Manado – Banyaknya organisasi kepemudaan di Sulut yang terdata di Kesbangpol tetapi tidak jelas apa kegiatan dan sumbangsihnya kepada masyarakat mendapat tanggapan beberapa pemimpin organisasi kepemudaan.
Rieneke Anggaseng. Juru Bicara Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan(Fokusmaker) Sulut menegaskan, organisasinya sama sekali tidak bergantung pada dana APBD untuk menjalankan program kerjanya.
“Dalam menjalankan program kerja, Fokusmaker Sulut tidak berharap dan menunggu adanya dana dari APBD. Kalau mau tunggu APBD cair, kapan program bisa jalan,” ungkapnya.
Menurutnya, selama ini Fokusmaker baru menerima satu kali suntikan dana dari APBD. “Selebihnya sampai sekarang sumber pembiayaan kami diambil dari iuran anggota Fokusmaker mulai dari tingkat nasional sampai daerah, termasuk suntikan bantuan dana dari sponsor, yang keseluruhan penggunaannya tiap tahun kami laporkan secara rutin ke pusat,” terangnya.
Bertolak dari misi menegakan kembali empat pilar bangsa yang mulai luntur termasuk menguatkan pemahaman masyarakat tentang peran empat pilar bangsa membentuk ideologi, Anggaseng memastikan semua program kerja Fokusmaker Sulut selalu diaktualisasikan di tengah masyarakat.
“Melalui ceramah, sosialisasi, dan diskusi kami coba kuatkan pemahaman masyarakat tentang empat pilar bangsa,” jelasnya.
Dalam bidang ekonomi, peran Fokusmaker juga ditunjukan dengan menurunkan para anggotanya yang merupakan mahasiswa dengan wawasan keilmuan di bidang ekonomi untuk membekali masyarakat tentang pengetahuan managemen.
“Misalnya, masyarakat yang berdagang di pasar segar kami bekali dengan pengetahuan managemen keuangan dan dagang,” tuturnya. Apalagi menurutnya, salah satu ancaman terhadap ideologi bangsa terlihat dari makin menjamurnya perusahaan retail yang mulai menggeser fungsi pasar tradisional. “Makanya masyarakat pedagang tradisional harus dikuatkan dengan kemampuan manajerial dagang dan keuangan yang cukup,” jelasnya.
Di bidang budaya, Fokusmaker juga turun langsung mengangkat kembali warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulut yang mulai tergerus jaman.
“Kami angkat kembali budaya lokal ke masyarakat agar tetap diingat dan tergerus perubahan,” ujarnya.
Sedangkan dalam bidang sosial, Fokusmaker turun berpatner dengan komunitas pemuda yang menangani anak jalanan dan dan lain sebagainya untuk memberikan bantuan dana.
“Sehingga kehadiran kami benar-benar dirasakan masyarakat, terutama misi kami bisa terwujud melalui beragam program langsung ke masyarakat,” tandasnya. (oke)
