Berita Utama

Petugas Damkar Minut: Jangan Bayar Kami Nek, Kami Sudah Digaji

Petugas Damkar Minut: Jangan Bayar Kami Nek, Kami Sudah Digaji
Petugas Damkar Minut berhasil mengevakuasi kucing yang jatuh di sumur. Foto: Facebook Oto Merah

Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara

Peristiwa kecil di Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara (Minut), berubah menjadi cerita menyentuh.

Bukan karena besarnya operasi penyelamatan, tetapi karena cara petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Minut menjalankan tugasnya.

Seekor kucing milik seorang nenek dilaporkan jatuh ke dalam sumur.

Situasi itu membuat pemiliknya panik dan berharap ada yang bisa membantu mengangkat hewan peliharaannya.

Laporan kemudian sampai kepada petugas Damkar Minut.

Tim bergerak.

Setibanya di lokasi, petugas tidak datang dengan pendekatan humanis.

Mereka menyiapkan perlengkapan keselamatan lengkap dan menjalankan proses evakuasi dengan prosedur.

Salah seorang petugas kemudian turun ke dalam sumur untuk menjangkau kucing yang terjebak.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya seekor kucing.

Namun bagi sang nenek, hewan itu jelas memiliki arti yang lebih besar.

Beberapa saat kemudian, upaya itu berhasil.

Kucing berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.

Suasana yang semula tegang, menjadi lega.

Sang nenek tampak sangat bersyukur.

Sebagai bentuk terima kasih, ia mencoba memberikan sejumlah uang kepada petugas yang telah membantu.

Tetapi yang terjadi berikutnya justru menjadi bagian paling menyentuh dari peristiwa tersebut.

Petugas menolak.

Meski sang nenek terus berusaha memberikan uang itu, petugas tetap tidak menerimanya.

Jawaban yang disampaikan sederhana, tetapi meninggalkan kesan.

“Jangan bayar pa torang oma. Torang so digaji. (Jangan bayar kami nek, kami sudah digaji). Kalau nenek bayar torang mo dapa marah (Kalau nenek bayar, nanti kami yang dimarahi),” tegas seorang petugas.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan pesan yang kuat tentang bagaimana pelayanan publik seharusnya dijalankan.

Di banyak tempat, Dinas Pemadam Kebakaran sering hanya dikenal saat menghadapi kobaran api.

Padahal dalam praktiknya, tugas mereka juga mencakup penyelamatan, evakuasi, dan bantuan kemanusiaan untuk situasi yang bagi warga sangat berarti.

Di Desa Kolongan hari itu, yang diselamatkan memang seekor kucing.

Namun yang terlihat lebih besar adalah cara para petugas menunjukkan bahwa tugas tidak selalu diukur dari besar kecilnya objek yang ditolong.

Mereka datang, bekerja sesuai prosedur, menyelesaikan tugas, lalu menolak menerima imbalan.

Cerita petugas Damkar ini, diunggah dalam Facebook “Oto Merah”, akun milik Dinas Damkar dan Penyelamatan Minut.

Semangat pelayanan seperti itu sejalan dengan pesan yang beberapa kali disampaikan Bupati Joune Ganda kepada jajaran pelayanan publik di Tanah Tonsea.

Dalam sejumlah kesempatan, Joune Ganda mendorong agar petugas pemadam kebakaran tidak hanya dipahami sebagai petugas yang hadir saat terjadi kebakaran, tetapi juga bagian dari layanan cepat yang hadir membantu masyarakat dalam berbagai kondisi yang masih bisa ditangani.

Pesan yang terus ditekankan adalah agar petugas bekerja dengan hati, melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, dan tidak membatasi pengabdian hanya pada satu jenis kejadian.

“Selama masih bisa menolong, selama masih bisa membantu, dan selama tindakan itu membawa manfaat bagi masyarakat, serta berada dalam koridor tugas pelayanan, petugas damkar harus hadir,” pesan Joune Ganda.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara