecehkan :
“Untuk konsep ekonomi dari Prof Lucky yg adalah Dosen Peternakan sih Ok2 saja selama yg diajukan prof Lucky cuma konsep. soale kalo prof Lucky mo menwarkan diri sebagai pelaksana .. hmmm, politik uang jaman prof dulu rektor sudah membuktikan ketidaklayakan anda.”
Statement itu tidak melecehkan “integritas cendekiawan” Prof Lucky, tapi lebih menyentil sisi “humanity” setiap manusia yg sering jatuh dalam kekuasaan, cinta uang dan egosentris.
Kalau memang pernyataan saya keliru ttg hal-hal yg terjadi ketika Prof Lucky menjadi Rektor, Silahkan utarakan keberatan anda dan contoh/bukti bahwa pernyataan saya salah.
tetapi inti yg saya utarakan dalam komen saya adalah konsep ekonomi dari prof lucky itu ok2 saja dan tidak masalh selama prof hanya memberikan konsepnya dan tidak ada muatan lain.
“Karena konseptor yg Paling Baik di Indonesia Sangat Banyak … TAPI Pejabat yg Bersih HAMPIR tidak ada”
No Offense Prof,
Rgds,
Sam
Prof. Sondakh
Please don’t take those personally. Those are just a comments.
Pls go ahead with your research. Make this world easier for every
body. They will appreciate you.
With my best regards.
Salut buat Prof. Lucky yang masih mau memikirkan kemajuan masyarakat Sulut.
Saya salut pandangan Sdr Ferdinand tentang indikator kemajuan menurut paradigma baru, dari ukuran GNP/kapita ke ukuran “Happiness”. GNP/kapita Bhutan memang tidak tinggi tapi penduduk Bhutan are the most happiest in the world……wah saya dilecehkan Sdr Sam dan Tuama…saya harap mereka jauh lebih paham tentang Ilmu Ekonomi dari saya…dan saya mau belajar datri mereka….thanks. Kalau “Gentlemen saya minta Sdr Tuama sportif: Nama dan Kompetensi anda….gentlemen kan…intelectual harus “gentlemen” dong jangan sembunyi sembunyi…nyanda “laki2” itu…namanya tuama tapi tidak jantan…gimana yah….maaf saya reaktif karena ini soal “integritas kecendekiawanan”…kalau cuma dilecehkan secara politik…aha memangnya gua pikirin….
He Tuama…saya PNS di Peternakan yes. Saya Ir Peternakan yes. Tapi Thesis Minor Saya Sosek. Lalu saya memenangkan beasiswa dari Australia dan Amerika (ADC) melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi University of New England Australia 1974, sebetulnya sekedar ambil Diploma dalam Ekonomi Pertanian setahun saja (1973-1974).Tapi karena saya lulus lumayan (malahan mendapat award sebagai “The Most Outstanding Indonesian Student in NSW) dalam mata kuliah Ekonomi Mikro, Makro, Produksi, Statistk dan Ekonometri, saya dipromosi ambil Program M.Ec (Master of Economics), 1974-1976 atas biaya Australia dan Amerika. Lalu kemudian, karena saya lulusa salah satu terbaik dalam M.Ec, saya langsung ditawari beasiswa untuk program Ph.D dalam Ekonomi Pertanian Pembangunan di Fakultas Ekonomi UNE Australia. Sekembalinya ke Indonesia riset dan karya ilmiah saya semuanya dalam bidang Ekonomi Pertania, Regional dsb. Malahan saya sempat menjadi Pembantu Ketua 2 Pengurus Pusat ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia). Saya membawa karya ilmiah saya pada seminar Internasional, di Paris, Di Wahington (World Bank), di Korea dan Ausrtralia dan New Zealand. Karya ilmiah saya dalam bidang Ekonomi Regional dipublikasi dalam berbagai majalah nasional Internasional termasuk di EKI UI Jakarta, ANU Canbera Australia, di Oxford University Press, di Univesitas Indonesia, ….jadi “Tuama” maaf saya bukan menyombongkan diri…tapi saya memang harus luruskan pandangan anda ke saya seoalh olah saya “mau sok sok sebagai intelectual ekonomi”…malahan,ada terbitan buku 50 pemikir terkemuka ekonomi Indonbesia dan saya termasuk salah satu dari 50 orang itu…Hei Tuama….tidak ada yang boleh melarang seseorang untuk menekuni ilmu yang diminati…seorang ahli fisika bisa saja mendalam theoloia…apakah ada yang melarang seorang Ir Peternakan mau jadi Sarjana Ekonomi?…kalau ada coba anda tunjukkan ke saya….maaf ya…semoga anda bisa menggurui saya kalau saya keliru…syalom. Lucky Sondakh, Ph.D (Maaf saya pakai gelar saya yang asli, Doctor of Philosophy in Agricultural Economics…masih belum cukup?)…, dari Faculty of Economics Studies, University of New England, Armidale, Australia).
Hmmm …
Konsep boleh bagus, tapi selama Pelaku Ekonomi tidak bisa di atur/di buat suatu regulasi yg menguntungkan dengan masyarakat. NOL basar itu.
Selain itu, Konsep yang bagus tapi tidak di tunjang dengan Aparat yg bersih dan bertanggungjawab serta Penegakan Hukum yg tegas .. kembali sama deng NOL.
dan akhirnya Budaya korupsi yg TOP-DOWN tidak di berantas …. Saudara2 sekalian … maka akan berakhir dengan NOL Besar.
Jadi ingat waktu ketemu dengan Pakar Ekonomi dan transportasi Era Sutiyoso GUb DKI jakarta. mereka Mengatakan … di Indonesia untuk mencari PAKAR Ekonomi dan Transportasi yg lebih hebat dari dunia Barat sangat banyak ….
TAPI mencari Pejabat yg bersih HAMPIR tidak ada.
Untuk konsep ekonomi dari Prof Lucky yg adalah Dosen Peternakan sih Ok2 saja selama yg diajukan prof Lucky cuma konsep. soale kalo prof Lucky mo menwarkan diri sebagai pelaksana .. hmmm, politik uang jaman prof dulu rektor sudah membuktikan ketidaklayakan anda.
NO Offence yah Prof.
So … mudah2an di SULUT lebih baik.
Rgds,
Sam
memang dp maksud setengah MANTA stow. Hahaha…
” MANTAP ” MAKSUDNYA…HAHHA
MANTA PROF !
…BAGITU KATU PROF…KASE KALUAR ITU SISA-SISA BUAT TORANG P DAERAH…GBU
Prof Sondakh dosen di peternakan kok bisa yahhh…
Perkembangan ekonomi sudah menjadi impian kita semua tentunya.
Disisi lain kita harus mengenal juga the politics of happines relations bet-
ween economic growth and happines yang saat ini cukup di amati dunia.
Contohnya Bhutan negara kecil berbasis pertanian hanya diurutan125 di
GDP(nominal) tiap penduduk menurut IMF. Tetapi rakyat Bhutan termasuk
di 20 happiest in the world. Semoga perkembangan ekonomi kita sejajar
dengan kesejahtraan yang nyata. Jangan sampai diatas kertas ekonomi
maju, gajih naik tetapi kepeluan hari hari makin tidak terjangkau akibat
larinya inflasi lebih cepat.
Semoga kita lebih diberikan akal budi untuk masa depan yang lebih baik.