Berita Utama

Mengapa 14 Delegasi Uni Eropa Memilih Minahasa Utara? Joune Ganda Blak-blakan

Mengapa 14 Delegasi Uni Eropa Memilih Minahasa Utara? Joune Ganda Blak-blakan
Bupati Joune Ganda memberikan keterangan terkait hasil pembahasan dengan Delegasi Uni Eropa. Foto: Ist

Penulis: Alfrits Semen

Pertemuan Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, dengan 14 delegasi Uni Eropa ternyata bukan sekadar agenda seremonial.

Di balik jamuan makan malam yang berlangsung di Hotel Paradise, Desa Maen, Likupang Timur, Rabu (15/7/2026), dibahas program jangka panjang yang dinilai dapat mengubah masa depan masyarakat pesisir dan sektor pariwisata Minahasa Utara.

Joune Ganda bilang, rombongan yang hadir terdiri dari Duta Besar Uni Eropa beserta duta besar dari 14 negara Eropa.

Awalnya, penyelenggara hanya mengonfirmasi kehadiran tiga duta besar.

Namun, jumlah itu bertambah menjadi 14 setelah para diplomat menelusuri rekam jejak Minahasa Utara di berbagai forum internasional.

“Mereka melihat Minahasa Utara sangat aktif dalam kegiatan internasional. Itu yang membuat mereka tertarik datang langsung ke daerah ini,” kata Joune Ganda, Kamis (16/7/2026).

Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada program yang digagas Uni Eropa dan didukung pendanaan KfW Development Bank Jerman.

Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan kepulauan melalui penguatan ekonomi nelayan, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Menurut Joune Ganda, program tersebut tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem laut, termasuk perlindungan terumbu karang dan sumber daya perikanan.

“Ini adalah program pemberdayaan masyarakat pesisir yang sangat besar. Fokusnya meningkatkan kualitas hidup nelayan, tetapi tetap menjaga kelestarian lingkungan sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Uni Eropa menilai Minahasa Utara memiliki potensi besar karena selama ini dikenal aktif dalam isu toleransi, pembangunan berkelanjutan, dan aksi perubahan iklim.

Dalam kesempatan itu, Joune Ganda juga memperkenalkan berbagai capaian Minahasa Utara di tingkat internasional, termasuk keberhasilan menjadi salah satu dari lima finalis United Cities and Local Governments (UCLG) Peace Prize.

Penghargaan bergengsi bagi daerah yang dinilai berhasil menjaga perdamaian, toleransi, dan keberagaman.

“Pengakuan internasional ini mendapat apresiasi dari para delegasi. Mereka melihat Minahasa Utara mampu menjaga toleransi antarumat beragama dan serius menjalankan Climate Action Plan,” katanya.

Sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulawesi Utara, Joune Ganda menilai program tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi nelayan di Minahasa Utara.

Ia menyebut program itu dirancang untuk jangka waktu yang panjang, bahkan dapat berlangsung antara lima hingga sepuluh tahun dengan dukungan negara-negara Eropa yang memiliki perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan.

Joune Ganda juga mengungkapkan bahwa Uni Eropa telah menerapkan program serupa di Maladewa. Setelah berjalan sekitar satu dekade, hasilnya dinilai sangat positif.

“Kehidupan masyarakat nelayan meningkat, sektor pariwisata berkembang pesat, terumbu karang menjadi lebih sehat, populasi ikan bertambah, dan wisata bahari semakin diminati. Itu yang ingin mereka dorong juga di Minahasa Utara,” jelasnya.

Ia optimistis kolaborasi dengan Uni Eropa akan membuka peluang besar bagi Minahasa Utara, bukan hanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, tetapi juga memperkuat posisi daerah sebagai destinasi wisata bahari berkelas internasional yang tetap menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian lingkungan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara