Massifnya penataan sungai dan waduk di Jakarta, membuat banjir tidak lagi menahun datangnya. Karena air hujan langsung tertampung ke dalam sungai, waduk, atau saluran air yang relatif lebar dan tidak dangkal lagi.
Untuk menjaga kesinambungan fungsi fasilitas pengendali banjir ini, Ahok membangun tim kebersihan yang tangguh.
Dia merekrut sedikitnya 16.000 tenaga kebersihan yang dia beri nama Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau orang-orang menyebut mereka pasukan oranye, karena berseragam oranye.
Tugas mereka membersihkan sampah di tepi jalan utama sampai gang-gang di perkampung, membersihkan sampah di selokan air, sampai memangkasi ranting pohon yang mengganggu.
Kehadiran PPSU PPSU ini sangat menolong warga Jakarta, apalagi di kala hujan. Ketika hujan turun, Ahok mengerahkan PPSU ini untuk memantau perkembangan air di sudut-sudut kota.
Jangan sampai air hujan meluap atau menggenangi jalan yang bisa berimbas pada macetnya lalu lintas kendaraan.
Penataan Jakarta yang dimulai dari membangun rumah susun atau konsep hunian vertikal memang solusi terbaik. Orang-orang Jakarta merasakan betul bagaimana mereka memiliki banyak ruang terbuka hijau.
Hunian vertikal juga mencegah orang-orang tak mampu scara ekonomi untuk bermukim secara ilegal di kawasan terlarang seperti tepi sungai, tepi waduk, pinggir rel, atau kawasan tangkapan air.
Dengan hunian vertikal ini, pengelolaan sampah juga menjadi lebih mudah, karena sebarannya bisa dikontrol di beberapa titik.
Model penataan kota yang dikerjakan Ahok di Jakarta ini, apa salahnya bila dicoba dikerjakan di Kota Manado?
Tentu dengan sentuhan berbeda.
Manado sudah waktunya ditata sebelum terlambat dan semrawut di sana-sini.
Krista Riyanto, Jurnalis dan Penulis.
