
Langowan – Tanpa kekompakan, Kota Langowan sulit jadi kenyataan. Itulah buah pikiran dari Jefferson Wantah di sela – sela acara Tou Langowan Bakudapa yang diselenggarakan di gedung serba guna Desa Waleure Kecamatan Langowan Timur, Senin (19/8) sore. Menurut Wantah, saat ini kekompakan seluruh elemen masyarakat belum terlalu kuat. Untuk itu diperlukan kesadaran dari setiap elemen masyarakat itu sendiri.
Adanya aroma kepentingan politik dan ketidak hadiran anggota DPRD Minahasa asal Langowan dalam acara yang di gagas generasi muda, merupakan indikasi ketidak kompakan untuk mewujudkan Langowan sebagai kota otonom. Namun demikian menurut Wantah, belum terlambat untuk melakukan pembenahan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian target yang ditetapkan bisa teralisasi dengan baik.
“Menurut saya tiga elemen inti yang harus menunjukkan kekompakan yang dimaksud adalah Panitia Pembentukan Kota Langowan (P2KL), pemerintah, dan masyarakat sendiri. Ini akan lebih kuat lagi jika didukung elemen – elemen kecil dari masyarakat, misalnya organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Sebagai bagian dari pihak yang mendukung terwujudnya Kota Langowan, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memberi diri dalam bentuk apapun untuk mempercepat pembentukan Kota Langowan,” ungkap Wantah. (ang)

Betul Prof, wjudkan KL dgn krja bkn dg Mulu. Lgwn talalu byk org pande, jd samua suka jd org ptg. Mkx dr taon 1998, KL nda prnh trwujud…cm jd Kota Wacana. Dorng2 sadar nda e ?! Kl skrg dorang “Baku Rampas Tulang” ?!!!.
Tantangan utama bagi Panitia ialah menghasilkan “Working Paper” tersebut. Khabarnya “working paper” tersebut sudah dibawa ke rana publik. Sa;luut lah. Tetapi, “working paper” tersebut harus terus diperbaiki dengan menampung “public evaluation”, evalusi public serta “studi” dan “inteligence” yang dilakukan Panitia untuk melihat dimana kendala dan atau hal hal yang dinilai masih belum dapat memenuhi pesyaratan menurut Peraturan Perundangan sehingga Keputusan Resmi oleh Negara untuk mensyahkan Pro[posal Agar Langowan menjadi Kota itu belum terbit.
SKerja keras dan semangat Panitia untuk pembentukan Kota Langowan harus ndiacungkan jempol. Cuma kan, bagaimana pun juga, kalau semangat itu hanya terutama mengandalakan “euphoria” yang tidsak terdukung oleh argumentasi dan kajian ilmiah(dari berbagaisudut: sosial, ekonomi, peraturan perundangan, hukum, termasuk politik). bahwa ” masyarakat lokal, kabupaten, propinsi dan NKRI akan menjadi jaiuh lebih maju dan sejahtra . Working Paper seperti ini mungkin tidak akan berkualitas kalau disusun oleh Panitia yang hanya mengandalkan “euphoria”. “Euphoria” itu, sangat perlu tetapi tidak akan effektif dan berhasil guna tanpa kajian ilmiah yang komprehensif…..FDisinilah sebetulnya peran Perguruan Tinggi untuk membantu Panitia dalam perjuangannya…..Selamat Berjuang. Syalom dari LWS for DPD RI 2014.
Betul sekali harus “kompak”. Masaalahnya, bagaimana supaya kompak?. Bagaimana supaya seluruh potensi Calon Kota Langowan, dikonsolidasi dan dieffektifkan?. Ini harus prosedr “Public Decision Making Proses”, Prsedur Pengambilan Keputusan Publik. Proses ini harus diawali dengan adanya sebuah “Working Paper”, sebuah dokumen yang dikaji secara ilmiah dari berbagai aspek secara “comprehensif”; yaitu semua persyaratan yang harus dipenuhi serta analisa ilmiah bahwa status Langowan dalam bentuknya sebagai “Kota Langowan” akan lebih memajyukan dan meningkatkan Langowan sendirimensejahtrakan bukan saja , tetapi juga masyarakat sekitar (Kabupaten Tetangga dan Provinsi) masyarakat Langowan dibanding dengan kalau dibiarkan seperti sekarang ini. Working Paper ini terus diperbaiki melalui “public discourses”, melalui diskurusus publik, melalui debat publik secara mendalam tetapi effisien….bersambung…