
Sejumlah tokoh adat Sangihe dan Talaud tampak berdiskusi dengan Mor Dominus Bastiaan (kemeja biru tua)
Manado – Bertempat di salah satu restoran yang berada di kawasan Mega Mas, sejumlah tokoh adat Sangihe dan Talaud bertatap muka bersama Mor Dominus Bastiaan yang saat ini terdaftar sebagai calon Wakil Wali Kota Manado yang diusung Partai Demokrat dan PKPI.
Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh yang diantaranya, Max Siso, Agus Tahendung (Ketua IKIS), Herman Tatareda (mantan birokrat), Frits Tumimbang (mantan bupati Talaud), Frens Giwutang (birokrat), ibu Lutia-Madelu (istri mantan bupati Sangihe), Decky Maskikit (totok muda Talaud), Arthur Kekung (mantan ketua sinode Gempu), Wilson Berhimpon (birokrat).
Pada kesempatan itu, Max Siso yang tidak lain kerabat Mor, menegaskan bahwa, pencalonan Mor sebagai Wakil Wali Kota, akan mendapatkan pendampingan dari para tokoh adat Sangihe dan Talaud.
“Kami ini yang hadir merupakan tua-tua dan tokoh adat yang juga bisa dikatakan merupakan orang tua dari Mor. Kami tidak ingin, Mor berjalan laksana anak yatim. Apalagi, Mor merupakan keturunan raja,” kata politisi PDIP ini.
Lebih lanjut diungkapkannya, pendampingan yang dilakukan para tokoh adat itu juga dilakukan agar Mor tidak terseret pada politik tidak santun.
“Bastiaan itu nama salah satu raja di Sengihe. Jadi kami tidak ingin, Mor sebagai keturunan raja terseret politik yang kurang santun seperti sekarang ini yang terjadi. Karena menurut kami, politik saat ini merupakan sebuah industri yang harus menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil yang baik. Dan kami tidak ingin, Mor terperangkap pada politik yang kotor,” tegasnya.
Ketika ditanyai wartawan terkait status Max sebagai kader PDIP, ia pun mengaku sangat menghargai keputusan partai. Namun, dirinya juga tidak ingin merusak hubungan kekerabatan dengan Mor yang selama ini terjalin dengan baik.
“Saya hormati apa yang sudah diputuskan partai. Saya juga sekarang ini berada diposisi yang sulit. Tapi harus dihormati juga, hubungan saya dengan Mor. Saya ini Omnya. Karena itu saya tidak ingin hubungan kekerabatan ini dirusak karena momen politik seperti sekarang ini,” tandasnya. (leriandokambey)

GSVL einstein masih kasih jempol keatas. Kombinasi karakter Birokrat, Politis dan Profesional.
Kalo bicara etnis Nusa Utara di Manado, survey berbicara angka 40%, sisanya 60% sudah campuran semua etnis, artinya etnis Nustar masih lebih dominan.
Tapi GSVL-MOR menurut saya masih pilihan paling Logis alias masuk akal bukan karena pilihan etnis.
GSVL saya sejauh ini saya tidak melihat kekurangannya.
Kalau dikritik soal penataan pasar, saya cuma berpikir bahwa seorang yang sarat pengalaman seperti GSVL saja masih kewalahan menangani pasar apalagi yang baru mau belajar aplikasi lapangan alias baru turun dari kursi politik dan belajar blusukan….hehehehe…
Kalau GSVL diberikan kesempatan untuk melanjutkan dan menuntaskan program-program yang sudah dijalankannya, saya yakin Manado akan go internasional.
Max Siso, Agus Tahendung (Ketua IKIS), Herman Tatareda (mantan birokrat), Frits Tumimbang (mantan bupati Talaud), Frens Giwutang (birokrat), ibu Lutia-Madelu (istri mantan bupati Sangihe), Decky Maskikit (totok muda Talaud), Arthur Kekung (mantan ketua sinode Gempu), Wilson Berhimpon (birokrat).. catet namanya yehhh
Mantap pak MOR !
LANJUTKAN voor Manado yg lebih baik ne
doa dan dukungan untuk GSVL MOR