IESR menilai bahwa pemerintah perlu mendorong para pemilik aset captive ini untuk dapat memanfaatkan energi terbarukan langsung di lokasinya.
Opsi lainnya, tentu dapat diperluas hingga penggunaan listrik dari jaringan ketenagalistrikan milik PLN.
Sementara itu, Deon Arinaldo, Manajer Transformasi Sistem Energi IESR, menilai bahwa selain energi surya dan angin yang bersifat variabel, potensi panas bumi Indonesia yang mencapai hingga 2.160 GW dapat
menjadi alternatif untuk pasokan listrik dan panas industri.
“Kebutuhan industri tertentu akan listrik dan energi panas rendah karbon dapat dipenuhi melalui pemanfaatan panas bumi, terutama untuk industri yang membutuhkan panas di bawah 200 derajat Celsius. Selain itu, pemanfaatan langsung panas bumi masih sangat minim sehingga menjadi peluang
besar. Indonesia juga memiliki pengalaman panjang di sektor minyak dan gas, yang seharusnya dapat mempermudah pengembangan panas bumi,” ungkap Deon.
(***/srisurya)
