
Penulis: JenlyWenur | Minahasa
Bupati Minahasa, Robby Dondokambey, resmi melantik Nicolaus Tangapo sebagai Hukum Tua (Kumtua) Desa Pineleng Dua di Wale Ne Tou, Tondano, pada Selasa (14/6/2026).
Nicolaus dilantik bersama 127 Hukum Tua terpilih lainnya hasil Pesta Demokrasi Desa pada 17 Juni lalu, dan akan mengemban tugas selama delapan tahun ke depan hingga 2034.
Dalam sambutannya, Bupati Robby Dondokambey menyampaikan ucapan selamat sekaligus mengingatkan para pemimpin desa yang baru agar menjawab kepercayaan masyarakat dengan kerja nyata.
Ia menegaskan bahwa sumpah jabatan yang diucapkan merupakan ikrar suci, baik kepada pemerintah maupun kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Kiranya kepercayaan yang diberikan masyarakat dapat dijawab dengan kerja nyata serta kepemimpinan yang berintegritas,” ujar Robby Dondokambey.
Lebih lanjut, Bupati Minahasa menitipkan empat pesan krusial bagi seluruh Hukum Tua yang dilantik:
• Transparansi Anggaran: Melaksanakan tugas sesuai ketentuan serta mengelola keuangan desa secara transparan, akuntabel, dan tidak memihak segelintir kelompok.
• Persatuan Warga: Merangkul seluruh masyarakat tanpa membedakan pilihan politik. “Hari ini tidak ada lagi nomor, yang ada hanya masyarakat desa,” tegas Bupati.
• Sinergi Internal: Membangun kerja sama yang kuat dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) hingga organisasi pemuda.
• Koordinasi Daerah: Menjaga keselarasan program dengan pemerintah daerah agar pembangunan berjalan searah.

Sementara itu, Hukum Tua Desa Pineleng Dua terpilih, Nicolaus Tangapo, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangga usai prosesi pelantikan.
Selain bersyukur kepada Tuhan, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh masyarakat atas mandat yang diberikan, serta kepada Bupati Minahasa atas suksesnya gelaran pelantikan massal tersebut.
Nicolaus menegaskan, wejangan dari Bupati Robby dan Gubernur Sulut yang dibacakan oleh Asisten I Setdaprov, Denny Mangala, sangat sejalan dengan komitmen yang ia pegang untuk membangun desa ke depan.
“Tugas baru sudah menanti, namun tugas paling utama untuk saat ini adalah merangkul seluruh masyarakat. Saatnya lupakan perbedaan, demi masa depan desa yang lebih baik lagi,” pungkas Nicolaus optimistis.
