Menurutnya, lewat program itu pelaku UKM dilatih membuat kemasan menarik termasuk juga pendampingan hingga ke pemasaran.
“Jadi konsepnya UKM dari offline menjadi online akibat pandemi covid-19 dan itu sementara kita terapkan ke beberapa UKM yang ikut program Bangga Buatan Bitung,” kata Aneke.
Mantan Camat Girian ini juga mengatakan, saat ini pemerintah sangat fokus untuk menguatkan pelaku UKM mengingat di tengah pandemi hanya UKM yang masih mampu bertahan menggerakkan ekonomi.
Juga Aneke menyampaikan data jumlah UKM di Kota Bitung dari data 6.755 yang aktif hanya sekitar 5000an kemudian kembali dilakukan pendataan hanya tersisa 3.800an.
“Namun saat ini jumlah UKM tiba-tiba naik menjadi 10.650 akibat adanya bantuan dari pusat yang sementara berlangsung saat ini,” katanya.
Sementara itu, Geraldi menyampaikan, DPRD sampai saat ini masih terus berupaya mensuport penguatan UKM di tengah pandemi covid-19 lewat porsi annggaran lebih besar dalam APBD.
“Ketika awal-awal covid-19, kami langsung berkoordinasi dengan Dinas Koperasi dan UKM karena kebetulan menjadi salah satu mitra kerja kami di Komisi II. Yang kami ingin pastikan kesiapan Dinas untuk menopang UKM selama covid-19,” kata Geraldi.
Namun harus diakui kata kader PDI Perjuangan ini, anggaran yang telah diplot untuk Dinas Koperasi dan UKM ikut juga digeser untuk penanganan covid-19 sehingga berimbas pada beberapa program.
“Kami coba siasati di APBD Perubahan dengan menambah anggaran tapi itu tidak memungkinkan karena ketersedian anggaran sangat terbatas. Harapannya di APBD 2021 porsi anggaran untuk koperasi dan UKM jauh lebih besar agar perekonomian kita bisa kembali bangkit,” katanya.
(abinenobm)
