
Manado, BeritaManado.com – Jemaat GMIM Betani Sindulang Singkil, Kota Manado, menggelar Ibadah dan Gelar Acara Syukur Tulude sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan memasuki Tahun 2026, Jumat (30/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja GMIM Betani Sindulang Singkil, Jalan Hasanuddin No 72, Sindulang I, ini dihadiri ribuan umat dan masyarakat Nusa Utara.
Perayaan Tulude dilaksanakan dalam dua rangkaian utama, yakni prosesi adat dan ibadah syukur.
Rangkaian awal dimulai pukul 15.00 WITA dengan Prosesi Kue Tamo dan upacara adat, yang ditandai dengan pemotongan Tamo diiringi Tarian Gunde dari Kantor Perwakilan Nusa Utara.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pemasangan Poporong oleh Ketua Jemaat kepada Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard Sualang, disaksikan seluruh undangan dan masyarakat yang hadir.
Rangkaian kedua dilanjutkan dengan Ibadah Syukur Tulude di dalam gereja yang dipimpin Pdt. Dr. Roy Tamaweol.
Ibadah berlangsung khidmat dengan liturgi dua bahasa, mencerminkan kekayaan iman dan budaya warga Nusa Utara.
Suasana ibadah semakin semarak dengan iringan musik orkes jemaat serta Masamper PKB GMIM Betani Sindulang Singkil.
Turut hadir memberikan sambutan Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulut, Teresia Sompi, SH, MSI.
Hadir pula unsur Forkopimda, antara lain Kapolda Sulut yang diwakili Direktur Bimas Polda Sulut Kombes Pol Rio Aleksander Panelewen, SIK, perwakilan Kodam XIII/Merdeka Kolonel Edison, serta para camat, lurah, dan undangan dari berbagai wilayah Nusa Utara.
Dalam khotbahnya, Pdt. Dr. Roy Tamaweol menegaskan bahwa Tulude merupakan warisan leluhur masyarakat Nusa Utara yang sarat makna rohani.
Tradisi ini, menurutnya, mengingatkan umat akan kasih Tuhan yang menjaga, merawat, dan melindungi kehidupan, sekaligus menjadi momentum memperkuat rasa syukur, persatuan, dan semangat hidup rukun dalam nilai “baku-baku bae, baku-baku tolong”.
Rangkaian ibadah syukur ditutup dengan Masamper bersama, dilanjutkan ramah tamah dan pesta rakyat yang disiapkan oleh seluruh jemaat, diiringi musik bambu, sebagai simbol sukacita dan kebersamaan warga gereja dan masyarakat.
(rds)
