
Catatan Michael F Umbas,
Eks Wakil Sekretaris TKN Prabowo-Gibran
SATU TAHUN memang bukan waktu panjang bagi sebuah pemerintahan, namun cukup untuk melihat arah dan kecepatan langkah. Tepat satu tahun silam, 20 Oktober 2024, pasangan Prabowo-Gibran resmi dikukuhkan memimpin republik ini. Elan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia menunjukkan satu hal yang nyata: negara ini tidak berjalan perlahan tetapi sedang berlari.
Dalam banyak hal, Prabowo menandai era baru kepemimpinan: tegas, berani, dan berorientasi hasil. Ia tidak banyak berjanji, ia mengerjakannya. Seperti yang ia ucapkan di awal masa jabatan, “Kita bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun karakter bangsa yang percaya diri.”
Setahun kemudian, kalimat itu berubah menjadi cermin dari arah pemerintahan yang nyata. Ketika berpidato di depan wisudawan Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) yang digawangi rektor Prof Sufmi Dasco Ahmad, Sabtu (18/10/2025), Presiden memberikan penegasan itu kembali.”Saya berani berdiri di hadapan seluruh rakyat Indonesia dengan percaya diri karena kita telah buktikan kepada seluruh bangsa dan seluruh dunia bahwa kita dapat menghasilkan apa yang kita janjikan kepada rakyat,” tandasnya.
Di tengah dunia yang bergejolak di mana harga pangan yang tinggi, ketegangan geopolitik, dan dampak perubahan iklim Indonesia tetap melaju stabil. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,12% pada kuartal II-2025, salah satu yang tertinggi di antara negara berkembang dalam G20. Inflasi terkendali di 2,65% (September 2025) dan defisit APBN dijaga disiplin di bawah 3% dari PDB.
Lebih dari sekadar angka, hasilnya terasa di lapangan. Tingkat kemiskinan turun ke 8,47% (Maret 2025) dan pengangguran turun menjadi 4,76% (Februari 2025) posisi terendah dalam dua dekade terakhir. Ini bukan capaian kebetulan, tetapi hasil dari strategi fiskal yang hati-hati dan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
Gaya kepemimpinan Prabowo kerap menunjukkan ciri khasnya, tidak reaktif terhadap kritik, tapi cepat dalam tindakan. Saat harga pangan naik, ia tidak sibuk berdebat di ruang publik, melainkan turun langsung memastikan distribusi aman dan stok mencukupi. Ketika ekonomi global melambat, ia tidak menunggu situasi membaik, melainkan meluncurkan langkah antisipatif paket stimulus ekonomi nasional.
Paket “8+4+5” yang diluncurkan pada September 2025 menjadi bukti pendekatan tanggap dan terukur. Program ini memadukan bantuan sosial dengan dorongan produktivitas. Pemerintah memperluas bantuan langsung tunai (BLT) bagi lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat, memperbesar program magang nasional hingga 80 ribu peserta kepada para tamatan baru atau fresh graduate yang langsung mendapat gaji sesuai UMP. Selain itu pemerintah mengaktifkan proyek padat karya bagi lebih dari 600 ribu pekerja di seluruh Indonesia. Bagi rakyat kecil, anak muda, ini bukan sekadar program, melainkan napas tambahan di tengah tekanan hidup.
Menariknya, para relawan dan jajaran aktivis pendukung Prabowo ikut turun tangan menggagas program Warga Peduli Warga. Sebuah gerakan sosial yang konkret menghimpun dan menyalurkan paket bantuan sembako di wilayah miskin dan berbagai komunitas ojek online.
Pada Oktober, pemerintah memperkuat langkah itu dengan tambahan stimulus berupa bantuan pangan 10 kilogram beras untuk jutaan rumah tangga, subsidi iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal seperti ojek daring dan kurir, serta insentif PPN 6% untuk tiket pesawat ekonomi demi menjaga pergerakan wisata domestik. Kebijakan ini menunjukkan keseimbangan antara keberanian fiskal dan keberpihakan sosial dua hal yang kerap sulit berjalan beriringan. “Semua ini wujud komitmen Presiden Prabowo yang ingin agar kebijakan pemerintah berdampak langsung bagi masyarakat bawah,” ujar Seskab RI, Teddy Indra Wijaya.
Salah satu program paling menonjol dalam tahun pertama adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejak Januari 2025, program ini telah menyalurkan lebih dari 1,4 miliar porsi makanan sehat kepada sekitar 30 juta penerima manfaat, terutama anak sekolah, balita, dan ibu hamil. Selain menekan masalah gizi, MBG juga menghidupkan ekonomi lokal. dari petani, nelayan, hingga usaha kecil penyedia bahan pangan. Sedikitnya ratusan ribu lapangan kerja baru lahir dari rantai pasok pangan nasional.
Memang, pelaksanaan di lapangan tidak selalu mulus, beberapa insiden keracunan massal sempat terjadi, meski proporsinya sangat kecil (kurang dari 0,001% dari total porsi). Namun dengan perbaikan sistem pengawasan dan dapur komunitas, program ini terus berkembang sebagai simbol kehadiran negara di meja rakyat.
Di bidang pendidikan, Sekolah Rakyat menjadi tonggak pemerataan akses. Lebih dari 100 sekolah telah beroperasi dan jumlahnya terus bertambah menuju target 165 sekolah pada akhir 2025.
Program digitalisasi pembelajaran juga berjalan bertahap melalui penyediaan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) ke ratusan ribu sekolah, langkah besar menuju pembelajaran interaktif dan merata di era digital.
Program Cek Kesehatan Gratis, yang telah dimanfaatkan lebih dari 25 juta warga, melengkapi wajah baru kebijakan sosial pemerintahan ini: sederhana, tapi berdampak luas.
Prabowo memahami bahwa kekuatan ekonomi Indonesia berada di lapisan bawah para pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pekerja informal. Karena itu, pemerintah memperkuat gerakan Koperasi Merah Putih, yang kini telah hadir di lebih dari 80 ribu desa dan kelurahan, menjual kebutuhan pokok dengan harga stabil, sekaligus menjadi pusat ekonomi lokal yang hidup kembali.
Di sektor ketenagakerjaan, keberpihakan itu juga nyata. Untuk pertama kalinya, pengemudi ojek online menerima Bonus Hari Raya (BHR) bentuk pengakuan simbolik tapi bermakna bagi jutaan pekerja ekonomi digital. Kenaikan upah minimum di banyak provinsi dan penyesuaian gaji hakim hingga 280% memperkuat pesan bahwa negara menghargai keringat dan keadilan dalam arti yang konkret.
Satu hal yang lama menjadi obsesi Prabowo kini mulai terwujud: kemandirian pangan. Produksi beras nasional mencapai 33 juta ton, tertinggi dalam sejarah modern Indonesia. Cadangan beras Bulog mencapai lebih dari 4 juta ton, rekor sepanjang masa. Harga gabah stabil di kisaran Rp 6.500 per kilogram, sementara kesejahteraan petani tercermin dalam kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di atas 120.
Untuk pertama kalinya, Indonesia mampu mengirim bantuan beras ke Palestina simbol bahwa negeri agraris ini tak hanya cukup untuk dirinya sendiri, tapi juga bisa berbagi kepada dunia. Langkah itu memperlihatkan wajah kemandirian yang bermartabat.
