
Bitung – Sejumlah tenaga ahli fraksi di DPRD Kota Bitung dihinggapi rasa was-was karena terancam gaji mereka tidak akan dibayar.
Pasalnya, beredar kabar jika Sekretariat DPRD Kota Bitung mengeluarkan kebijakan baru bagi tenaga ahli fraksi yang ikut pencalegkan gajinya akan distop.
Akibatnya, kebijakan itu menimbulkan kegaduhan di internal anggota DPRD mengingat kebijakan itu dianggap terlalu mengada-ada dan tanpa dasar kuat.
Apalagi ada empat tenaga ahli fraksi yang terancam tak terima gaji jika aturan itu diberlalukan, yakni Novie Tangkudung tenaga ahli fraksi PKPI, Lili Kadeke tenaga ahli fraksi PDIP, Robby Kambey tenaga ahli fraksi Hanura dan Sherly Pangau tenaga ahli fraksi Demokrat.
Dari informasi, dasar kebijakan yang dibuat Sekretariat DPRD itu mengacu dari anggaran untuk menggaji para tenaga ahli fraksi yang bersumber dari APBD sehingga harus mundur jika ikut pencalegkan.
Informasi itu tak ditampik keempat tenaga ahli farksi yang mengaku sudah mendengar secara lisan dari mulut ke mulut di internal DPRD.
“Kami hanya mempertanyakan kebijakan itu dasarnya apa. Dan memang informasi itu sudah beredar di DPRD,” kata Novie, Lili, Sherly dan Roby, Kamis (27/09/2018).
Menanggapi rencana kebijakan itu, salah satu kader PDI Perjuangan, Atos Lumombo mempertanyakan kinerja Sekretariat DPRD Kota Bitung yang dinilai asal membuat kebijakan.
“Sikap atau kebijakan itu telah memicu kegaduhan di internal di DPRD karena tahapan Pemilu yakni penetapan Caleg sudah lewat,” katanya.
Dan saat ini kata Atos, sudah DCT tapi Sekretariat baru mempersoalkan dan membuat kebijakan soal tenaga ahli fraksi yang ikut pencalegkan.
“Kenapa baru diangkat sekarang setelah sudah ada DCT dan sudah masuk tahap kampanye Caleg? Kenapa tidak dari awal disaat baru tahapan Bacaleg?,” katanya.
Atos berharap, bagian Sekretariat tidak membuat kebijakan yang bisa menimbulkan kegaduhan mengingat saat ini sudah sementara proses kampanye yang semuanya bisa dipolitisasi.
“Jelas kebijakan itu mengandung unsur politis karena tak mimiliki dasar kuat,” katanya.
(abinenobm)
