Salib-Nya diperparah ketika kita melakukan korupsi yang merugikan kepentingan orang-orang lain, ketika hak-hak asasi manusia diingkari, ketika keadilan dan perdamaian dikesampingkan, ketika martabat manusia dilecehkan, diskriminasi, intoleransi, kekerasan, terorisme terhadap sesama kasat mata, serta alam ciptaan dan lingkungan dirusak.
Kita berterima kasih kepada para wanita seperti Maria, Ibu-Nya, Maria Magdalena dan para wanita lain yang setia mengikuti Dia, sampai ke makam-Nya, dan diganjari dengan anugerah istimewa menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan Yesus. Kita bersyukur atas solidaritas Yosef dari Arimatea yang turut meringankan panggulan salib-Nya, dan yang bersama para wanita menurunkan Dia dari salib dan memakamkan-Nya. Kita bergembira atas sikap dan pengakuan Nikodemus, seorang Farisi, yang menerima dan mengakui Yesus.
Salib-Nya adalah solidaritas Yesus terdalam akan kerapuhan dan kelemahan manusiawi kita. “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:7-8). Dosa menjadikan kita budak-budak setan, salib Yesus membawa pengampunan dan menjadikan kita orang-orang yang merdeka dan ditebus.
Terima kasih Yesus, sebab dengan salib suci-Mu Engkau menebus dunia. Salib itu, tempat Yesus bergantung, kita sembah dan hormati pada hari ini.
(***/Frangki Wullur)
