Berita Utama

Musik Tradiaional Siap Meriahkan Minahasa Night 2026 di Jakarta

Musik Tradiaional Siap Meriahkan Minahasa Night 2026 di Jakarta

Penulis: Frangki Wullur | Jakarta

Kekayaan seni dan budaya Sulawesi Utara kembali dibawa ke panggung nasional. Dua agenda pagelaran musik tradisional yang akan berlangsung di Jakarta pada November 2026.

ADVERTISEMENT

Hal itu menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya Minahasa di tengah perkembangan zaman.

Ketua Kerukunan Kawanua Minahasa Tenggara (KK Mitra), Dr. Jan Samuel Maringka, S.H., M.H., menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab komunitas seni, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah dan dunia usaha.

Menurutnya, kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang harus dijaga secara bersama-sama agar tidak tergerus oleh perkembangan masyarakat modern.

“Komitmen menjaga budaya, menjaga kekuatan bangsa harus dilakukan bersama-sama. Karena itu, perlu dukungan pemerintah dan kelompok usaha untuk melestarikan berbagai budaya khas yang ada di Indonesia,” kata Jan Maringka.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, agenda pertama bertajuk Minahasa Night Culture & Charity akan digelar pada 21–22 November 2026 di Resto Rarampa, Jakarta.

Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi Kolintang Jaga Minahasa bersama sejumlah artis, yakni Randy Lapian, Dirly Idol, dan Putri Bilanova.

Perpaduan musik tradisional kolintang dengan penampilan para artis diharapkan menjadi daya tarik sekaligus ruang apresiasi terhadap seni budaya Minahasa.

Tidak hanya berorientasi pada pertunjukan hiburan, kegiatan tersebut juga mengusung semangat kepedulian sosial melalui agenda charity.

Selanjutnya, pada 27–28 November 2026, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan Pagelaran Musik Tradisional di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta.

Agenda yang diinisiasi Presidium PNI ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi musik tradisional agar semakin dikenal masyarakat, khususnya generasi muda.

Dua agenda tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa seni tradisional daerah memiliki potensi untuk berkembang dan mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Lebih dari sekadar pertunjukan, pagelaran ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan budaya, memperkuat identitas masyarakat Minahasa, serta memperkenalkan kekayaan seni Sulawesi Utara kepada khalayak nasional.

Pesan yang ingin ditegaskan adalah pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang warisan leluhur.

Dibutuhkan dukungan nyata, kolaborasi, dan keberlanjutan agar seni tradisional tetap hidup serta menjadi bagian penting dari identitas bangsa.