
LIKUPANG – Harus diakui banyak sekali potensi wisata di daerah Likupang.
Tak heran jika pemerintah provinsi berhasil meyakinkan pemerintah pusat sehingga Likupang ditetapkan sebagai destinasi super prioritas berskala nasional yaitu sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.
Seni, budaya, kuliner dan pemandangan di semua desa yang ada di daerah ini punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Satu diantaranya hutan mangrove (bakau) yang membentang di pesisir wilayah Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur.
Sejak akhir 2019, sebuah areal di Jaga 3, desa ini dijadikan lokasi pariwisata dengan memanfaatkan alokasi dana desa.
Menariknya di lokasi wisata yang baru ini, terdapat banyak spot selfie karena areal wisatanya sangat panjang.
Selain itu, jika di lokasi mangrove lainnya bangunannya dari tembok di Wisata Mangrove Desa Sarawet menggunakan bambu.
“Yang unik dari lokasi wisata Mangrove Desa Sarawet adalah jembatan panjang atau jalan panjang di sini semuanya menggunakan bambu. Jadi kalau foto-foto benar-benar terasa berada di alam bebas,” ungkap Julio Pelealu, tokoh pemuda Sarawet, Senin (27/01/2020).
Anda yang ingin berkunjung ke lokasi ini untuk saat ini, bisa melapor dulu ke pemerintah setempat. Untuk diketahui, saat ini belum dipunggut tiket masuk karena lokasi Wisata Mangrove ini masih akan dilengkapi sarana dan prasarana penunjang.
Tapi jangan sedih dulu, Anda yang hobi fotografi dijamin bisa mendapatkan foto ataupun video yang instagenic jika berkunjung dalam waktu dekat ini. Jangan lupa menjaga kebersihan lokasi ini yah sebab jika sudah kotor atau penuh sampah plastik maka keindahan lokasi ini pasti akan terganggu.
Terpisah, Hukum Tua Desa Sarawet yang belum lama terpilih secara langsung, Herry Tongkukut, mengatakan lokasi wisata ini memang sudah banyak pengunjung walaupun belum dibuka secara resmi.
Bahkan ada warga yang kebetulan lewat menerobos masuk demi mendapatkan foto unik di ‘jembatan bambu’ di lokasi hutan bakau ini.
Pemerintah desa bahkan harus menutup sementara lokasi masuk, karena lokasi ini masih akan dilengkapi fasilitas lainnya seperti pondok untuk tempat berteduh dan lokasi jualan warga lokal, toilet dan air bersih, tempat sampah, portal masuk dan fasilitas lainnya seperti menambah wahana untuk spot foto alias lokasi untuk selfie-selfie.
“Lokasi wisata Mangrove Desa Sarawet masih akan dikembangkan. Yang pasti tujuan dari hadirnya lokasi ini untuk membuka lapangan pekerjaan bagi warga lokal yang ada di desa ini dan menunjang program KEK Pariwisata yang sudah ditetapkan pemerintah pusat di Likupang,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Harian Komunitas Likupang Raya (KLiR) Jelly Maramis menyatakan apresiasi atas inovasi yang dibuat Desa Sarawet.
“Bisa membuat lokasi wisata dengan pemanfaatan dana desa itu luar biasa. Kami memberi apresiasi dan berharap bisa ada pengelolaan yang baik sehingga lokasi pariwisata Mangrove Sarawet ini bisa eksis dalam jangka panjang,” ujar tokoh masyarakat Minahasa Utara ini.
Penggunaan bambu memang sangat unik dan berbeda daya tarik dengan lokasi wisata mangrove lainnya.
Menurut Maramis pengelolaan yang terstruktur akan membuat lokasi ini bertahan lama adapun penggunaan bambu bisa disiasati dengan perputaran dana pendapatan dari wisatawan yang masuk.
“Artinya banyak wisatawan yang datang banyak pemasukan dari tiket masuk misalnya, sebagaimana normalnya orang berkunjung ke tempat wisata. Nah, dana dari tiket masuk itu bisa dikelola untuk tenaga kerja yang menjaga dan membersihkan lokasi dan juga untuk peremajaan atau perbaikan bambu jika nantinya sudah lapuk atau sudah waktunya untuk diganti yang baru,” sarannya.
Terpisah Sekretaris Komunitas Likupang Raya (KLiR) Ericfanno Rondonuwu, menyatakan, optimis lokasi wisata Mangrove Sarawet akan membawa banyak dampak positif bagi warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung.
“Yang boleh jualan di lokasi ini hanya warga lokal berKTP Sarawet. Nah, otomatis ada lapangan pekerjaan. Bahkan jika daerah wisata ini sudah ramai bisa dikelola parkirannya hingga hadirnya rumah kopi, rumah makan yang menjual produk lokal desa misalnya pisang goreng dan lainnya.. dan tentunya semua itu harus ditata rapi supaya tidak merusak keindahan alami tempat wisata ini,” katanya.
(dit)
Baca juga:
- Sejarah Likupang Raya – Kabupaten Minahasa Utara yang Kini Viral Setelah Ditetapkan KEK Likupang (Bag-1/bersambung)
- Pulau Komang di Likupang Mirip Tanah Lot di Bali
- Ini 5 Pantai Rekreasi di Likupang yang Ada Kulinernya
- Pulau Napomanu Sarawet di Likupang Cocok untuk Petualang Foto, Mancing, Snorkling Hingga Diving
- Steven Kandouw Optimis KEK Likupang Hasilkan Rp22,5 Triliun Devisa
- Vanda Sarundajang Tinjau Progres KEK Likupang, Puji Kepemimpinan Olly Dondokambey-Steven Kandouw
