
Penulis: Frangki Wullur I Langowan, Minahasa
Perayaan Tri Hari suci dalam Gereja Katolik dalam lingkaran Paskah di Paroki St. Petrus Langowan menjadi adalah momentum iman dan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri atas karya keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Tri Hari Suci itu sendiri terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung dan Vigili Paskah, dimana ketiganya adalah satu rangkaian perayaan litugis.
Itu sebabnya perayaan tersebut dimulai pada Kamis Putih, namun di akhir Misa tidak ada doa dan lagu penutup.

Demikian juga dengan Jumat Agung, perayaannya tidak didahului dengan doa dan lagu pembukaan serta pada bagian akhir juga tidak ada doa dan lagu penutup.
Pada Vigili Paskah yang diawali dengan upacara Cahaya juga tidak ada doa dan lagu pembukaan.
Nanti pada bagian akhir barulah ada doa dan lagu penutup, sehingga pada momentum itu seluruh rangkaian perayaan Tri Hari Suci diakhiri.

Bagi sejumlah tokoh umat Katolik Paroki St. Petrus Langowan, perayaan Tri Hari Suci itu sendiri adalah sebuah momentum iman dan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri.
Adrie Wurangian, salah satu tokoh umat yang beberapa kali terlibat langsung dalam perayaan Tri Hari Suci pada beberapa tahun lalu mengakui bahwa secara pribadi, perayaan Kamis Putih, Jumat Agung hingga Vigili Paskah, sangat dirasakan berkat Tuhan bagi dirinya.
“Perayaan Tri Hari Suci bagi umat Katolik adalah kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu setiap tahun. Bukan untuk perayaan rutinitas tahunan, akan tetapi sebagai kesempatan untuk mengenang dan mendalami misteri penyelamatan Allah bagi umat manusia,” ungkapnya.
