Tahuna-Aksi unjuk rasa ratusan massa di Depot Pertamina Tahuna, yang memprotes kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Jenis Bensin dan Minyak Tanah (MT), yang terjadi Kamis (14/3) berubah rusuh.
Akibatnya, dua pengunjuk-rasa terjungkal akibat tertembus tima panas aparat kepolisian melakukan pengamanan terhadap massa yang mulai bertindak anarkhis. Massa semakin marah ketika upaya mereka menemui Kepala Depot mendapat hadangan aparat kepolisian.
Aksi bentrok antara masa dengan aparat kepolisian tak terhindarkan lagi, hingga akhirnya petugas melepaskan beberapa kali tembakan peringatan, namun tak mambuat nyali para pengunjuk rasa kendor. Pengunjuk rasa bahkan kian nekad menerobos pagar pembatas areal Depot Pertamina Tahuna.
Namun upaya tegas 150 personil Polres yang diterjunkan berhasil menguasai keadaan dan membubarkan para pengunjuk-rasa. Seluruh peristiwa itu adalah skenario simulasi pengamanan polisi terhadap aksi unjuk rasa.
Kapolres Sangihe, AKBP Sumitro SH, yang memimpin langsung simulasi pengamanan terhadap aksi unjuk rasa di tempat vital, kepada wartawan mengatakan apa yang barusan terjadi di Depot Pertamina Tahuna itu merupakan latihan aparat kepolisian dalam menghadapi aksi unjuk rasa di berbagai sarana vital milik Negara.
“Ini merupakan simulasi atau latihan aparat kepolisian dalam menangani aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh warga di berbagai sarana vital milik Negara,” ujar Kapolres.
Dikatakan Kapolres, pengendalian massa pada setiap aksi unjuk rasa seperti itu, setiap petugas yang diterjunkan ke lapangan harus dibekali dengan berbagai latihan pengendalian masa, sehingga ketika berada di lapangan para petugas sudah memiliki kesiapan penuh. (gun)
