Salah satu konsekuensi yang akan terjadi adalah curah hujan, banjir dan kekeringan dapat terjadi pada satu tempat yang sama. Apakah rancangan tata kota harus diperbaiki atau diubah agar dapat fleksibel dalam menghadapi tantangan masa depan, bagaimana cara rencana adaptasi yg dapat meminimalkan efek terhadap ekonomi lokal dan kehidupan manusia.
Kota pantai diseluruh dunia terancam dampak dari perubahan iklim dari kenaikan air laut dan cuaca ekstream. Apakah yg perlu dipertimbangkan perencana tata kota untuk menjadikan kota-kota ini menjadi kota yang lebih tanguh.
Apa pilihan adaptasi yangg paling tepat? Yang jelas, jawabannya adalah soal biaya, potensi dan dukungan social poltik dari pembuat kebijakan sehingga dapat membantu menyusun prioritas metode adaptasi contohnya persiapan mengatasi banjir, restorasi lahan basah, perbaikan sistem drainase, dan pengelolaan pantai.
Sedangkan contoh dalam bidang lain para petani bersama pemerintah menganti padi biasa dengan padi bibit unggul. Adaptasi adalah proses belajar, kita semua perlu memperbaiki strategi adaptasi, kita harus mengurangi gas-gas rumah kaca, dan beradaptasi tehadap perubahan iklim.
Kita harus mulai dari sekarang bersama-sama, libatkan pembuat kebijakan, tingkatkan pemahaman tentang perubahan iklim, ciptakan kesadaran dalam masarakat untuk adapatasi. Lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan dari pada menanggung dampak perubahan iklim tanpa perlindungan apapun. Ingat kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya untuk anak cucu kita.
Ayo bertindak! Kalau ngak sekarang kapan lagi?
Penulis: Sofian Widiyanto
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Minahasa Utara
