
Manado – Kelapa sebagai suatu komoditas yang bernilai ekonomi tinggi tampaknya harus lebih dioptimalkan baik dari sisi industri pengolahannya maupun dari potensi investasinya. Sulawesi Utara atau juga sering disebut Daerah Nyiur Melambai karena dikenal sebagai penghasil kelapa nomor satu sejak jaman dulu, tampaknya harus menerima kenyataan bahwa produksi kelapa semakin anjlok dan berada pada urutan ketiga setelah Kalimantan Timur dan Riau.
Hal tersebut terungkap pada rapat koordinasi Pemerintah Provinsi Sulut dengan pihak terkait, mengenai permasalahan kurangnya produksi, serta olahan tanaman kelapa yang berkualitas ekspor. Rapat tersebut dipimpin Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sulut Dr. Adry A. Manengkey diruang ex WOC kantor Gubernur Sulut Rabu, (9/11).
BEBC Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Ronny Lumempow memaparkan keritikannya terhadap pemerintah terkait pengadaan sarana dan prasarana yang belum memadai, peremajaan kelapa yang kurang berhasil, bahan baku yang kurang memadai dan belum mencukupi permintaan dunia usaha menjadi permasalahan komoditas kelapa Sulut.
“kalau stok tidak ada terpaksa kita harus datangkan dari luar, jangan persalahkan kita datangkan dari luar walaupun daerah kita nyiur melambai” ujar Lumempow.
Pada kesempatan yang sama terkait permasalahan diatas Manengkey mengatakan “menjadi persoalan disini ada yang disebut BALITKA, kita ada teknologi disini. Teknologi yang bisa membuat kelapa apakah kelapa boleh sekian puluh tahun, boleh sekian bulan dia berbuah tetapi apakah itu dilakukan itu yang menjadi pertanyaannya.” (jrp)

depe wewene boleh mo diandalkan. hahhaha…
Dimana penelitian penelitian teknologi pertanian ??? Yang seharusnya
terpusat di perguruan tinggi. Apa lagi perguruan Top of the line Sulut
sedang terjadi masalah internal yang cukup hangat. Banyak petani yang
kurang bersemangat mengolah tanahnya karena kurang memahami pemu
pukan yang tepat . Seolah olah semua tanaman memakai pupuk itu itu
juga. kurang mengetahui ukuran yang tepat, tidak ada bantuan lab test
tanah yang terkadang sangat simpel. kurang pengetahuan saturated tanah
dan teknology pengairan yang sangat terbelakang dan banyak hal lagi.
Sehingga hasil pertanian mereka tidak memenuhi harapan yang terkadang
tidak sesuai dengan keringat yang mereka keluarkan.
Tak heran kalau Philipina walaupun negrinya lebih kecil tapi lebih banyak
menghasilkan kelapa. Padahal kesuburan, panas matahari, kelembaban
yang dibutuhkan kelapa yang membuat hidup mereka nyaman dan mem
berikan buah yang banyak ada dipihak kita.
Kenapaaaaaa!!! Haruskah kita bertanya ke angin yang berlalu.
…PANTAI BUNAKEN..N..SEKARANG PRODUKSI KELAPA KITA ???..
…APA LEI TORANG MO ANDALKAN INI DANG ???