Berita Utama

“ABS Makin Membudaya,” Sodorkan Isterinya untuk Atasan

"ABS Makin Membudaya," Sodorkan Isterinya untuk Atasan
Upacara PNS (ilustrasi)

Oleh: Freddy Harry Sualang

MANADO – Sikap mental ABS atau Asal Bapak Senang, dewasa ini terasa makin membudaya, artinya sikap, mental ABS sekarang telah menjadi perilaku yang sangat mewarnai prilaku para birokrat kita.

Sebenarnya ada hal hal yang positif dari sikap Asal Bapak Senang ini, yaitu bahwa ketika seorang staf, seorang bawahan, ingin membuat atasannya senang dengan cara bekerja rajin, disiplin, setia dan jujur serta berprestasi maka tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif.

Akan tetapi sikap ABS dewasa ini lebih nampak pada perilaku menyenangkan atasan melalui cara-cara yang cenderung negative. Yang sering terjadi sekarang adalah menyenangkan atasan dengan cara melanggar aturan. Cara yang jauh dari kejujuran dan bukan lagi loyalitas yang rasional tapi sudah loyalitas yang irasional.

Mencermati prilaku para birokrat kita dewasa ini akan cukup mengejutkan kita apabila kita berpikir terlalu idealis. Bukan rahasia lagi praktik-praktik tidak terpuji dilakukan karena ingin menyenangkan atasan, sekaligus untuk mendapatkan jabatan atau untuk mempertahankan jabatan.

Rolling dan mutasi yang sering dilakukan oleh seorang kepala daerah, yang adalah hal biasa dalam rangka penyegaran, penguatan, dan pemberdayaan stuktur organisasi menjadi momok yang menakutkan, terutama bagi person-person yang memang kapabilitasnya tidak memadai atau pas-pasan, sehingga mereka harus melakukan pendekatan-pendekatan dengan cara yang “ABS” dengan berbagai jurus.

Lihat saja fakta disuatu daerah yang bupatinya baru terpilih, apabila bupati itu naik kendaraan kuning, maka seluruh kepala SKPD nya akan tiba-tiba berubah se-akan akan kuning semua. Kalau bupatinya merah maka se-akan merekapun merah, pokoknya birokrat kita sekarang sudah seperti bunglon. Yang paling repot kalau bupatinya kutu loncat, semua jadi pada bingung. Jadi para birokrat yang “cerdas“ sudah siap dilemarinya batik berbagai warna untuk cepat menyesuaikan, dengan selera Bapak.

Repotnya dengan sikap ABS ini banyak yang tidak mampu mengelak dari tindakan pelanggaran dan yang paling banyak mengalami masalah seperti ini biasanya para Kabag Keuangan, para bendaharawan. Banyak diantaranya terpaksa melakukan trik-trik sulap untuk mensiasati perintah atasan yang sebenarnya melanggar aturan.

Bagaimana mengatur yang tidak ada menjadi ada, yang tidak dilakukan menjadi dilakukan, bagaiman yang hanya 50 harus jadi seratus misalnya, karena perintah atasan begitu. Yang tidak masuk diakalpun atau melanggar aturan bisa dilakukan, misalnya perjalanan dinas, apakah bisa terjadi ratusan pegawai tiba-tiba semua dapat SPPD pulang kekampungnya masing masing?

Rasanya tidak mungkin tapi karena ABS hal ini bisa terjadi, karena tugasnya mencari suara untuk bapak. Apakah kendaraan dinas dan pegawai bisa ikut kampanye cabup, menurut aturan tidak boleh tapi dalam praktiknya sering terjadi. Tinggal tukar plat nomor dari merah jadi hitam (Yang nekad malah tidak perlu tukar plat nomor). Pakaian dinas diganti saja dengan kaos, yang sedikit punya rasa malu terpaksa mengenakan kaca mata hitam.

Beberapa bentuk prilaku Asal Bapak Senang atau carmuk (cari muka ) yang sering dilakukan para birokrat:

– Pura-pura menjadi simpatisan atau pendukung partai atasannya.
– Menjadi tim kampanye bayangan dari atasannya.
– Membantu pendanaan kampanye dari dana  SKPD dengan resiko harus merekayasa laporan pertanggung jawaban keuangan.
– Memanfaatkan program program pemerintah untuk memenangkan atasannya yang ikut pilkada.
– Berusah untuk selalu menempel atasannya, biarpun tugasnya terbengkalai dan pelayanan kepada masyarakat terganggu.
– Menyiapkam upeti rutin.
– Yang paling menyedihkan dan memalukan sengaja menyodorkan isterinya untuk menyenangkan atasannya!

Bagi sementara birokrat budaya ABS ini dianggap sebagai wujud dari loyalitas kepada atasan, sehingga meskipun atasannya sudah melakukan pelanggaran mereka tidak memberi saran untuk mencegahnya, tapi lebih sering mendiamkan atau malah turut membantu melakukannya.

Perilaku “ABS” atau carmuk ini sudah makin membudaya di sementara para birokrat kita dan mengakibatkan banyak yang hidup dalam kemunafikan, ke-pura-pura-an, ketidakjujuran dan menjadi sangat permisif  dan kompromi  terhadap pelanggaran dan kejahatan tanpa menganggap itu sebagai pelanggaran dan kejahatan karena dilakukan sebagai abdi negara.

Apalagi sudah bukan rahasia lagi dikalangan birokrat, kalimat yang dipopulerkan Alm. ADAM MALIK : “SEMUA BISA DIATUR”

Lihat saja sebagai contoh: kasus di kota Tomohon ketika BPK disuap untuk membuat agar hasil pemeriksaan disesuaikan dengan permintaan pemkot, kasus yang sama juga terjadi di Kabupaten Bekasi.

Entah kapan penyakit yang merusak moral birokrat ini bisa disembuhkan, yang jelas selama penyakit ini tidak hilang maka tidak mungkin kita mendapatkan pemerintah yang professional, bersih dan berwibawa, yang ada adalah pemerintah yang katanya tanpa, tapi diam-diam ada, yang sepertinya bersih padahal tidak, karena kecerdasan merekayasa, karena pintar mengelabuhi dan menutupi.

Prilaku “ABS” ini jelas telah memberikan saham yang cukup besar terhadap terjadinya korupsi terselubung diberbagai instansi. Padahal kita bisa menyenangkan atasan tanpa melanggar aturan, ataupun merugikan daerah.

Dalam konteks itu kita kutip apa yang disampaikan Sekdaprov Sulawesi utara Ir.S.R.Mokodongan yang menyatakan “Sebagai PNS/birokrat segala tugas yang dipercayakan atasan harus dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab yang tinggi”. Artinya, disiplin, profesionalisme dan loyalitas harus dikedepankan. (Tentu saja yang dimaksud loyalitas adalah loyalitas kepada aturan dan kebijakan yang tidak melanggar aturan atau merugikan rakyat).

Lanjut dikatakan, “tetapi yang utama bekerja adalah ibadah.”  Ini yang luar biasa menjadikan pekerjaan sebagai birokrat sebagai ibadah, berarti seorang birokrat tidak saja abdi negara dan abdi masyarakat tetapi juga abdi Allah. Bahkan dalam kitab suci umat Kristen pemerintah disebut wakil Allah. Sebagai wakil Allah pemerintah mempunyai kedudukan yang khusus di hadapan Allah. (*)

12 tanggapan untuk ““ABS Makin Membudaya,” Sodorkan Isterinya untuk Atasan”

  1. Al of them need repentance..God is sick to see their behaviour!! But we can’t judge them because HE is the great Judge. Be careful “Bosses” there will be time when the punishment come. Let us pray for our beloved city, may the Lord’s mercy still be upon this city.
    To God be the Glory!!!!!!!!

  2. Terserah mau bilang orang apa / orang mana yang penting sekarang dapat dibeli biar itu martabat hancur (serahkan isteri, siapkan wanita2 untuk pejabat2 dll “Yang Penting kita Hidop ” biar dorang mau bilang “pintar bagoso”, “jago cari muka”, “jago ba jilat” dll. Itu namanya orang so nintau malu, so nyanda ada harga diri dihadapan Tuhan & Negara. Orang2 seperti ini harus di-basmi habis2-an. Jadilah orang yang berpendirian, berpendidikan & berprestasi.

  3. LEBIH BAIK KEMBALI PADA KULTUR [ADAT], MELANGGAR ADAT HUKUMNYA SANGAT BERAT DAN TIDAK PANDANG PEJABAT ATAU ORANG BIASA.

  4. Ini Om Freddy pe kalimat yg dorang da beking judul seperti memojokkan perempuan. Mana ada sih perempuan yg mau begitu saja disodorkan kepada pejabat? Emang ada perempuan rupa itu di zaman sekarang? Kalu-pun ada pasti karena tu perempuan juga mau….
    Om Freddy pe tulisan terlalu memojokkan pejabat. Sepertinya semua pejabat rupa bagitu. Kalu memang bagitu, noh apa dang Om Freddy pe kontribusi untuk merobah kelakuan seperti itu menjadi baik? Bukankah Om Freddy juga mantan pejabat?

  5. SULUT ( MANADO ), DULU DIKENAL KOTA RELIGIUS, KEMUDIAN DIKENAL DGN PARA INTELEKTUALNYA. SEKARANG MENYAINGI KOTA SODOM DAN GOMORA. AMPUNnnnnnn……

  6. kebanyakan so lupa itu Allah lantaran dorang so tabiasa lakukan itu KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme), jadi so nyandak barasa. mati rasa soal2 yang benar, bahkan Tuhan pun cuma ada waktu dorang ke greja2, kaluar dari greja, langsung lupa itu Tuhan. Mudah2an Tuhan akan hukum dan kutuk pa dorang deng dorang pe keluarga.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara