
Penulis: Jhonli Kaletuang
Transformasi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) tidak cukup hanya mengandalkan perubahan status kelembagaan.
Pembenahan tata kelola, transparansi keuangan, pemerataan kesempatan riset hingga peningkatan kesejahteraan dosen harus menjadi pekerjaan utama.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. dr. Theresia M.D. Kaunang, SpKJ, Subsp. AR (K), yang resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Rektor Unsrat.
Menurut Theresia, Unsrat harus mampu membangun lompatan besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya agar memiliki daya saing, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Ia menilai, cita-cita membawa Unsrat dari Sulawesi Utara menuju panggung global harus dimulai dengan membenahi persoalan mendasar di dalam kampus, terutama sistem tata kelola institusi.
Salah satu agenda strategis yang menjadi perhatiannya adalah transformasi Unsrat dari PTN Badan Layanan Umum (BLU) menuju PTN-BH.
Namun, perubahan tersebut harus dibarengi kesiapan sistem pengelolaan yang lebih profesional, akuntabel, transparan, dan sesuai regulasi.
Theresia secara khusus menyoroti tata kelola keuangan dan berbagai persoalan kepatuhan terhadap aturan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Menurutnya, berbagai kelemahan dan pelanggaran yang pernah terjadi harus menjadi bahan evaluasi serius agar tidak kembali terulang.Tak hanya soal kelembagaan, ia juga mengangkat persoalan kesejahteraan tenaga pendidik.
Theresia menilai, kontribusi dosen dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi harus diimbangi dengan perhatian nyata terhadap kesejahteraan mereka.
“Seolah-olah sebagai dosen kita hanya diperas tenaga, tetapi kesejahteraan itu tidak diperhatikan,” menjadi salah satu kritik yang disampaikannya.
Di bidang akademik, Theresia menegaskan pentingnya mempertahankan akreditasi unggul sekaligus membangun ekosistem riset yang lebih sehat dan kompetitif.
Ia menginginkan kesempatan penelitian diberikan secara adil berdasarkan kapasitas dan kualitas akademik, bukan karena kedekatan dengan pihak tertentu.
Menurutnya, banyak dosen memiliki kemampuan dan kapasitas riset yang baik, tetapi belum memperoleh kesempatan optimal untuk mengembangkan potensinya.
“Jangan sampai hanya mereka yang dekat dengan pihak tertentu yang mendapatkan kesempatan riset optimal, sementara dosen lain yang memiliki kapasitas justru tidak dimanfaatkan,” demikian substansi kritiknya.
Theresia juga mengingatkan bahwa pengembangan universitas tidak boleh hanya berorientasi pada dosen dan institusi.
Mahasiswa harus mendapatkan ruang lebih luas untuk berkembang, berinovasi, serta memiliki kemampuan bersaing di tingkat internasional.
Persoalan kemandirian keuangan dan optimalisasi aset kampus turut menjadi perhatian. Ia menilai, aset Unsrat, termasuk lahan yang belum dimanfaatkan secara produktif, harus dikelola dengan baik agar memberikan nilai tambah bagi pengembangan universitas.
Lebih jauh, Theresia mendorong pengembangan jiwa sociopreneur dan kewirausahaan di seluruh fakultas. Menurutnya, potensi menciptakan usaha dan inovasi tidak hanya dimiliki Fakultas Ekonomi, tetapi juga seluruh disiplin ilmu yang ada di Unsrat.
Dengan demikian, setiap fakultas diharapkan mampu melahirkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Theresia, transformasi Unsrat menuju PTN-BH harus menjadi momentum untuk membangun universitas yang lebih sehat, mandiri, transparan, serta mampu memberikan ruang yang adil bagi dosen dan mahasiswa.
