Amurang – Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara (Sulut) bakan tinggal kenangan, betapa tidak kelapa yang menjadi icon Sulut, semakin hari kian terkikis dengan produksi batang kelapa yang terus marak tanpa terkendali. Hal ini disayangkan pemerhati perkebunan Minahasa Selatan (Minsel) Ir Izak Habibuw, yang turut prihatin terhadap penebangan pohon kelapa yang dijadikan perabot rumah tangga, hingga tak terkendali.
Selain itu, harga kopra yang kian tak menentua, menjadikan salah satu pemicu harga batang kelapa sangat murah, sehingga hanya dinia Rp 125.000 per pohon. Sehingga pemilik kelapa lebih untuk menjual batang kelapa ketimbang produksi kelapa yang tidak seberapa keuntunganya.
Menurut Habibuw, bayangkan setiap harinya sekitar 200 pohon kelapa ditebang untuk dijadikan bahan baku peralatan rumah tangga, meja dan kursi, sebagianya di ekspor keluar negeri. Sedangkan setiap hektar tanaman kelapa berisi sekitar 150 pohon kelapa.
“Kalau hal ini tak disikapi, tentunya produksi kelapa akan terus menurun secara drastis, bahkan tidak menutup kemungkinan kedepan daerah ini tidak lagi dikenal dengan salah satu icon di Sulut yakni Nyiur Melambai,” ujar Habibuw, kepada beritamanado.com belum lama ini. (sanylendongan)
