Agama dan Pendidikan

Tim PKM Unsrat Manado Bekali Pengrajin Bambu Tomohon

Tim PKM Unsrat Manado Bekali Pengrajin Bambu Tomohon
PKM Unsrat Manado kepada di Kinilow

Tomohon, BeritaManado.com — Tim Program Kemitraan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Senin (30/9/2019) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan sasaran yaitu para pengrajin bamboo di Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara.
Ketua Tiim PKM Unsrat Manado Prof. Jefrey Kindangen bersama dengan Octavianus Rogi ST MSi dan Johansen Mandey ST MT, memberikan pembekalan tentang era revolusi industry 4.0.

Menurut Kindangen, tujuan program tersebut adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui kemitraan dengan perguruan tinggi, dimana kelompok pengrajin bamboo yang ada di Kota Tomohon ini dapat menjadi satu target dari sejumlah PKM di tahun 2019 ini.

Dijelaskannya, sebagai langkah awal, para pengrajin bamboo diberikan pengenalan sasaran program, pemetaan persoalan dasar dan kebutuhan yang diperlukan.

Kelompok-kelompok pengrajin bamboo yang dikoordinir oleh Nelly Warongan terdiri dari 12 kelompok, dimana rata-rata dari mereka adalah ibu rumah tangga.

Dari hasil observasi dan pemetaan masalah, diketahui bahwa yang menjadi perhatian serius dari Tim PKM Unsrat Manado ini adalah pengolahan dan pengawetan bamboo, desain produk kerajinan, manajemne dan pemasaran secara daring.

“Dalam hal ini, kami memperkenalkan cara pengawetan bamboo secara tradisional dengan memberikan pengertahuan metode pencelupan dengan kapur dan juga insektisida agar supaya bamboo bias awet dan kualitasnya terjaga,” ucapnya.

Selailn itu, tim juga memberikan membekali mereka dengan desain kerajinan bamboo untuk memperluas jenis produk kerajinan dan memperhatikan segmen pasar yang sedang berkembang.

“Kerajinan bambu untuk mainan anak-anak adalah potensi pasar yang berpeluag untuk digarap, terutama aspek edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran lokalitas dan kreativitas anak-anak terhadap material alamiah,” jelas Kindangen dan tim kepada pengrajin bambu.

Adapun pelatihan terdiri dari tiga bagian, yaitu pengaertan bambu, desain produk dan pemasaran daring yang mendapatkan apresiasi dan sambutan besar seluruh peserta.

Yang menarik dalamm kegiatan ini yaitu modul pemasaran daring, dimana hal itu menjadi diskusi menarik, dimana dalam pembahasan dan diskusi, ibu-ibu pengrajin bambu mengalammi kendala dengan penjualan produk yang dihasilkan secara online (daring).

Dalam kegiatan tersebut didapati bahwa anak-anak mereka sangat mahir mengoperasikan gadget atau smartphone maupun computer, bahkan diantara mereka ada yang sudah terbiasa dengan membeli elwat online.

Pemasaran daring merupakan salah satu cara memperluas pasar dan prosoesnya bias jadi lebih cepat, akan tetapi ada prasyarat yang dituntut yaitu persediaan barang yang harus selalu ada setiap waktu.

Maka dari itu Tim PKM Unsrat Manado memberikan pengertian akan pola paguyuban dalam mneyediakan produk, dimana diharapkan kelompok pengrajin dapat menghilangkan egoism yang hanya mementingkan diri sendiri.

“Sebagai suatu kelompok, didalamnya harus memiliki semangat kerjasama, dimana hal yang sangat krusial itu perlu dilatih dan dipraktekkan. Kami juga menemui persoalan soliditas kelompok, karena masih ada anggota yang berusaha sendiri daripada bersama-sama, padahal kebutuhan dan permintaan masyarakat dianggap cukup besar namun di sisi lain sistem produksi yang masih primitif,” ungkap Kindangen.

Prinsip “Own Economy” yang memerlukan model sendiri yang sangat besar dapat diatasi dengan “Sharing Economy” yang leboih ringan dalam hal biaya.

Adapun keluhan yang disampaikan papra pengrajin bambu yaitu kekurangan modal usaha, dimana hal itu diduga dikarenakan penerapan yang pertama, banyak permintaan dalam produksi kerajinan, maka banyak pula modal usaha yang dibutuhkan.

Metode pemasaran daring atau secara online, merupakan hal yang tidak dapat dihindari pada era revolusi inndustri 4.0 saat ini, maka dari itu dengan melihat situasi yang ada, maka Tim PKM Unsrat Manado menyadari bahwa program pendampingan dibutuhkan secara berkesinambungan, demikian juga dengan bantuan-bantuan pemerintah setempat untuk membangu gedung atau ruangan pameran dan bursa kerajinan bambu yang lebih baik.

(***/Frangki Wullur)

ADVERTISEMENT