Berita Utama

TCM Kian Digandrungi Masyarakat Indonesia Pascapandemi

Klien dari Jerman, Belanda, Serbia, hingga total kurang lebih 20 negara disebut pernah menyambangi klinik Tomy yang informasinya menyebar dari mulut ke mulut dari berbagai profesi yang pernah menjadi kliennya.

Terapi (pengobatan Timur) yang kita anggap normal dan biasa di sini ternyata tergolong mahal dan langka di negara mereka (Eropa).

Inilah artinya kita harus menyadari potensi yang bisa digarap dan sangat mungkin pengobatan bisa dijadikan wisata kesehatan.

Pernyataan Tomy tersebut seolah mengamini program wellness tourism yang tengah dijalankan pemerintah.

Seperti dikutip baik dari laman situs Kementerian Pariwisata (Kemenpar), pengembangan wellness tourism disebut menjadi prioritas strategi nasional karena menjawab tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, salah satunya pemulihan ekonomi dan kesehatan pasca pandemi.

Klinik-klinik kesehatan dengan metode pengobatan Timur seperti yang dikelola Tomy menjadi penyumbang implementasi empat pilar yang telah disepakati dalam mengembangkan wellness tourism oleh pemerintah yakni wisata medis, wisata kebugaran, wisata olahraga kesehatan berbasis event olahraga, dan wisata ilmiah kesehatan berbasis MICE.

Pasalnya, tak hanya terapi fisik, aneka ramuan pun turut diracik oleh Tomy ala pengobatan Timur yang sebagian besar turut mengadopsi metode TCM.

Ramuan tersebut berwujud herbal untuk energi, stamina, melancarkan energi dan mendinginkan tubuh.

Untuk klien dengan penyakit kronis, Tomy mempraktikkan pengobatan herbal TCM dengan bahan yang didatangkan langsung dari China.

Klien yang telah ditanganinya selama ini antara lain mengidap penyakit seperti kanker payudara, kanker otak dan autoimun.

Bagi pemerintah dan pelakunya, harapannya tentu pengobatan tradisional di dalam negeri dapat “naik kelas”, otomatis akan turut memicu kepercayaan masyarakat untuk berobat di dalam negeri dibanding berinvestasi kesehatan di luar negeri.

Tingginya minat dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap TCM salah satunya dikarenakan kesamaan yang dimiliki oleh pengobatan tradisional lokal dengan metode asal China tersebut.

“Secara sejarah ada kesamaan antara pengobatan tradisional nusantara dengan TCM. Masalahnya kita tidak punya sistem dokumentasi yang baik di masa lalu, semuanya hilang kemungkinan karena berbagai konflik di masa lalu, dijarah pada era kolonial,” papar Tomy.

Ketika ditanya pendapatnya tentang masa depan pengobatan ala TCM di Tanah Air, Tomy pun punya harapannya sendiri jika pengobatan tradisional di dalam negeri bisa berjalan beriringan dengan pengobatan modern ala Barat, seperti yang telah diterapkan di China.

“Idealnya pengobatan tradisional dan modern kita bisa berjalan beriringan dan tidak ada yang mengeklaim siapa lebih baik karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” tambahnya.

Ketika ditanya faktor apa yang menyebabkan pengobatan tradisional dirasa masih belum mendapat tempat sejajar di dunia medis, Tomy punya pendapatnya sendiri.

“Pengobatan lokal kita perlu untuk menjadi lebih scientific untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat, karena hal itulah yang telah mampu dibuktikan TCM di negara asalnya, China, dan membuat metode pengobatan tersebut dapat dianggap sejajar dengan pengobatan modern ala Barat,” imbuh Tomy.

Dari sudut pandang klien atau pasien, TCM pun dinilai sudah berkembang pesat dari masa ke masa dan tak sekadar menjadi alternatif untuk pengobatan medis untuk penyakit yang dideritanya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara