Berita Utama

Maroko Mengajarkan Arti Moderasi Beragama Sesungguhnya: Kisah Joune Ganda dari Negeri Raja Mohammed VI

Maroko Mengajarkan Arti Moderasi Beragama Sesungguhnya: Kisah Joune Ganda dari Negeri Raja Mohammed VI
Bupati Joune Ganda saat memimpin upacara peringatan Hari Keluarga Nasional di Lapangan Pemkab Minahasa Utara, Senin (29/6/2026). Foto: Ist

Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara

Pengalaman mengikuti ajang internasional di Maroko meninggalkan kesan mendalam bagi Bupati Joune Ganda.

Tak hanya membawa nama daerah di panggung dunia, tetapi juga pulang dengan sebuah pelajaran berharga tentang moderasi beragama, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menurutnya layak menjadi inspirasi bagi Indonesia, khususnya Minahasa Utara.

Joune Ganda berada di Maroko sebagai salah satu finalis UCLG ASPAC Peace Prize.

Sebuah ajang internasional bergengsi yang mempertemukan pemerintah daerah dari berbagai negara.

Kabupaten Minahasa Utara berhasil mencatat prestasi membanggakan dengan terpilih sebagai salah satu dari lima finalis terbaik dunia dari sekitar 80 peserta yang berasal dari berbagai negara.

Di hadapan jajaran pemerintah daerah usai kepulangannya, Joune mengaku ada satu hal yang paling membekas selama berada di Kerajaan Maroko.

Bukan kemegahan kotanya, bukan pula kemajuan infrastrukturnya, melainkan karakter masyarakatnya.

Menurutnya, Maroko menjadi contoh nyata bagaimana moderasi beragama dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya melihat sendiri bagaimana masyarakat hidup dengan penuh rasa saling menghormati. Maroko bagi saya adalah salah satu negara dengan moderasi beragama yang luar biasa,” kata Bupati Joune, saat memimpin upacara peringatan Hari Keluarga Nasional di Lapangan Pemkab Minahasa Utara, Senin (29/6/2026).

Dikatakan, Maroko merupakan negara dengan penduduk yang hampir seluruhnya beragama Islam.

Namun fakta tersebut justru memperlihatkan bagaimana mayoritas dapat hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang tanpa diskriminasi.

Joune mengisahkan berbagai pengalaman sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.

Selama berada di Maroko, ia dan rombongan beberapa kali sengaja menguji kejujuran para sopir taksi.

Misalnya ketika tarif perjalanan hanya 30 dinar, Joune sengaja memberikan uang 50 dinar.

Namun hasilnya selalu sama.

Para sopir dengan jujur mengembalikan uang kembalian sesuai tarif yang berlaku.

“Setiap perjalanan kami mencoba. Berkali-kali. Tetapi tidak ada satu pun sopir yang mengambil hak yang bukan miliknya. Semua mengembalikan uang dengan jujur,” ujar Joune.

Pengalaman lain juga dirasakannya saat berjalan kaki hingga dini hari menyusuri sudut-sudut kota.

Menurutnya, suasana terasa begitu aman.

Perempuan, anak-anak hingga wisatawan dapat beraktivitas tanpa rasa takut bahkan sampai pukul dua atau tiga pagi.

Jika membutuhkan petunjuk jalan, masyarakat setempat tidak hanya menunjukkan arah, tetapi bahkan rela mengantar hingga lokasi tujuan.

“Saya melihat masyarakat yang benar-benar ramah. Mereka membantu tanpa melihat siapa kita,” bebernya.

Yang paling menyentuh baginya adalah bagaimana masyarakat mengetahui dirinya dan rombongan merupakan orang Kristen yang berasal dari Indonesia.

Namun, hal itu sama sekali tidak memengaruhi cara mereka memperlakukan tamu.

“Tidak pernah ada perlakuan berbeda. Mereka tahu kami Kristen, tetapi tetap menghormati kami dengan sangat baik. Itu pelajaran yang luar biasa,” tuturnya.

Bagi Joune, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik ataupun kekayaan sumber daya alam.

Kunci utamanya adalah kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, karakter masyarakat yang jujur, disiplin, menghormati perbedaan serta menjaga keamanan menjadi modal utama sehingga Maroko mampu menjadi salah satu destinasi wisata dunia yang ramai dikunjungi wisatawan internasional.

“Masyarakat adalah kuncinya. Kalau sumber daya manusianya baik, saya yakin negara itu akan maju,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan budaya saling berbagi yang ditemuinya dalam transportasi umum.

Satu taksi dapat digunakan beberapa penumpang sekaligus dengan pembagian biaya yang adil tanpa ada upaya mengambil keuntungan berlebihan dari wisatawan.

Padahal, menurutnya, kesempatan untuk memanfaatkan wisatawan asing selalu ada.

Namun masyarakat lebih memilih menjaga kepercayaan dibanding keuntungan sesaat.

Pengalaman tersebut menjadi refleksi penting bagi Kabupaten Minahasa Utara yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Joune berharap nilai-nilai toleransi, kejujuran, dan moderasi beragama yang ia lihat secara langsung di Maroko dapat menjadi inspirasi untuk terus memperkuat kerukunan di Minahasa Utara.

Prestasi Kabupaten Minahasa Utara yang berhasil menembus lima besar dunia pada ajang UCLG ASPAC Peace Prize bukan hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dari praktik-praktik terbaik dunia yang dapat diterapkan demi mewujudkan masyarakat yang semakin harmonis, toleran, dan berdaya saing.

“Pelajaran terbesar yang saya bawa pulang bukan hanya penghargaan. Tetapi bagaimana sebuah bangsa bisa maju karena masyarakatnya hidup dalam kejujuran, menghargai perbedaan, dan menjadikan moderasi beragama sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.


BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara