Berita Utama

TCM Kian Digandrungi Masyarakat Indonesia Pascapandemi

TCM Kian Digandrungi Masyarakat Indonesia Pascapandemi
Foto yang diabadikan pada 24 November 2024 ini menampilkan suasana di Rumah Sehat Toms Hepi, yang menerapkan metode Traditional Chinese Medicine (TCM) di Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Xinhua

BeritaManado.com — Beberapa orang terapis tampak sibuk menangani para klien di dua ruang berbeda.

Seorang lainnya memberikan konsultasi.

Inilah pemandangan sehari-hari di Rumah Sehat Toms Hepi yang menerapkan metode Traditional Chinese Medicine (TCM) di Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diakui sang pemilik, praktiknya justru mendapatkan momentum positif ketika pandemi COVID melanda Indonesia pada 2020 silam.

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Sosial (PPKM) oleh pemerintah tidak menyurutkan praktiknya namun justru membawa berkah tersendiri.

“Herbal banyak dikonsumsi ketika pandemi. Dulu kita tidak punya pilihan kecuali tutup ketika pandemi, tapi justru mulai banyak yang datang ketika PPKM dicabut karena mereka takut ke rumah sakit atas pertimbangan keamanan,” kata Arief Aditama yang akrab dipanggil Tomy ketika dihubungi Xinhua pada Kamis (26/6/2025).

Kini, tiga tahun pascapandemi, kliniknya makin populer.

Tomy yang memulai praktiknya sejak 2009 silam mengakui jika klien yang datang ke kliniknya semakin bertambah, variatif, dan tak hanya dari area sekitar, namun juga luar kota hingga luar negeri.

“Pengobatan atau obat-obatan TCM sebenarnya sudah lama hadir di sekitar kita, tapi pandemi meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong mereka untuk mencoba berbagai alternatif guna menjaga kesehatan, terutama karena timbulnya kesadaran bahwa menjaga lebih baik daripada mengobati,” lanjut pria berusia 47 tahun dengan latar belakang pendidikan kedokteran gigi tersebut.

Tomy sendiri mengaku fokus pada pengembangan pengobatan tradisional dengan menggabungkan antara pengobatan tradisional lokal Jawa dan metode TCM yang telah tersohor di seluruh dunia.

“Kami menggunakan TCM sebagai core dari metode pengobatan, namun kita kembangkan juga dengan metode pengobatan tradisional lokal, karena keduanya terdapat kesamaan yaitu menggunakan pendekatan holistik,” ujar pria dengan ciri khas blangkon tersebut.

Para klien datang dengan berbagai keluhan dan antusias menjajal terapi fisik khas TCM seperti reposisi dan pelenturan sendi tulang belakang, guasa, tuina, dan chuizen, akupunktur, acupressure.

Kliniknya rata-rata bisa menangani hingga belasan klien dari berbagai kalangan dan profesi, mulai dari pengemudi ojek online hingga dosen perguruan tinggi, seniman hingga pejabat tinggi.

“Inti dari pengobatannya adalah energi dan bukan sekadar fisik, jika di Jawa ada istilah joyo maka di China ada chi, jika kita punya jahe dan kayu manis, maka dari TCM kita juga gunakan anchou dan cen ti, itu contohnya,” timpal Tomy.

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini cocok disematkan karena para terapisnya pun sebagian merupakan mantan klien Tomy yang kini turut mengembangkan minat menjadi praktisi di bidang kesehatan setelah sembuh atau merasakan sendiri manfaat pengobatan.

“Awalnya saya menderita sakit batu ginjal, saya berkenalan dengan suhu Tomy pada 2013 lalu, menjalani pengobatan, sembuh, tertarik belajar pengobatan TCM dan kini akhirnya menjadi salah satu terapis senior di sini,” ujar Aris (36) asal Kudus.

Seiring waktu dan menyebarnya informasi, wajah-wajah mancanegara pun tampak menyambangi klinik tersebut.

Alasan mereka tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjajal berobat ketika singgah di Yogyakarta tersebut antara lain menyadari bahwa praktik TCM atau pun pengobatan Timur terbilang berbiaya tinggi di negara asalnya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara