Lainnya

Renungan Jumat Agung: Dimanakah Saya Berada Ketika Yesus Disalibkan?

Pekan Suci, yang dimulai dengan Hari Minggu Palem dan berpuncak pada Perayaan Paskah, secara intensif menghadirkan kembali kepada kita umat kristiani pengalaman Yesus yakni sengsara dan drama penyaliban-Nya ketika para penguasa politik dan agama pada waktu itu menangkap dan mengadili Dia dalam suatu pengadilan penuh kebencian dan rekayasa, yang menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya.

Bagaikan seorang penjahat Ia dipaku pada kayu salib hina dan mereka membiarkan Dia menghembuskan nafas terakhir bagaikan seorang yang kalah perang. Di manakah anda dan saya berada?

Ya, lebih dari 2000 tahun lalu anda dan saya tidak berada di sana di tempat Yesus disalibkan! Yang ada di sana adalah para serdadu dan algojo yang menyalibkan Yesus serta para pengejek dan peleceh-Nya.

Ironisnya kebanyakan orang yang telah berjalan mengikuti Dia, yang telah menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya, yang telah mendengarkan Firman-Nya, yang telah berbicara dengan Dia, dan para murid yang telah diberi kepercayaan untuk ambil

bagian dalam kehidupan dan tugas perutusan-Nya tidak ada bersama Dia dalam sengsara dan penyaliban. Yudas, yang mengkhianati dia, seakan menyalibkan-Nya dari jauh.

Petrus, Yakobus, Matius, Thomas dan semua murid lain meninggalkan Dia dan bersembunyi di karena takut akan mengalami nasib yang sama dengan Yesus.

Para murid lebih memilih tidur daripada ikut berdoa ketika Yesus berpeluh darah di taman Getsemani.

Hanya Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, yang kemudian muncul dan berdiri di bawah salib-Nya bersama dengan Maria, Ibu Yesus. Salib Yesus tidak berhenti di Kalvari. Dunia kita memunculkan kalvari-kalvari baru.

Pertanyaan sama berlaku untuk kita, yakni di manakah kita berada ketika Yesus pada dewasa ini disalibkan?

Ketika Yesus dewasa ini disalibkan apakah kita berada di situ sebagai serdadu, algojo pelaku penyaliban atau pun sebagai pengejek serta peleceh?  

Apakah kita, seperti Petrus menyangkal Dia? Apakah kita seperti kebanyakan orang hanya mengikuti Dia karena Ia menyembuhkan orang sakit, memperbanyak roti dan berbicara hebat sebagai seorang guru?

Apakah kita berpikiran dan berlaku seperti para murid, yang berambisi politis untuk menduduki posisi-posisi penting dalam kerajaan-Nya?

Apakah kita seperti murid-murid tidur, malas tahu, ketika Ia bergumul dalam derita, sambil berpeluh darah, di taman Getsemani? Apakah kita seperti Pilatus yang mencuci tangannya, mengaku tidak bersalah dan menyerahkan Yesus di tangan para penguasa Yahudi dan berkata “perbuatlah menurut kehendakmu?” Pilatus bersembunyi di balik posisinya dengan berdalih bahwa itu bukan urusannya.

Pilatus tidak berada di sana karena takut menghadapi konsekuensi-konsekuensi tindakannya sendiri.

Apakah kita akan berkata seperti Kain: aku bukan penjaga saudaraku! Di manakah anda dan saya berada ketika Yesus disalibkan dewasa ini?

Barangkali kita pun dewasa ini masih terus menerus ikut menyalibkan Yesus! Kita masih takut untuk mengikuti ajaran-Nya secara konsekuen.

Yesus tetap disalibkan ketika tindakan dan perbuatan kita tidak mencerminkan amanat cintakasih-Nya, ketika kita mengingkari hakekat panggilan kristiani kita masing-masing.

Salib Yesus menjadi lebih berat ketika demi gengsi, kedudukan, jabatan atau kepentingan pribadi kita takut menyebut diri pengikut-Nya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara