
Manado – Terkait pemadaman listrik yang terus dikeluhkan oleh sejumlah warga baik itu pemadaman bergilir maupun kekurangan pasokan listrik, Gubernur Sulawesi Utara DR KHP Sinyo Harry Sarundajang akhirnya angkat bicara.
Sarundajang mengatakan “Perlu diketahui kita malah sekarang kelebihan (pasokan listrik). Kalau tiga tahun yang lalu kita hanya dapat 80 mw sekarang kelebihan 80 mw”.
Kendati begitu Sarundajang menyatakan tidak berarti tidak ada pemadaman listrik sama sekali.
“Kalau ada pemadaman itu sektor, karna memang kita masih lebih banyak instalasi listrik kita sering ketimpa pohon, ditabrak kendaraan, sehingga 2-3 jam listrik padam. Itu masalah lokal. Sulut sudah bebas pemadaman.” Tuturnya.
Terkait permasalahan pasokan listrik di daerah kepulauan Ia menambahkan “Di pulau-pulau sedang kita galakkan sumber energi sinar matahari.” Tegasnya (jrp)

Sama no mimi,
Saya rasa tidak harus cuma investor yang boleh punya pengetahuan tentang bisnis energy. Saya bukan investor tapi cuma cuma rakyat biasa dan kuli di sala satu perusahan world top ten defense/military system – energy division. Divisi ini kebetuan sudah mendisain dan installed sekitar 170.000 MW in more than 90 country (Nuclear,GT,ST,CC,Hydro,GeoPP etc).
Untuk Sulut ada baiknya kalau mau lancar dan berada ‘semakin di depan’ harus perjuankan independensinya untuk listrik. Saya rasa bisa saja koq, dan disinilah revolusinya torang mulai. Contoh Tarakan dan Batam bisa jadi PT sendiri kenapa torang nda bisa usulkan? Dengan demikian operasionalnya lebih mudah dan terkontrol sesuai keadaan daerah.
Torang harus maju!
Sama deng Charlote bilang dang…
Ibarat MotoGP dang Sulut harus Yamaha+Honda.
“Semakin Di Depan” + “Satu HATI”
Happy Sunday,
Adano
PP Commision. Specialist
Paris-FR
Salut buat Adano dan Mimi…mudah2an pemerintah baca ini comment2…:)
mgkn nda akan parah sprti ini klo pemerintah sering membaca berita ato forum2 sperti ini…niscaya SULUT yg trg cintai bersama akan maju dan berkembang pesat…dan investasi di bidang industri akan berdatangan…ini semua utk kemakmuran torang samua…trg samua basudara, baku kase2 inga, deng baku2 bae….:)
Mungkin yang di maksud BEBAS PEMADAMAN LILIN, PETROMAX DAN BEBAS KEBAKARAN……………………….
Anda kalau punya experience and pelaku usaha di bidang ini harusnya juga ikut bertanggungjawab akan hal ini. Karena anda kelihatannya punya skill and knowledge di bidang ini…
Apakah anda pernah berinvestasi di coal, gas, hydro PP?…Kalau pernah saya salut dan kalau belum mungkin tidak perlu diperdebatkan di forum ini karena susah mau dijelaskan.
Saya hanya lah masyarakat biasa dan bukan orang PLN tapi saya merasa ikut bertanggung jawab di bidang ini. Tapi sayang di beberapa pemerintah kabupaten di Sulut tidak peka terhadap masalah ini, malahan di Gorontalo (hydro PP), Sulteng (hydro PP), Sultra (hydro PP) dan Sulsel (Gas dan hydro PP) yang pemerintahnya sangat mendukung investasi ini. Ijin disna hanya butuh 1 bulan tetapi di Sulut sudah hampir 2 tahun belum ada ijin yang diterbitkan, tidak ada kejelasan. salah dimana?…
Makanya saya bilang birokrasi di Sulut yang harus dirubah.
Sama dalam investasi bisnis tapi investasi project berbeda2?
How come?
Semakin baru teknologi semakin mahal investasinya???
Jadi maksud anda contohnya: 400MW PP teknologi baru untuk CC-Single Saft lebih mahal investasinya dari 400MW konventional hydroelectric PP???
Mungkin sto anda orang PLN mar saya yakin nda tahu PP.
Dan nda heran kalau bagini tu model ahli2 di Sulut teang saja listriknya megap-megap Byaar-Pet terus
Jangan berkiblat ke ide2 lama dengan segala yang captive pico-micro-cico dst..
Its sound likes teknologi “Listrik Masuk Desa”
Ini nda relevan lagi sama kemajuan dan kedepanya SULUT..
Torang itu pertumbuhan ekonominya diatas rata2 national untuk tahun belakangan ini harusnya harusnya Jakarta dan PLN memperhitungkan ini dan wakil rakyat sulut juga memperhatikan masalah ini (Bateriak di Jakarta jangan tegeh-tegeh ja kaseh kalau di luar jawa!)
OK
Masyarakat nda harus tanggung jawab ini karna malahan masyarakat dikorbankan deng tu Byaar-Pet.
PLN dan pemerintah yang tanggung jawab! Harus dua2nya.
so ngana memang tuh org PLN. ator bagus jo tuh listrik
tambahan: power output of range sbb: pico, micro, mini s/d 1MW, small 1 s/d10MW, medium 10s/d100MW dan large lebih dari 100MW…
Sulut punya potensi masing2 skala (power output range) untuk PLTA.
Pico, micro dan mini hydro (100MW).
Kalau ini dimanfaatkan dengan maksimal saya yakin untuk Sulut bisa surplus.
Berdasarkan kalkulasi yang ada, Sulut memiliki potensi hydro PP sebesar 100MW tidak termasuk existing hydro PP. Dengan demikian diharapkan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan masalah kelistrikan di Sulut karena tanggung jawab tersebut bukan hanya tanggung jawab PLN semata melainkan juga tanggungjawab pemerintah dan masyarakat.
Dan untuk Sulut masalah yang utama sebenarnya ada di birokrasi, seperti yang diuraikan di komentar sebelumnya.
Demikian info tambahan. Kiranya hal ini bisa diperhatikan dan di follow-up untuk kemajuan kita bersama.
@Adano;
Yang dimaksud SAMA dalam hal ini adalah Investasi Bisnis tapi untuk Investasi project nya jelas berbeda.
Setiap jenis PP yang memBEDAkan adalah di jenis teknologi yang digunakan. Semakin baru teknologi yang digunakan jelas semakin mahal investasi yang dibutuhkan. Tapi yang dihitung adalah efisiensi dari teknologi yang digunakan.
Masing2 teknologi memiliki efisiensi yang berbeda. Bisa dilihat dari Average Operating Cost (AOC) per kwh (Rp/kwh).
Untuk Indonesia AOC masing2 PP sbb:
1. PLTA (Hydro) 143,19
2. PLTU (Thermal) 389,48
3. PLTP (Goethermal) 579,74
4. PLTGU (Combined-cycle) 889,33
5. PLTD (Diesel) 1.631.36
6. PLTG (Gas Turbine) 1.999,15
Jadi dari hitungan diatas, PLTA adalah yang paling efisien. Makanya saya lebih setuju untuk pengembangan PLTA di Sulut. Selain efisien, PLTA bisa dibangun dengan skala kecil untuk mengakali nilai investasi yang besar.
Untuk PLTA bisa dibangun berdasarkan klasifikasi skala potensi yang ada, tapi untuk PLTU tidak bisa karena menyangkut efisiensi.
PLTA bisa dibangun dalam skala (power output range) pico, micro, mini (100). Dan Sulut punya potensi untuk masing2 skala tersebut. Sementara untuk PLTU sangat tidak efisien untuk membangun dibawah 50MW.
Makanya dalam percepatan pembangunan ketenagalistrikan di Sulut khususnya, PLTA dan renewable energy lainnya masih lebih unggul dibanding yang non-renewable.
Jadi pada intinya, setiap PP memiliki keunggulan masing tergantung mana yang paling efisien untuk dikembangkan.
terimakasih…
Merdeka Merdeka…
Listrik padam Terus…!!
pengen menjadi tuan rumah ivent internasional..? mimpi kali yah…
17 Agustus jam 11 siang, saat perayaan hari Kemerdekaan… Listrik menghilang di Minahasa..
Jelas beda2 dong nilai investasi untuk setiap jenis power plant, saya nda tahu
anda dapat ide dari mana atau ada presentasi dari siapa kalau PP itu sama semua
nilai investasinya??
Kalau untuk kemajuan SUlut, saya rekomendasikan seperti yang saya sebut di atas.
Ide PLTP, BIOMASS, PLTMH,PLTA itu terlalu kecil (captive) dan lebih mahal ongkosnya untuk segera menempatkan SUlut didepan, apalagi di tambah dengan rencana Bitung jadi Kapet.
FYI, untuk surplus listrik Sulut butuh sekitar 100MW dan dengan biomas atau PLTP
investasi per KW-nya sekitar $3000 anda bisa hitung sendiri berapa investasinya.
Kemudian bandingkan dengan type Coal conventional electric with DeSulf/DeNOx yang
sekitar $1100/KW atau kalau mau lebih ramah lingkungan lagi pakai CO2 scrubber
dengan cost sekitar $2000/KW.
Disamping itu lifetime dari renewable energy PP lebih pendek dari yang lain, dan
biaya overhaule maintenance yang sangat mahal.
Kita harus accelerate kalau mau ada di depan..kita ini developing country, segala
macam jenis pembangunan harus berpihak ke rakyat kalau mau developmentnya smooth
dan terarah.
Saya tidak menentang Ide-ide renewable itu yang sebetulnya lebih menguntungkan
negara kaya yang mendikte development country dengan me makai isu2 lingkungan.
Eropa, Amerika, dan Japan sebenarnya yang menumpuk polusi udara semenjak revolusi
industri mereka. Torang jangan mau di dikte untuk jumlah kecil CO/Nox/Sox kecil
yang kita sebar untuk keperluan belajar/penerangan rakyat miskin kita.
Belakangan ini di Eropa mereka menutup renewable energi PP dan berlomba
mengupgrade konvensional power plant dengan teknologi tinggi, ini jelas lebih
menguntungkan secara financial dan untuk keadaan saat ini.
So, Sulut harus sigap dang tanggap untuk masalah listrik ini, berdiri di depan!
Sebetulnya banyak orang Sulut yang mengerti tentang listrik dan mereka berbeda dengan yang menamakan diri ahli2 tapi cuma pikirkan bisnis semata.
Kalau perlu mereka datang degan model2 investasi termahal seperti Solarphotovoltaic atau Hydrogen fuel cell.
Ok, memang urusan bagi2 listrik itu bagianya Jakarta
Tapi pemda Sulut harus tegas dan terarah harus bisa memikirkan sendiri kedepannya, dan harus datang dan mengajukan ide2 cemerlang dan rasional untuk percepatan pembangunan.
Saya tahu ada beberapa coal PP yang lagi di bangun skarang dan itu sudah bagus, kecil-kecil memang tanggung tapi arahnya kesana menutupi keterbatasan listrik kita….
Salute
@lokongbanua: makanya bilang pa Bupati Mitra jangan tahan2 itu ijin investor mo bangun PLTMH di Ratahan spy daerah sana so nda mati2 lampu. So satu tahun ijin digantung tanpa penjelasan apapun dr Pmekab Mitra. Sklian tanya pa Kadis ESDM Mitra, apa depe alasan sampe ijin nda kaluar padahal investor so punya kajian Amdal (UKL/UPL)…
@Adano;
Pada intinya semua Powerplant baik yang renewable dan non renewable memang butuh nilai investasi yang sangat besar.
Kenapa yang renewable (PLTA, PLTP, Biomass dll) harus diprioritaskan di Sulut? karena beberapa keunggulan yang lebih dibanding yang non renewable, diantaranya:
1. sumber daya yang tersedia dan terus menerus di Sulut
2. biaya produksi yg sangat kecil
3. ramah lingkungan.
Atas dasar itu, seharusnya renewable energy di Sulut harus bisa di maksimalkan, dengan demikian maka produksi listrik di Sulut bisa surplus tanpa non renewable energy.
Kenapa terjadi perlambatan pertumbuhan energy?…(bukan hanya di Sulut tapi di seluruh Indonesia)
1. Dukungan pemerintah dibidang ketenagalistrikan sangat rendah.
2. Proses perijinan yang berbelit-belit sehingga banyak investor batal berinvestasi.
3. Kurangnya tenaga2 terampil di bidang ini.
4. Kurangnya dukungan dari pembiayaan lokal.
Untuk di Sulut, yang menjadi kendala utama adalah proses perijinan dan iklim investasi yang tidak pasti dan tidak terjamin. Padahal yang dibutuhkan investor adalah kepastian dan jaminan usaha.
Salah satu contoh nyata saat ini adalah seperti yang dijelaskan di atas tadi. Dimana Investor diundang datang ke kab. Mitra untuk berivestasi untuk membangun PLTMH di Poniki. Akan tetapi, setelah Investor menyelesaikan F/S serta memiliki rekomendasi untuk dokumen Amdal (UKL/UPL) dari tahun 2010, Ijin Prinsip dari Pemkab tidak pernah diterbitkan sampai saat ini tanpa alasan yang jelas.
Seandainya ijin disetujui dari tahun 2010, maka PLTMH tersebut diperkirakan mulai beroperasi awal tahun 2012.
Hal-hal yang demikian yang menghambat dan memperlambat pemenuhan ketenagalistrikan, khususnya di Sulut.
Semoga daerah2 lain di Sulut tidak mencontoh apa yang terjadi di Mitra.
sementara ba ketik ini komentar dalam kegelapan malam tanpa listrik……bebas pemadaman??? i dont think so….
nanti stow 2020 kang…
Boss sulut harus mengkaji sebai-baiknya mengenai kebutuan vital yang satu ini.
Berdayakan orang-orang sulut yang mengerti tentang power plant dan jangan cuma tergantung dengan apa yang di buat di jelaskan oleh PLN.
Kalau bicara listrik orang pasti berfikir PLN lah ahlihnya, jadi io-io jo padorang?
Membuat Sulut bisa mendapat listrik tercukupi memang tidak segampang yang di bayangkan kalau dilihat dari PP(power-plant) yang ada dan di andalkan itu semua high cost investment powerplant seperti PLTP, PLTA, PLTM, bandingkan dengan coal fired steam yang bisa stengah harga.
Kita tahu dipilihnya PLTP,PLTA itu karna memang berdasarkan ketersediaan sumberdaya yang ada di Sulut.
Tapi kalau dari awalnya orientasi SULUT sudah dirancang mau menjadi yang terdepan di In-Tim sangat disayangkan kenapa kita nda dari awal mencoba alernative lain yang lebih handal dengan fuel melimpah(coal) di ndonesia yaitu PLTU.
Bikin unit besar diatas 150MW dan persiapkan untuk upgrade kapan saja kalau perlu berlipat dari kebutuhan listrik sekarang, kalau surplus lakukan interkoneksi export itu listrik ke propinsi lain.
Dengan sendirinya kalau investor melihat listrik berkecukupan begitu saya yakin Sulut banjir dengan industri.
Jangan andalkan itu PLTP dan ngapain kita harus sibuk dengan renewable energi yang costnya nda sebanding deng torang pe keadaan?
Gatal eh ta pe tangan ja lia tu listrik sulut byar-pet trus.
Ini mgkn salah pemahaman dari isi berita dan torang sebagai pembaca.. Kalo kita Lia yg trg pe gub mo tekankan bahwa daya di Sulut sudah surplus alias ta lebe… Masalah pemadaman adalah bukan masalah daya lagi tapi faktor2 teknis dan nonteknis dari PLN Sandiri.. Artinya kalo ada pemadaman salah dari PLN.. Semoga jo seiring banyak perubahan di tubuh PLN taon2 kedepan so nda ada lagi mati lampu, yg PLN Mustika sadar adalah kerugian kami sebagai konsumen adalah sangat2 besar.. Untung PLN produsen listrik tunggal, ya torang mo beling apa..
…EHHH PAKE KATU PLTLilin..
..ROMANTIS TRUS TORANG DI MANADO KANG ….HAHAH
…PAKE LILIN TRUS KATU NOH TORANG…
…PAKE JO PLTN DI MANADO..
pak gub..sibuk beking iven internasional…mar dia korbankan rakyat sendiri menderita kena jadwal pemadaman listrik…1 hari sampe 3 x…durasi 2-3 jam…apakah gub pe pernyataan ini cuma utk pencitraan diri sendiri ato krn beliau pro rakyat?? klo pro rakyat jgn cuma dgr bawahan ato pln….lia jo status masyarakat sulut di media sosial.dan media elektronik.kebanyakan mengeluh dgn pemadaman listrik pilih kasih…bgm visi misi sulut di era global ini..apa sesuai?? bgm perekonomian rakyat mo berkembang?? padahal salah satu penunjang utama kemajuan adalah suplai listrik terus menerus..profesional saja pak…jgn comment tanpa melihat keberadaan faktual di masyarakat…untung aja periode bpk somo habis…klo blum pasti bpk tapilih ulang krn pencitraan…tp sebenarnya yg menderita rakyat pada umumnya…
SHS….so talalu banya ————.!!!.. mana tu penambahan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Moinit deng tu Penambahan dua Mesin Turbin di PLTPB Lahendong…mo atasi tu Krisis listrik…di daratan Minahasa….??…. ba cirita slalu event Internasional…mar tuangali jo…??…enter Manado sbg Ibukota Provinsi …masih jaga mati2 lampu alias Pemadaman bergilir…hi..hi..hi..hi….
Drg kwa mo tau apa rakyat p susah, jgnkn mati lampu sdgkn jln so p macet paling le drg bilang nda ja macet! Trg ada stenga mati macet di jln napa drg dgn arogannya seenak perut jalan ngebut pake sirene kong trg musti mangalah baminggir kase jalan pa drg. Coba kwa ngoni merakyat… Rendah hati dooongg
Mari jo torang adakan REVOLUSI LISTRIK atas PLN!
deng boleh lei noh torang bekeng REVOLUSI terhadap Gubernur SULUT supaya beliau tahu banyak torang pe daerah2 di SULUT masih ja kena PEMADAMAN LISTRIK tiap hari lei.
Bpk Gub kita kebanyakan urus event internasional yg dpt prioritas tdk ada pemadaman,,demikian juga rumah dinas beliau tdk pernah mengalami pemadaman,,kalau Gub ngomong demikian saya pikir Gub kita ini tinggal di planet lain kali,,,ketika semua mengalami pemadaman beliau komentar Sulut bebas pemadaman, menyedihkan, menyesatkan dan menyakiti hati rakyat,,,,,
he.he.he.he Pak Sarundayang menyalahkan banyak pohon yang tumbang mungkin stow yang beliau maksud pohon Beringiiiiin yang bertumbangan diKotamanado dan Daerah Kabupaten Kota lainnya diSulut. he.he.he.he.he
Pak Gubernur yg terhormat…ada baiknya bpk jgn cuma dengar laporan bawahan ato PLN…nda betul samua dorang..ato bisa saja pak Gub so tau mar pura2 nentau…coba pak gub menetap satu hari saja di kelurahan bumi nyiur lk.5 dan sebagian kandep..nti pak gub rasa akang satu hari sampe 3 kali mati listrik…khusus jam 6 sore sampe jam 8 malam (2 jam saja) padam…setiap hari selama 3 minggu terakhir ini siklusnya sama 3 x sehari padam…komplain ke pln drg bilang jadwal pemadaman…qt kerja di wil teling..dr pagi s.d sore nda pernah mati listrik..tp di rumah istri telp so 2 x mati…plg ke rumah sore tgu sadki jam 6 mati lg nti jd jam 8 mlm…klo bpk mmg gub pro rakyat coba selidiki dan buktikan tu pln pe kurang ngajar..ato kembali bpk so tau mar pura2 nentau…!!!
Pln tetap yg salah bukang gub
‘Ta kira cuma dulu yang ada ABS, sekarang kote masi ada. Hai kaum bawahan, jang tako kwa bicara tu kenyataan di lapangan, jabatan hanya sementara.
Bos… Cuma di bumber stou bebas pemadaman, coba pindah tampa tinggal jo… Pi tinggal di malalayang kwa. Baru tadi malam dari jam 7 malam mati lampu nti manyala jam 1 amper siang! pemadaman…
Memang begini jadinya kalau statemen yang dikeluarkan hanya berdasarkan laporan.
Mungkin Bumi Beringin tidak pernah mati lampu/pemadaman. Tapi coba ke daerah lain di manado, tadi malam saja “mungkin pas berita ini diturunkan” kami sedang mengalami listrik yg mati mendadak. Dua hari yang lalu juga listriknya tewas. Pokoknya hampir tiap hari. Masak ini dibilang bebas pemadaman???? Kalau manado ada mengalami ini, saya yakin daerah lain lebih parah lagi.
Mohon sering2 cek keadaan factualnya, supaya tidak ada kesan para pejabat kita hanya bisa asbun. Malu sama pembaca dr daerah lain.
Ini namanya kesalahan…
Coba di jelaskan bae2 brapa tu kebutuhan listrik real, brapa tu angka pertumbuhan kebutuhan dan brapa kapasitas terpasang..
kalau di sulut kebutuhan 80MW taruh jo unit terpasang 100MW itu bukan surplus/bebas pemadaman boss….
Coba kalau ada 1unit p.plant yang besar (30MW) shut down? kan tekor 10MW itu bisa 4 kecamatan padam boss. Blum tu laeng2 seperti gangguan jaringan distribusi dll…
Kira no tu investor bodok2 bareken….
Bukan sadiki yang refuse ba invest gara2 ni listrik ini.
“Tiga infrastruktur utama yang akan membuat sukses pembangunan: Trasportasi/Jalan etc, Telekom, LISTRIK”
Mudahan gub yang brikut memperhatikan hal penting ini.
Rasa — da baca!!! ——-
Ini Pak Gub SHS kase pembohongan publik, ——-. Komentar beliau kontra deng kenyataan di SULUT. Banyak daerah-daerah yang da kana mati lampu. ————-!!!
————-
sudah seminggu lebih listrik tidak normal. hari ini saja di minahasa tenggara so 3x mati..kita pe PC..UPS..Modem so KO .. boleh pemprov mo ganti akang dank?
pak gub jang cuma asal bicar ja cek dulu di lapangan jng cma cek pa bos PLN. sbagian minsel hmpis setiap hari padam smpai lebih dari 5 jam dan blm 1hr 1-2x padam….ini kelebihan atau …?