Berita Utama

Selamat Jalan Tokoh Pers, Dr Sinyo Harry Sarundajang

Suatu waktu saya pernah dipanggilnya ke Kawangkoan. SHS kemudian mengajak masuk di perpustakaan pribadinya yang besar. Kami kemudian membahas soal media massa dan perkembangannya. Dia mengaku terus mengikuti perkembangan industri pers, karena salah satu passionnya adalah dunia jurnalistik. Bahkan dengan bangganya dia menunjukkan kartu pers kehormatan PWI. Kartu tersebut, kata dia, selalu dikantongi di dompetnya.

Passion terhadap pekerja pers pertama kali diminatinya ketika SHS sekolah di Eropa. Dan dia mengakui salah satu temannya adalah seorang wartawan koran besar yang pernah membongkar kasus yang terkenal dengan nama watergate.

Watergate adalah sebuah skandal politik di Amerika Serikat yang mengakibatkan mundurnya Presiden Richard Nixon di era tahun 1974.

Pergaulan berkelas internasional dan banyak relasi tokoh dan praktisi pers nasional dan global, tak menjadikan SHS meremehkan kalangan wartawan, sekalipun seorang wartawan yunior.

Dia lebih sering memposisikan sebagai nara sumber yang secara halus menyelipkan pelajaran-pelajaran penting bagaimana menjadi seorang pekerja pers yang handal, tanpa terlihat menggurui wartawan itu sendiri.

SHS juga sebagai news maker sangat memahami jika kemudian dia dikritik oleh pers. Meski begitu, jika tidak senang dengan tulisan pers terhadapnya, SHS secara terbuka mengakuinya dan secara blak-blakkan menyatakan ketidaksenangannya. Meski begitu dia sangat menyadari jika berita tersebut obyektif, dia tidak akan seterusnya antipati, apalagi memblack-list wartawan tersebut.

Saya ada kisah menggelitik ketika dia secara terang-terangan menyatakan protes atas berita yang dimuat. Saat itu SHS adalah Walikota Bitung. Kami pernah mengangkat berita soal “Amburadulnya Pemkot Bitung” waktu itu. Beritanya sampai berseri, hehe..

Saya dan seorang redaktur kemudian dipanggilnya untuk dia berikan klarifikasi. Namun sebelum memberi klarifikasi, SHS terlihat marah. Mukanya memerah jika sedang marah.

Di awal pembicaraan SHS menyebut redaktur saya telah ‘menyerangnya’ lewat berita. Kepada redaktur saya SHS menyatakan ada sekitar 15 berita yang ditulisnya telah menyerangnya. Itu kata dia ditelusuri dari kode penulis berita.

Saya waktu mendengarnya tertawa kecil. Dalam hatiku “Saya aman karena yang disemprot Pak Walikota adalah berita dengan kode redaktur saya.”

Tapi ketika melihat saya tertawa kecil, tiba-tiba sambil mengacungkan jarinya kepada saya SHS katakan “Ngana friko kita hitung-hitung ada 20 kali !.”

Ups, saya langsung terdiam. Giliran redaktur saya yang tersenyum. Namun umbar marah SHS selalu tidak panjang. Dia tetap mengakui dan memahami bahwa kritikan pers juga baik untuk kepemimpinanya.

Dan dia dengan cepat merespons kritikan-kritikan tersebut dengan cepat. Bahkan dalam beberapa kesempatan dia langsung menelpon anak buahnya untuk membenahi apa yang disoroti berita.

Kini sosok SHS telah tiada. Namun banyak karya dan dedikasi yang dipersembahkannya untuk bangsa dan negara. Dia tak hanya tokoh di bidang pemerintahan dan politik serta juru perdamaian. Namun SHS juga adalah tokoh pers sekaligus mentor di kalangan wartawan.

Selamat Jalan Tokoh Pers, Dr. Sinyo Harry Sarundajang.

Penulis: Friko Poli, wartawan senior

Baca juga:

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara